Anne membuka pintu apartemen diikuti oleh dua orang anak laki-laki berusia sebelas tahun. Kaki berbalut high heels itu membawa langkahnya menyusuri ruang tengah menuju arah dapur, Anne melempar shoulder bag tanpa sudi melihat kemana tas itu mendarat. Napasnya masih terdengar tak karuan, dia berdiri dengan berkacak pinggang sembari menetralkan napasnya, Anne membuka lemari es untuk meminum air dingin--berharap bahwa air itu dapat menenangkan otak dan hatinya yang mendidih.
Sandiego Jeffrey Desimone.
Santiago Jasper Desimone.
Nama jeffrey adalah nama dari Ayahnya, sedangkan jasper adalah nama tengah kakeknya--Alessandro.
Bayangkan saja dalam satu semester Anne sudah empat kali dipanggil pihak sekolah untuk menghadap guru guna mempertanggung jawabkan kenakalan-kenakalan anak-anaknya. Anne memejamkan matanya merasa gusar. Tuhan ... salahkah permintaannya dulu saat mengandung anak-anak Jeff? Anne mengusap perutnya yang rata. Mungkin, doanya tak begitu lengkap. Dulu ... saat mengandung Diego dan Tiago Anne meminta kepada Tuhan untuk membuat anak kembarnya tumbuh sehebat Ayahnya, tapi Anne lupa untuk menyampaikan doa yang lebih spesifik sehingga terjadilah hal yang dia alami sekarang. Anne menggelengkan kepalanya menyangkal segala pikiran negatif yang berkeliaran dikepalanya.
Anne membawa gelas bening berisi air dingin itu ke ruang tamu dimana bocah kembar itu duduk rapi dengan tampang seolah tidak terjadi apapun.
Tak.
Anne meletakkan gelas diatas meja dengan sedikit kasar. Kepala si kembar itu tertunduk saat menangkap raut wajah Ibunya yang tak ramah.
"Siapa yang akan menjelaskan pertama kali padaku?" Tanya Anne dengan nada tegasnya.
"Diego? Tiago?" Masih tidak ada yang sudi untuk bersuara, keduanya hanya diam membisu.
"Saat ditanya semuanya membisu! Bukankah mulut itu yang menyebabkan aku dipanggil ke sekolah?!" Anne melayangkan protes terhadap dua putra kembarnya itu.
Dua bocah itu saling melirik satu sama lain lalu mengangkat pandangannya untuk sama-sama menatap Anne yang sedang marah, keduanya melipat bibir mereka rapat-rapat lalu menganggat kedua tangannya.
Anne mengembuskan napasnya kasar untuk kesekian kali lalu memejamkan matanya. 'Apalagi ini Tuhannnn?!' keluhnya dalam hati.
"Apalagi sekarang?! Bicaralah, Twins!"
"Kami tidak mengatakan apapun pada siapapun, tangan kamilah yang menyebabkanmu dipanggil kesekolah hari ini." Diego lebih dulu memberikan penjelasan.
"Kasus ini benar-benar berbeda dengan kasus dua bulan yang lalu, Mom. Dua bulan yang lalu kau dipanggil karena ulah mulut kami, sekarang tangan kami yang berulah." Sang adik yang hanya berbeda delapan menit itu turut melanjutkan penjelasan.
Anne menundukkan pandangannya, memijat pelipisnya dengan sedikit kasar hingga pelipis itu memerah.
Ya, sekitar dua bulan yang lalu Anne juga dipanggil ke sekolah karena si kembar mengatakan poni mangkuk terhadap teman perempuannya. Gadis itu langsung menangis akibat mulut asal bunyi Tiago dan yang lebih mengagetkannya ketika Anne menyidang mereka.
'Adakah hal bohong yang dikatakan Tiago tentang gadis itu, Mom?' Sang kakak bertanya kepada sang Ibu sekaligus memberi pembelaan terhadap adiknya.
'Coba buka matamu, Mom dan lihatlah ... rambut gadis itu memang seperti mangkuk.'
'Mom sendiri yang mengajarkan kami untuk selalu berbuat baik dan berkata jujur. Apa yang dikatakan Tiago adalah kejujuran, Mom.'
'Huft, Mom. Menjadi orang baik semelelahkan ini, kah?' Tiago mengatakan dengan sedikit mendrama. 'Saat kami tak berkata jujur Mom akan menghukum kami karena telah berbohong, tapi saat kami mengatakan kejujuran Mom juga menghukum kami.'
KAMU SEDANG MEMBACA
The Savior Girl
RomantiekMenikah dengan Jeffrey Hill Desimone adalah sebuah pilihan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup Ranée Shelva Malik. Ini hanya tentang asmaraloka yang tak sempurna. Tentang peliknya kasih dalam kisah. Tentang sebuah romansa yang mendamba bahagi...
