ARKANZA || 63

686 56 14
                                        

Beberapa hari setelah kepulangan Arkan dari rumah sakit, pagi itu keluarga Moonstone berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Seluruh anggota keluarga hadir tanpa terkecuali, menempati kursi masing-masing dalam keheningan yang terasa tidak biasa.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada sapaan ringan ataupun tawa kecil yang biasanya mengisi pagi mereka.

Yang terdengar hanyalah denting halus peralatan makan yang sesekali bersentuhan—itu pun samar, hampir tenggelam oleh suasana yang terlalu hening.

Namun diam yang menyelimuti meja itu bukan karena mereka tengah fokus menikmati makanan.

Melainkan karena perhatian mereka tertuju pada satu orang.

Kanza.

Di tempat duduknya, Kanza duduk tegap dengan posisi yang nyaris tidak berubah sejak beberapa menit yang lalu. Wajahnya datar, ekspresinya sulit ditebak, seolah tidak ada satu pun emosi yang benar-benar muncul ke permukaan. Tatapannya lurus ke depan—kosong, tidak benar-benar berfokus pada apa pun yang ada di hadapannya. Sendok yang berada di tangannya tetap diam, sarapan di piringnya masih utuh, tak tersentuh. Ia benar-benar diam, terlalu diam, seolah secara perlahan menjauh dari lingkungan di sekitarnya tanpa benar-benar pergi.

Beberapa dari mereka sempat memanggil namanya, mencoba menarik kesadarannya kembali.

"Kanza."

Tidak ada respons.

Panggilan itu diulang, kali ini lebih jelas, sedikit ditegaskan—namun hasilnya tetap sama. Seolah suara mereka tidak mampu menembus jarak tak kasat mata yang membungkus Kanza dalam lamunannya, menjadikannya berada di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun di ruangan itu.

Hingga akhirnya, Arkan menunduk sebentar, menatap adiknya, sebelum perlahan mengulurkan tangannya. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam salah satu tangan Kanza dengan pelan dan lembut. Jemarinya memberikan tekanan kecil—nyaris tak terasa, namun cukup untuk menunjukkan kehadirannya.

Dan sentuhan sederhana itu, seakan menembus tembok sunyi di sekitarnya, menimbulkan reaksi kecil yang sejak tadi tak kunjung muncul.

Perlahan—Kanza berkedip. Satu kali. Lambat. Seolah kesadarannya baru saja kembali dari tempat yang jauh, tempat yang tidak benar-benar dapat dijangkau, bahkan mungkin tidak sepenuhnya ia pahami sendiri. Tatapannya yang semula lurus dan kosong mulai bergeser, turun ke arah tangan yang kini berada dalam genggaman Arkan. Ia memperhatikannya sesaat, diam, tanpa perubahan ekspresi yang berarti.

Tidak ada keterkejutan. Tidak ada penolakan. Hanya jeda singkat yang terasa lebih panjang dari seharusnya—seolah ia sedang menyesuaikan dirinya kembali dengan keadaan di sekitarnya.

Lalu, tanpa mengatakan apa pun, Kanza menarik tangannya perlahan. Gerakannya tenang, tidak tergesa, dan tidak pula menunjukkan keinginan untuk menjauh. Sebaliknya, itu lebih menyerupai seseorang yang tengah mengambil kembali kendali atas dirinya sendiri, secara perlahan dan tanpa ingin menarik perhatian.

Setelah itu, ia mengangkat sendoknya. Gerakan sederhana yang kini terasa lebih terarah. Ia mulai makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa—seolah keheningan yang sebelumnya menyelimutinya hanyalah jeda singkat yang tidak perlu dijelaskan, meskipun jejaknya masih tertinggal samar di antara mereka yang menyaksikannya.

Di hari berikutnya, langkah kaki Kanza dan Navarro terdengar menyusuri lantai bawah mansion dengan ritme yang selaras. Keduanya berjalan berdampingan menuju lift dengan tempo yang sama—tidak terburu-buru, namun juga tidak melambat.

Navarro sesekali melontarkan kalimat ringan, mencoba membuka percakapan dengan topik-topik sederhana yang biasa ia gunakan untuk mencairkan suasana. Nada suaranya santai, tidak memaksa, namun cukup jelas menunjukkan upaya untuk menjangkau adiknya.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang