Never up....
huuuuu!!!
Happy reading?
***
Nichol baru saja datang, namun ia sudah dikejutkan dengan suara tangis histeris Sandra di ruangan Alkana. Begitu Nichol masuk, matanya langsung tertuju pada mesin EKG yang manampilkan gelombang datar.
Nick tak kalah panik ia lalu memanggil dokter. Beruntung, tak lama berselang seorang dokter dan satu orang perawat datang untuk menanganinya.
"Maaf bisa menunggu di luar sebentar?" pinta seorang suster padanya.
Nichol mengangguk lalu menuntun Sandra keluar ruangan.
"Ra tenang Ra," Nichol mengusap pundak Sandra sembari mendudukannya di sebuah kursi.
Sandra masih menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan ucapan lelaki di sampingnya. Kondisi Alkana benar-benar membuatnya terpukul, ia tidak akan sanggup jika kehilangan Alkana.
Sandra butuh Alkana, sangat. Dan ia takut lelaki itu meninggalkannya. Walaupun Sandra tau kecil kemungkinan untuk lelaki itu hidup tapi ia berharap Alkana masih bisa menepati janjinya. Merelakan adalah hal yang tidak pernah Sandra lakukan meskipun mungkin suatu saat perpisahan akan selalu ada.
"Ra... jangan nangis terus, Alkana masih di tangani sama dokter dia pasti baik baik saja?" Nichol mengusap pundak Sandra berkali-kali berusaha menenangkan.
Sandra masih terisak dengan kepala bersandarkan pundak Nichol, ucapan lelaki tak cukup mampu meredakan suasana hatinya yang sedang buruk.
Di saat yang sama keduanya mendengar derap langkah mendekat, Nick menoleh melihat siapa yang datang.
"Sandra kenapa Nick?" tanya wanita itu, dia nampak cemas.
Mengetahui wanita itu Amira Nicole menjawab, "Ini Tante keadaan Alkana..."
"Tante, Alkana tan..."
Melihat ibu tirinya datang dan duduk di sampingnya Sandra langsung menghambur kepelukan Amira, sementara derai air matanya terus mengalir.
"Iya Sayang Alkana kenapa?" Amira mengusap rambut Sandra lembut.
Sandra tidak menjawab, masih terisak dalam tangisan. Melihat Sandra seperti itu Nick berinisiatif menjawab. Nichol baru akan membuka mulut namun tatapannya teralihkan saat melihah lelaki berjas putih keluar dari ruangan.
Nichol bergegas bangkit menghampirinya, "Gimana keadaan teman saya Dok?"
Lelaki paruh baya itu menghela nafas berat membuat semua yang ada di sana menatap khawatir.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tadi lead Elektrokardiogram-nya terlepas dan sudah saya perbaiki sekarang keadaannya kembali normal."
"Syukurlah," ucap Nichol di susul helaan nafas lega.
"Baiklah kalau begitu saya permisi," pamit sang dokter.
"Iya Dok, terimakasih sebelumnya."
Setelah mendapat senyuman singkat dokter itu berlalu diikuti seorang perawat di belakangnya.
"Kamu dengar sendiri kan Ra," Nick seraya mendekati Sandra, "Keadaan Alkana udah normal, jadi kamu jangan sedih lagi ya?"
Sandra mengangguk, ikut lega mendengarnya.
"Tenang ya sayang ada tante disini?" Amira mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya.
"Makasih tan," lirih Sandra dengan tubuh yang masih mendekap ibu tirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEVER
Teen FictionSetelah menciumnya secara tidak sopan Alkana juga memaksa Sandra menjalin hubungan denganya. Sebuah kegilaan yang tak mungkin di lakukan oleh gadis itu. Namun siapa sangka waktu dapat mengubah segalanya. Scandal yang menimpa gadis itu membuatnya te...
