"Gue suka sama lo Kak."
Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan.
Sudah cukup sepuluh...
Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.
One The Drive Home By Niki
Kamu & Kenangan
Hanna menggangguk. Melepas sat belt nya sebelum bersiap untuk turun. Setelah turun dari mobil Gio yang sudah meninggalkan jas hingga hanya tersisa kemeja berwarna abu-abu yang sudah keluar, serta celana bahan kain warna hitam mulai menyusuri area dermaga dengan suara ombak yang silih berdatangan dan percakapan beberapa orang. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam tapi bukanya pulang ke rumah dan bersiap untuk tidur kedua manusia itu malah berada di area pelabuhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Walupun sampai saat ini Hanna belum mengerti tempat Gio mencari angin adalah pelabuhan, ia tetap menikmati pemandangan yang tersedia di depan matanya.
Di tengah langkah kaki mereka menyusuri pelabuhan angin yang berhembus lumayan kencang tanpa sadar membuat Hanna mengantongi tangan nya ke dalam saku hoodie. Sebelum pada detik selanjutnya pandangannya beralih pada sosok lelaki yang berada di sisi kirinya. Gio dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku itu terlihat biasa-biasa saja. Seakan angin laut malam hari bukan hal pertama yang ia rasakan.
"Kedinginan?" Gio mengajukan tanya tanpa mengalihkan pandangan di depannya.
"Lumayan. Tapi karena gue udah pakai hoodie ini membantu banget deh," senyum Hanna di akhir kata.
Gio mengangguk. Kembali menyusuri area dermaga. Walupun hingga detik ini alasan apa yang membawa Gio membawanya ke dermaga belum ia ketahui Hanna tetap mengikuti langkah kaki berbalut sneakers itu. Tanpa ragu, tanpa bimbang atau bahkan khawatir. Padahal jika dirinya keluar bersama para sohibnya di kantor lalu pada pukul sepuluh ia belum sampai di apartemen ada rasa tidak nyaman. Tapi anehnya dengan Gio ia tampak nyaman-nyaman saja. Tidak ada ketakutan yang ia rasakan. Entah karena Gio adalah atasan nya di kantor, atau karena Gio sosok yang sudah lama ia kenal, atau mungkin karena tanpa ia sadari dirinya mulai memberikan kepercayaannya kepada lelaki yang berusaha untuk menyembuhkan luka hatinya.
Lelah berjalan Gio mulai menghentikan langkahnya. Duduk pada area sisi pembatas yang lumayan tinggi dengan kaki menggantung yang mungkin saja terkena percikan air ombak jika ombak sampai pada pembatas setinggi bahu orang dewasa. Melihat Gio yang duduk Hanna pun juga mulai ikut duduk. Tak terlalu dekat juga tak terlalu jauh.
Keheningan kembali menyapa dua manusia itu. Banyak hal yang dipikirkan.
Kalau boleh jujur di tengah angin yang berhembus kencang juga bintang-bintang yang ikut memeriahkan suasana malam, entah kenapa tanpa sadar perkataan Irna dan juga chat dari Kia silih berganti datang menyapa kepalanya. Ia sangat ingin bertanya. Tapi dirinya juga tahu diri apa haknya untuk mengetahui lebih dalam kehidupan lelaki itu. Walupun mereka dalam masa pendekatan dan ia sudah mulai nyaman dengan Gio tetap saja, ada batas yang masih perlu ia jaga.