ARKANZA || 19

1.5K 68 4
                                        

Pagi hari di sekolah, suasana kelas dipenuhi
suara ramai jelang ulangan--untuk para siswa yang
kemarin sempat mendapatkan nilai di bawah tujuh lima.

Beberapa dari murid yang akan mengikuti
ujian itu ada yang terlihat masih mempersiapkan
dirinya untuk bisa mengerjakan soal soal yang akan
diberikan nanti dan ada pula yang tetap tenang alias santai,
meski di dalam hati mereka gelisah karena takut mengalami
kegagalan untuk yang kedua kalinya.

Dan salah satu murid itu adalah Kanza. Dari
luar, Kanza memang nampak sangat tenang, santai
hingga terkesan cuek. Padahal di dalam dirinya ia tengah
dirundung gelisah. Tidak akan ada yang pernah menyangka
kalau ternyata seorang Kanza bisa segugup dan segelisah ini
dalam ujian--termasuk diri Kanza sendiri.

Kanza sempat melamun sebentar--sebelum
Arkan menyentuh tangannya sehingga membuat
anak itu tersentak kaget dan tersadar kalau ternyata
sejak tadi itu saudara kembarnya tengah mengajaknya
berbincang dengan tatapan penuh kelembutan.

Kening Arkan sedikit mengkerut menyadari
keterkejutan Kanza. "Kanza kenapa kaget? Kanza
dari tadi ngelamun terus ya pas Arkan ngomong?" tanya
Arkan sedikit memiringkan kepalanya.

"Ha?" entah mengapa Kanza jadi tidak fokus.

"Kanza... Kanza kenapa? Kanza gugup ya karena
ulangannya mau di mulai?" tanya Arkan tersenyum
hangat. Sebelum Kanza menjawab, suara Arkan kembali
terdengar.

"Kanza gak usah gugup ataupun khawatir,
karena semuanya pasti bakalan baik-baik aja ko.
Nanti kalau ulangan nya udah di mulai, Kanza cukup
fokus, tenang, terus kerjain soalnya dari yang termudah
dulu, oke?"

"Kanza, Kanza percaya kan sama kemampuan
Kanza sendiri? kalau Kanza percaya sama diri Kanza
sendiri, Arkan yakin kalau Kanza itu bisa dapet nilai yang
bagus di ulangan kedua ini." ucapnya panjang lebar agar si
bungsu semangat sekaligus tenang.

"Kanza, semangat!" pekik Arkan menyemangati
Kanza untuk terakhir kalinya sebelum ia menyadari
kehadiran sang guru. Kanza hanya diam membisu, tidak
bereaksi apapun karena ia merasa lidahnya terasa sangat
kaku.

Nyatanya, bukan hanya Arkan saja yang telah
memberikan semangat kepadanya. Tapi, seluruh
keluarganya yang lain juga turut memberikan semangat
saat mereka sedang berkumpul di meja makan pagi tadi.

Mendengar kata semangat dari mereka
membuat perasaan Kanza hangat dan senang.
Namun ia juga sedikit tertekan karena Kanza merasa
dengan mereka menyemangati nya, dirinya merasa seperti
sedang diberikan tekanan dan tuntutan untuk bisa berhasil
dalam ujian ini.

Itu sungguh menyiksanya. Perasaan takut
mengecewakan kembali muncul di dalam diri
anak itu. Kalau sudah seperti ini, Kanza jadi membenci
dirinya sendiri. Ia benci dengan dirinya yang mudah takut
mengecewakan orang-orang disekelilingnya. Beban yang ada
di pundaknya kini kembali bertambah.

"Diem!" Kanza membentak dirinya sendiri di
dalam hati, seolah memarahi pikirannya yang mulai
liar dan berisik.

Anak itu mendengus samar, memfokuskan dirinya
ke seorang guru--mengabaikan semua suara-suara yang
begitu berisik memenuhi pikirannya.

"Selamat pagi semuanya! Bagaimana
kabar kalian? semoga baik ya?... Nah, untuk
mempersingkat waktu, ayo kita mulai aja ujian
matematika nya bagi kalian yang kemarin sempat
mendapatkan nilai di bawah tujuh lima" ucap sang guru
menatap murid-muridnya dengan senyuman singkat.

"Bu?" salah satu murid mengangkat tangan nya.

"Iya, ada apa?" sahut sang guru.

"Maaf bu, untuk murid yang gak ikut ulangan
lagi gimana ya? Apa kita harus ngerjain latihan soal?
Atau kita cuma diem aja?"

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang