ARKANZA || 49

916 48 5
                                        

Happy reading 💙

"Arkan, ada apa, nak? Mengapa kau terlihat seperti ingin menangis?" tanya Atalaric dengan nada khawatir. Suaranya lembut, namun penuh tekanan emosional yang tertahan. Arkan hanya menggeleng pelan, berusaha keras menahan diri agar air matanya tidak jatuh. Ia tidak ingin membuat sang ayah khawatir.

Namun, pertahanannya tak bertahan lama. Saat tangan besar Atalaric terulur dan mengusap lembut rambutnya, semua emosi yang sejak tadi Arkan tahan runtuh begitu saja. Air mata itu akhirnya menetes, kemudian mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Tubuhnya bergetar hebat, sementara sesegukan kecil mulai terdengar di antara isakannya.

Atalaric spontan menarik tubuh Arkan ke dalam pelukannya. Satu tangan menopang kepala sang anak, sedangkan tangan lainnya mengusap punggungnya dengan ritme perlahan—penuh kasih dan perlindungan.

"Daddy…" lirih Arkan di tengah sesegukan, suaranya nyaris tak terdengar. Atalaric menunduk sedikit, bibirnya mendekat ke telinga Arkan, berusaha menenangkan.

"Tenanglah, daddy bersamamu" ujarnya dengan suara rendah, menahan gejolak emosi yang sebenarnya mulai membakar dadanya. Karena ia tahu, orang yang sudah membuat Arkan menangis seperti ini adalah Arya. Ia mungkin tidak mengetahui detail apa yang telah diucapkan pria itu, namun instingnya mengatakan sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Dan untuk itu, Atalaric tidak akan tinggal diam.

"Daddy, Arkan mau pulang… Arkan nggak mau di sini lagi… ayo, daddy, kita pulang…" pinta Arkan masih dalam pelukan, suaranya gemetar di sela tangisnya. Mendengar itu, Atalaric mengangguk kecil, jemarinya masih mengusap lembut rambut anaknya.

"Baiklah, kita akan kembali ke mansion. Tapi, tunggu sebentar. Daddy akan segera kembali. Kau, tetaplah di sini" ucapnya dengan nada tegas namun tetap lembut.

Selesai berkata begitu, Atalaric keluar dari mobil dengan wajah datar, nyaris tanpa ekspresi—sebuah tanda yang justru membuat Arkan semakin cemas. Ia tahu betul, wajah tanpa ekspresi seperti itu bukan tanda ketenangan, melainkan tanda bahwa Atalaric sedang menahan amarah yang luar biasa.

"Daddy mau pergi ke mana? Daddy, tunggu—" seru Arkan panik, buru-buru hendak membuka pintu. Namun, suara Carlos terdengar lebih dulu, menghentikannya.

"Sebaiknya anda tetap di sini saja, tuan muda." ujar Carlos tenang, menatap Arkan dari kursi kemudi dengan sorot mata tajam namun penuh hormat.

"Tapi Om, daddy—"

"Anda tidak perlu khawatir. Tuan Atalaric tidak akan melakukan hal buruk pada paman, tuan muda. Sekarang, akan lebih baik kalau anda menenangkan diri, supaya saat kita sudah sampai di mansion nanti, tuan muda yang lainnya—terkhususnya tuan muda Kanza—tidak merasa curiga bahwa anda baru saja menangis" potong Carlos lembut, namun dengan nada yang sarat makna.

Ucapan itu membuat Arkan terdiam. Ia menunduk sejenak, merenungkan kata-kata sang kepercayaan keluarga. Carlos benar—ia harus menenangkan diri agar tidak menimbulkan kecurigaan, terutama dari Kanza. Namun, di sisi lain, pikirannya kini dihantui oleh kekhawatiran baru.

"Kira-kira, daddy bakal ngomong apa ya ke Om Arya?" batin Arkan cemas. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, mencoba menata napas yang masih tersengal. Meski telah berusaha menenangkan diri, ada sesuatu di dalam hatinya yang masih bergetar hebat—antara rasa takut, bersalah, dan khawatir akan apa yang akan terjadi setelah ini.

•••

"Apa yang kau ucapkan pada anakku hingga membuatnya menangis?" suara Atalaric datar, nyaris tanpa intonasi, tetapi cukup untuk membuat udara sekitarnya terasa menegang. Ada amarah yang ditahan di balik ketenangan itu—amarah yang nyaris tak terdengar, namun begitu nyata terasa.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang