ARKANZA || 48

905 50 5
                                        

Happy reading 🌺

"Akhirnya Kanza tidur juga" Arkan menghela napas lega setelah menyadari bahwa adiknya telah terlelap. Saat ini, ia sedang berada di kamar Kanza. Posisi adiknya itu kini terbaring di atas kasur dengan kepala bersandar di pahanya.

Arkan sontak menghentikan gerakan tangannya yang semula tengah mengusap lembut rambut Kanza. Dengan hati-hati, ia memindahkan kepala adiknya ke atas bantal, lalu mulai membereskan krim pereda kemerahan yang tadi digunakan untuk mengolesi bagian tubuh Kanza yang masih tampak memerah.

Setelah memastikan krim tersimpan rapi di tempat semula, Arkan perlahan menyelimuti tubuh adiknya hingga sebatas dada. Ia menatap Kanza sebentar, memastikan napas adiknya teratur dan wajahnya tampak tenang, sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Langkah Arkan membawanya menuju lift untuk turun ke lantai satu. Namun, sebelum sempat masuk ke dalam lift, sosok Navarro muncul, membuat Arkan menghentikan langkahnya.

"Dek, Kanza-nya mana?" tanya Navarro.

"Kanza ada di dalem kamar, kak. Lagi tidur" jawab Arkan.

"Tapi Kanza-nya udah diobatin belum?"

Arkan mengangguk singkat sambil tersenyum kecil. "udah kok, kak. Emangnya kenapa?"

"Enggak, dek, bukan apa-apa. Kakak cuma nanya aja. Soalnya, kakak khawatir dia nggak ngurus lukanya. Kalau nggak diobatin, kan bisa tambah parah" ujar Navarro jujur, mengutarakan kekhawatirannya.

Ucapan Navarro itu membuat Arkan terdiam. Sebenarnya, kekhawatiran kakaknya itu tidak salah. Kenyataannya, jika tadi Arkan tidak mengingatkan Kanza untuk mengobati luka kemerahan di kulitnya, bocah itu mungkin tidak akan melakukannya sama sekali. Bahkan setelah diingatkan pun, Kanza tetap tidak segera mengobati dirinya sendiri hingga akhirnya Arkan turun tangan.

Kanza sempat menolak, tetapi akhirnya pasrah saat Arkan mengoleskan krim ke kulitnya. Sentuhan lembut itu perlahan membuat rasa kantuk menyerang. Tanpa sadar, Kanza merebahkan tubuhnya di kasur dan menjadikan paha kembarannya sebagai bantalan kepala. Arkan sama sekali tidak keberatan; sebaliknya, ia justru merasa hangat karena adiknya menunjukkan sisi manjanya. Refleks, tangannya bergerak mengusap rambut Kanza dengan lembut hingga suara dengkuran halus terdengar.

Mengingat momen itu membuat Arkan tersenyum tipis tanpa sadar. Navarro yang sedari tadi memperhatikan, mengernyitkan dahi karena heran melihat adiknya melamun dengan ekspresi seperti itu. Ia pun menepuk pundak Arkan pelan, membuat bocah itu tersentak kecil dan segera sadar dari lamunannya.

"Dek, kamu kenapa bengong? Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Navarro.

Arkan sedikit gelagapan, lalu menggeleng cepat dengan ekspresi malu. Tangan kanannya refleks menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "hehe, Arkan nggak apa-apa kok, kak" jawabnya gugup.

"Kamu yakin?" tanya Navarro memastikan.

"Iya, kak. Arkan nggak apa-apa. Yaudah, kalau gitu Arkan mau ke bawah dulu" ucapnya cepat. Setelah itu, Arkan melangkah masuk ke dalam lift sementara Navarro keluar dari sana.

Begitu pintu lift tertutup sepenuhnya, Navarro menghela napas panjang. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar Kanza untuk memastikan kondisi bocah itu.

•••

Suasana sore itu terasa begitu hangat dan lembut, seolah menyelimuti seluruh ruangan dengan ketenangan yang menenangkan. Di tengah keheningan itu, seorang bocah perlahan terbangun dari tidur siangnya. Begitu kedua matanya terbuka, ia tampak mengubah posisinya menjadi duduk, kemudian menatap sekeliling dengan pandangan yang masih buram. Kedua tangannya refleks menggaruk tengkuknya, sementara wajah bantalnya masih jelas terlihat dan rambutnya tampak acak-acakan, membuatnya terlihat menggemaskan dalam keadaan setengah sadar.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang