21.45 WIB. Desa Apit, Jawa Barat
Malam ini dingin. Hujan, air mata alam itu baru saja menunaikan tugasnya membasahi bumi. Sudah berlalu. Tapi tidak air mata seorang gadis yang kini sedang duduk terdiam di sebuah bangku lipat di sebuah kontrakan kecil di desa itu.
Para tetangga baru saja, satu per satu, kembali ke rumahnya masing-masing, setelah mengucapkan rasa belasungkawa mereka. Menyisakan gadis itu, bersama peti mati Bundanya dan sederetan kursi lipat berwarna merah yang kini kosong.
"Neng..." kata Pak RT menyapa Frisca, gadis itu.
Frisca mengangkat wajahnya, matanya sembab, sebesar bola pingpong.
Pak RT menghela nafas, prihatin dengan kejadian yang menimpa gadis manis yang duduk dihadapannya. "Bapak pulang dulu ya, besok kursi-kursinya baru diberesin sama bapak-bapak yang lain."
Frisca pun mengangguk pelan, lalu menggumam pelan, "terima kasih, Pak..". Lalu Pak RT menepuk pelan bahu gadis itu.
Sepeninggal Pak RT, seorang ibu bertubuh agak tambun dan berwajah juga sembab menghampiri Frisca dan duduk di sebelahnya.
"Ica mau ibu temenin disini?" Tanya bu Tami pelan.
Frisca menggeleng.
"Kenapa?"
Frisca tersenyum lemah, "gak apa-apa bu, di rumah gak ada yang jagain Adit kan?" Frisca menyebut anak bu Tami yang baru berumur 6 tahun.
"Bu.." Frisca memanggil tetangga terdekatnya itu, tetangga yang kerap membantu almarhumah bundanya membuat adonan kue bolu yang dijual bundanya ke pasar dari warung-warung kecil dekat situ.
"Kenapa?" Bu Tami mengelus kepala Frisca yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Frisca menghela nafas pelan, "Ica mau ninggalin Desa Apit."
"Kenapa?"
"Wasiat terakhir bunda, Bu. Bunda hanya ninggalin sedikit uang untuk Ica, gak cukup buat ngontrak sebulan lagi. Bunda mau Ica nemuin temannya waktu SMA dulu."
"Kemana?"
"Jakarta."
Bu Tami menggeleng keras, "jangan kesana kalau kamu gak tau apa-apa, Ca. Ica tinggal sama ibu aja ya? Sama Adit?"
Frisca tau hidup Bu Tami tidak lebih baik dari dirinya. Bu Tami seorang penjaga warung. Penjaga bukan pemilik. Warung jagaannya pun harus ditujunya dalam lima belas menit perjalanan. Dan juga Ia single parent, seperti ibunya.
Frisca mengusap pelan air matanya, "itu wasiat terakhir Bunda, Bu. Aku gak bi..." Frisca tidak bisa lagi menahan tangis yang meluncur deras dari matanya. Bu Tami memeluk dan mengusap punggu Frisca perlahan.
"Ibu pulang aja," kata Frisca, "nanti kalau Adit bangun gak ada ibu, tangisannya bisa bangunin seisi kampung." Frisca tersenyum pelan.
Bu Tami memeluk Frisca lagi. Dengan berat hati Ia meninggalkan Frisca, "pokoknya kalau ada apa-apa, ke rumah ibu aja ya?"
Frisca mengangguk pelan. Kini Ia sendiri. Kosong dan sepi.
Frisca merogoh saku kemeja hitamnya. Sebuah amplop kecil tergeletak di tangannya sekarang. Ia mengambil sebuah kertas putih yang terdapat wasiat Bunda.
"Frisca sayang,
Bunda tau umur bunda udak gak lama lagi. Bunda semakin lemah karena flu tulang yang bunda derita. Kenapa bunda memutuskan tidak memberitahu kamu? Karena bunda gak mau merusak keceriaan di mata kamu. Bunda gak mau merubah bengalnya kamu karena khawatir akan kondisi bunda. Pergilah ke alamat yang tertulis di carikan kertas lain yang ada di amplop ini. Temui Bu Romi, teman SMA bunda, dia akan membantu kamu.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)