Hari Minggu pun tiba—hari di mana keluarga Moonstone merencanakan untuk menghabiskan waktu libur mereka dengan pergi ke mall. Awalnya, salah satu anggota keluarga, Shaka, enggan ikut. Ia lebih memilih menghabiskan hari di mansion, berdiam diri di ruang kerjanya yang dipenuhi buku. Namun, karena terus didesak dan bahkan ditarik paksa oleh si sulung, akhirnya mau tak mau Shaka ikut serta, meski dengan wajah enggan dan langkah berat.
Zavier tak mempermasalahkan itu. Baginya, yang terpenting adalah kebersamaan keluarga Moonstone. Tidak ada yang boleh menolak liburan ini. Titik.
Di dalam mobil, Shaka hanya mendengus pelan, memandangi gedung-gedung pencakar langit di luar jendela dengan ekspresi datar. Sementara itu, adik-adik mereka yang lain tampak asyik bercanda dan tertawa, saling melemparkan gurauan satu sama lain. Zavier hanya tersenyum, sesekali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memastikan para adiknya baik-baik saja, sembari tetap fokus menyetir.
Sementara itu, Atalaric tidak berada di mobil yang sama. Ia di mobil lain yang disetiri oleh Carlos, dengan posisi mobil tersebut berada tepat di depan kendaraan yang dikendarai si sulung Moonstone.
Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di tempat tujuan. Setibanya di mall, mereka turun dari mobil secara bergantian. Tak lama kemudian, Atalaric menyusul dan menghampiri anak-anaknya yang lain. Dengan langkah santai, mereka bertujuh—ditemani oleh Carlos, mulai memasuki area mall yang luas.
Begitu memasuki pintu utama, mata Arkanza langsung berbinar. Keduanya tampak takjub melihat besarnya mall yang berdiri megah di hadapan mereka. Selain luas, desain interior mall itu juga begitu indah dan menawan. Tak heran jika Arkan dan Kanza begitu antusias—mengingat ini pertama kalinya mereka baru menginjakkan kaki di tempat ini. Kegembiraan terpancar jelas di wajah mereka, seolah tak sabar untuk menjelajahi setiap sudutnya.
"Daddy, kak, mall-nya besar banget. Kayanya kalau Arkan ngelamun sebentar bakal jadi anak ilang deh di sini" celetuk Arkan sambil tersenyum, menatap sekeliling dengan mata berbinar.
"Bicaramu ini ada-ada saja. Kalau kau melamun, kami akan menyadarkan mu dan kami juga tak akan meninggalkan mu sehingga kau tidak akan pernah menjadi anak hilang di sini" balas Zavier, menanggapi ucapan konyol adiknya dengan tenang.
Mendengar ucapan Zavier tadi, Arkan hanya cengengesan sembari menggaruk-garuk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Tingkahnya itu membuat suasana semakin cair dan hangat.
"Arkan, Kanza, kayanya kalian baru pertama kali ya dateng ke sini?" tanya Navarro sambil memandangi si kembar secara bergantian. Pertanyaan itu langsung dijawab dengan anggukan serempak dari keduanya.
"Benarkah? Kalau begitu, kalian bisa menentukan ingin pergi ke mana dulu. Daddy dan kakak-kakakmu yang lain menyerahkan semua keputusannya pada kalian berdua" ujar Atalaric, memberikan kebebasan penuh kepada si kembar untuk memilih tempat tujuan pertama mereka di dalam mall itu.
"Ke kita berdua?" gumam Kanza, menoleh ke arah kembarannya. Kedua anak itu saling berpandangan sejenak, seolah berkomunikasi tanpa kata-kata, sebelum akhirnya Kanza kembali bersuara.
"Ar, lo aja yang pilih" celetuknya, menyuruh Arkan untuk menentukan pilihan.
Arkan menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi polos dan mata membulat heran. "ko Arkan? Kenapa nggak Kanza aja?" tanyanya bingung, tidak mengerti kenapa beban pilihan jatuh padanya.
"Gapapa, lo aja yang pilih. Gue bingung soalnya mau pergi ke mana dulu" balas Kanza sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya menyapu seluruh penjuru mall yang tampak begitu luas dan megah. Ia benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana.
"Apalagi Arkan, Kanza!" timpal Arkan cepat, lalu ia menoleh ke arah sosok dominan dalam keluarga mereka. "daddy, mendingan daddy aja deh yang putusin hal itu. Soalnya Arkan sama Kanza bingung mau mulai dari mana," ucapnya dengan polos, membuat Atalaric mengangguk memahami. Ia mengerti betul kebingungan yang dirasakan oleh kedua anak itu—berada di tempat baru dengan begitu banyak pilihan memang bisa membuat siapa saja kewalahan dan kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
General FictionArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
