Happy reading 💐
Sepulang dari sekolah, Arkan langsung mengarahkan langkahnya menuju ruang kerja pribadi Atalaric. Ia masih mengingat jelas permintaan sang ayah tadi pagi-permintaan yang sempat membuatnya bertanya-tanya sepanjang hari. Meski lelah, Arkan menyempatkan diri, menunjukkan betapa pentingnya momen itu baginya.
Begitu sampai di depan pintu kayu kokoh ruang kerja, Arkan berhenti sejenak. Ia menarik napas perlahan lalu mengetuk pintu dengan dua ketukan ringan namun jelas. Tak butuh waktu lama, terdengar suara sahutan dari dalam, menyuruhnya masuk. Arkan membuka pintu dan melangkah masuk dengan hati-hati.
Di dalam ruangan, aroma kopi dan wangi kayu tua langsung menyambutnya. Cahaya matahari menerobos melalui celah tirai, menyoroti sosok Atalaric yang duduk tenang di salah satu sofa berlapis kulit di ruangan itu. Posisi duduknya tegak, namun ekspresi wajahnya terlihat lembut, seolah memang sedang menantikan kehadiran Arkan.
"Duduklah di dekat daddy, nak" ucap Atalaric lembut, seraya menepuk sisi sofa di sebelahnya.
Tanpa keraguan, Arkan melangkah mendekat dan duduk di tempat yang ditunjukkan. Senyum kecil muncul di wajahnya, berusaha tetap tenang meski rasa penasaran masih menggelayut dalam pikirannya.
"Daddy, jadi daddy mau bahas apa tentang Kanza?" tanyanya pelan, membuka obrolan dengan suara yang terdengar hati-hati namun penuh perhatian.
Atalaric menatap Arkan dalam diam. Tatapannya tajam, namun penuh pertimbangan, seolah sedang memilih kata dengan hati-hati agar tak melukai hati anak yang kini duduk di sisinya.
"Arkan" panggil Atalaric akhirnya, lembut tapi sarat keseriusan.
"Iya, daddy?" sahut Arkan cepat.
"Sebenarnya daddy menyadari sesuatu yang... janggal dari Kanza. Setiap kali daddy mencoba mendekat atau sekedar mengajak bicara, Kanza selalu memilih untuk menjauh. Bukan secara langsung, tapi cukup terasa." Atalaric menatap lekat wajah anak itu. "apakah Kanza memiliki... luka masa lalu? Terutama yang berkaitan dengan orang tua kandung kalian?"
Nada suara Atalaric pelan, penuh kehati-hatian. Ia tahu betul pertanyaan itu bisa menyentuh titik paling rapuh dalam hati Arkan.
Arkan terdiam. Kepalanya menunduk, menatap pangkuannya yang kini terasa hampa. Pertanyaan itu menampar kesadarannya-ternyata, ia sendiri tak tahu banyak tentang masa lalu Kanza. Terutama soal hubungan Kanza dengan kedua orang tua kandung mereka.
Hubungan mereka dulu tak sedekat sekarang. Bahkan, bisa dibilang cukup jauh... sebelum tragedi itu datang dan mengubah segalanya.
Matanya mulai memanas, tapi ia berusaha menahan. Ia mendongak perlahan, menatap Atalaric, lalu menggeleng kecil.
"Maaf, daddy... tapi Arkan nggak tau banyak tentang hubungan Kanza sama bunda dan Papa" ucap Arkan pelan, merasa bersalah karena tidak bisa memberi jawaban.
"Yang Arkan tau... dulu Kanza pernah kabur dari rumah. Abis itu..."
Kalimatnya terhenti. Napasnya tersendat. Kepalanya menunduk lagi.
Atalaric mengernyit. "lalu setelah itu apa, nak? Coba katakan dengan jujur pada daddy."
"Abis itu mereka semua kecelakaan..."
Itu hanya bergema di dalam kepalanya. Mulutnya tetap tertutup. Ucapan itu tak pernah berhasil keluar. Lidahnya kelu. Hatinya belum siap. Ada luka yang masih menganga dan belum kering, bahkan setelah sekian lama.
"Nak?" panggil Atalaric lembut, melihat Arkan yang tiba-tiba terdiam lama. "hei, kau melamun. Apakah itu terlalu berat untuk diceritakan?"
Arkan hanya mengangguk kecil. Perlahan. Hampir tak terlihat. Tapi cukup bagi Atalaric untuk mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
General FictionArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
