~ SELAMAT MEMBACA, SELAMAT MALAM ~
Anne langsung membuka matanya dan menyingkirkan tubuh Jeff dari sampingnya. Anne menatap Jeff dengan sorot mata tajam seolah tatapan itu adalah sebilah pedang yang akan menusuk jantung lawan.
Kondisinya baru saja membaik dan dari banyaknya kalimat romantis, suaminya ini malah berkata hal yang tidak-tidak.
Menjengkelkan!
Hal yang lebih menjengkelkan adalah ekspresi yang tengah terpampang pada wajah tengil yang siang tadi enggan menatapnya. Pria itu malah menaik turunkan kedua alisnya seolah sedang menggoda istrinya.
Siapa sebenarnya yang membutuhkan perawatan yang layak disini? Anne ataukah Jeff?
Anne memukul wajah Jeff dengan tangannya yang masih terpasnag selang infus.
"Wife! nanti tanganmu sakit." Jeff bertutur tegas sembari meraih tangan Anne kemudian mencium punggung tangannya, menggenggam tangan sebening salju itu dalam genggaman tangannya lalu meletakkannya pada pipi.
Kedua insan yang tengah diuji kekuatan cintanya saling tersenyum pilu, tatapan mata yang tergenang air mata saling terpaku, disana tengah mendeskripsikan kisah haru biru, tapi bibir mereka masih saling membisu.
Anne lebih dulu mengerjapkan matanya, dari sana turunlah setetes air mata yang segera dihapus oleh Jeff. Jeff menggelengkan kepalanya seolah melarang Anne untuk kembali bersedih.
"Maaf." "Maaf."
Kaduanya berkata serempak tanpa dikomando, seolah pikiran dan hati mereka tengah bergerak sama.
"Maaf karena gagal melahirkan pewaris untukmu." Satu kalimat yang meluncur dari belah bibir Anne begitu meremat jantung Jeff, rasanya udara disekitar terenggut habis hingga dia merasa sesak tak karuan.
Jeff tak mengatakan sepatah katapun untuk beberapa saat sebelum dirinya menempatkan diri berbaring disamping kanan Anne untuk memeluk tubuh ringkih itu dengan erat. Tak bisa lagi Jeff menahan sesak tangis yang sedari tadi dia tahan, hingga bulir-bulir air mata itu bersimbah sudah.
Jeff mencium kening Anne berkali-kali. "Wife ... maafkan aku sayang sudah menjadi manusia yang tak pandai dalam menyikapi keadaan. Maaf, ternyata diamku adalah hal yang paling menyayat hatimu." Anne mulai menyampingkan tubuhnya yang lemah untuk menyembunyikan wajahnya didada Jeff.
"Aku meninggalkanmu tanpa kata karena kehilangan ini begitu membuatku terluka, tapi aku melupakan bahwa istriku jauh lebih terluka. Bagaimana bisa aku meninggalkan istriku yang sedang kesakitan saat kau yang merasakan bagaimana sulitnya mengandung anakku selama sembilan bulan lamanya, bodohnya aku meninggalkan istriku dan menunjukkan sifat tidak peduli itu saat tubuhmu terluka parah saat memperjuangkannya. Maaf telah menunjukkan sikap tak peduli itu, sayang." Jeff berucap tanpa sekalipun melonggarkan pelukannya. "A-ku, aku hanya tak sanggup melihatmu semenderita ini saat kau menyelami takdirmu setelah menjadi istriku. Semua masalah ada dalam hidupmu saat kau berada disamping--"
"Stt ..." Anne menyimpan jari telunjuknya untuk menghentikan perkataan Jeff. "Kau pikir saat aku memilih orang lain untuk menjadi suamiku aku tidak akan diuji? Jeff setiap kehidupan itu pasti diuji dengan kadar yang berbeda-beda. Jangan pernah mengganggap bahwa kau adalah pembawa pengaruh buruk untuk hidupku. Belum tentu juga aku akan diratukan oleh pasanganku seperti aku diratukan olehmu saat aku memilih pria seperti Julio dan Jafar untuk menjadi suamiku."
Dalam sekejap ciuman dikening Anne terhenti, Jeff meyakinkan diri dengan melirik Anne yang sedang didekapnya. "Kau pernah berandai-andai untuk itu?" Tanya Jeff penasaran.
"Misalnya." Wanita itu tersenyum mengejek.
Jeff hanya memutar matanya malas. Dia sebal saja saat ingat bangaimana dulu Julio, Jafar dan Jimmy terang-terangan menunjukkan ketertarikan mereka pada Anne, entah itu pura-pura atau nyata, tapi Jeff sebal saja.
Jeff mengusap-usap punggung Anne seperti sebuah mantra pengantar tidur, namun sang istri masih betah membuka matanya sembari bersandar pada dada Jeff. Lama mereka saling terdiam setelah saling mengungkapkan perasaan gundah yang menjajah hati dan pikiran mereka.
"Jeff ... Bagaimana jika seandainya kita tidak memiliki anak?" Anne mengutarakan ketakutan yang bersemayam itu kepasa sang suami.
Jeff hening sejenak untuk mencerna kalimat Anne.
Tidak ada seorangpun yang akan baik-baik saja setelah melewati fase kehilangan. Jeff tau betul bahwa rasa sakit itu belum sepenuhnya hilang dari tubuh Anne dan Jeff paham bahwa trauma mungkin saja menggerogoti mentalnya.
"Hei, dengarkan aku. Ada atau tidak adanya anak, kita tetap akan seperti ini sampai kapanpun. Kau yang memiliki hak atas tubuhmu sendiri, semua keputusan kuserahkan padamu. Jika kau menginginkan seorang anak, maka kita akan memilikinya, tapi jika kau tidak ingin maka aku tak sedikitpun merasa keberatan. Kau tidak perlu menghakimi dirimu sendiri sekeras itu, Wife."
"Aku hanya takut, rasa sakit itu masih terasa bahkan ketika aku tertidur." Punggung itu kembali bergetar karena tangisan.
"Wife, kalau boleh jujur sebenarnya dalam hatiku merasakan ketakutan luar biasa saat aku tahu bahwa aku akan menjadi seorang Ayah. Aku takut menjadi figur Ayah yang buruk untuk anak kita. Kau tahu betul bahwa aku terlahir dari seorang pria bajingan yang gemar memukuli darah dagingnya sendiri, aku tak memiliki bekal apapun karena yang tersaji dirumahku hanyalah bentuk dari kekerasan saja, tapi semua kalimatmu yang terus mengapresiasiku saat aku melakukan hal baik aku jadi merasa bahwa aku bisa menjadi seorang Ayah yang baik suatu saat nanti. Kau berhak atas apapun yang terjadi pada tubuhmu. Aku bersemangat menyambut kelahiran anak kita nanti saat kau memang sudah siap dan meninginkannya. Mungkin saja ini salah satu cara Tuhan untuk membuat kita sadar bahwa kita harus belajar untuk menjadi orang tua yang baik. Percayakan saja semuanya pada Tuhan bahwa semuanya akan baik-baik saja." Jeff mengusap lembut air mata yang membanjiri wajah Anne.
"Sudah malam, sudah waktunya tidur, ya."
"Tubuhku sudah pegal-pegal karena terlalu banyak tertidur. Kapan kita akan pulang?"
"Besok pagi dokter akan memeriksa keadaanmu, kalau memang keadaanmu sudah membaik, maka dokter akan mengizinkan kita untuk pulang. Bersabar sedikit lagi, ya?" Diakhir kalimat Jeff mengutarakan sedikit permohonannya kepada sang istri.
"Hm." Katanya mengangguk.
Anne mencoba untuk memejamkan matanya kembali.
"Saat aku tak sadarkan diri, apa yang menemaniku hanya Dad?" Tanyanya sembari berusaha untuk menjemput rasa kantuk.
"Tidak. Aku sesekali menemanimu juga. Bedanya, Dad akan bercerita tentang banyak hal dan aku hanya menangis tanpa berucap sepatah katapun."
"Kau menangis seperti tadi?"
"Tidak, aku menangis saat kau kembali ke Mansion setelah kabur bersama Julio dulu."
"Benarkah?" Mata itu kembali terbuka, mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Jeff.
"Kenapa? Kau ingin mengejekku?" Jeff mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak." Anne menggeleng pelan sembari tersenyum. "Kau sangat mencintaiku, ya?"
"Tidurlah! Semakin malam kau semakin melantur."
Wanita ini sudah benar-benar sembuh kalau sudah bisa meledeknya seperti ini. Jeff sebal sekali!
"Jawab dulu--"
"Tidur!" Jeff bertaka tegas, tapi Anne malah terkekeh pelan sebelum kembali memejamkan matanya.
Pada gulita malam yang perlahan menjemput matahari untuk terbit, rasa-rasanya Jeff juga ingin nestapa secepat itu menjemput bahagia. Dari pekatnya malam yang menanggalkan warna gelapnya, Jeff ingin air mata ini segera meninggalkan masa kelamnya yang membuatnya dan Anne hampir tenggelam.
Jeff akan mengupayakan apapun untuk bisa membahagiakan wanita dalam dekapannya.
Bagaimana bisa Anne menanyakan sebesar apa cinta Jeff untuknya saat bayangan kematiannya tak begitu mengusik batinnya, tapi saat bayangan kematian Anne berlalu lalang dalam pikiran membuatnya sekarat.
~ Terima kasih ~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Savior Girl
RomansaMenikah dengan Jeffrey Hill Desimone adalah sebuah pilihan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup Ranée Shelva Malik. Ini hanya tentang asmaraloka yang tak sempurna. Tentang peliknya kasih dalam kisah. Tentang sebuah romansa yang mendamba bahagi...
