Bab 21

5K 575 294
                                        

Guys, maaf part ini agak membingungkan. Kalau ada tanda (*) itu tandanya sekarang.
Kalau ada tanda (**) itu tandanya udah berlalu ya.
Hehehe got it? Okay enjoy :)

***

Kelabatan bayangan itu memburu di otaknya, melucuti nafasnya hingga tersengal. Untuk alasan yang kabur dan samar, Ia tak mementingkan apapun selain terus berlari, mengejar.

Dan lagi-lagi hujan, menguarkan aroma kenangan itu tanpa sungkan. Turut mengoyak apa yang pernah terbawa dalam mega keabuan: Kebenaran bahwa ternyata hatinya sudah terikat dan terbawa oleh harum memabukkan sebuah rengkuhan. Dekapan yang tampaknya Ia takkan pernah sanggup kehilangan.

Matanya menelanjangi bangun tinggi coklat tua dengan cahaya kilat yang tersemburat, menyambar setiap serat. Diiringi memoar hujan yang terus merambat, Ia melantun doa lamat-lamat. Tuhan, semoga semuanya belum terlambat.

**

Tiga hal yang membuat Frisca yakin bahwa dia bukan Columbus :

Satu. Columbus laki-laki, berkebangsaan Itali dan berumur 560 tahun (diasumsikan beliau masih hidup). Sementara Frisca -terakhir kali dirinya mengecek- masih wanita, jelas-jelas bangga menyatakan diri berkewarganegaraan Indonesia dan baru saja merayakan ulang tahun ketujuh belas. (tujuhbelas betulan bukan bohongan memangnya dia mengidap penyakit Hypopitutarism bak Esther di film Orphan)

Dua. Columbus adalah pelayar yang gemar menjelajah samudera, lalu menemukan sebuah dataran luas dan menamainya benua Amerika. Sedangkan dirinya hanya pelayan yang sudah menyelesaikan pekerjaan di akhir minggu, iseng-iseng mengekspedisi lantai tiga kediaman majikannya dan akhirnya memutuskan menjelajah ke sebuah ruangan besar berkubah kuno seumpama kapel dengan rak-rak buku tinggi menjulang yang telah dijuduli ahli bahasa sebagai Perpustakaan. Dia tak perlu repot-repot mencari nama.

Tiga. Frisca yakin Columbus takkan pernah repot-repot menghentikan vakansinya hanya karena melihat sosok tampan –yang sedang duduk tenang sembari menekuni sebuah bundelan perkamen kecoklatan seukuran coffee-table book dan menyesap sesuatu yang mengepul dalam cangkir- di tengah eksplorasinya.

Bunyi ketukan teredam, yang timbul saat pantat cangkir beradu dengan permukaan meja kayu mahogany di pojok ruang perpustakaan itu membuat Frisca tertampar dan tersadar dari keterpanaannya.

Gadis itu meneguk ludah lalu memutuskan berjingkat mundur, menutupi diri dengan barisan rak buku-buku filosofi di dekat situ, sebelum sosok lain disana menyadari keberadaannya.

Frisca baru saja berbalik dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk pergi menjauh saat Ia menangkap suarayang menggetarkan pendengarannya.

"Sebentar, Ica.."

Frisca baru menyadari, sosok itu bahkan belum mengangkat wajah dari bundelan di hadapannya.

*

Ia mengusap kepalanya yang terbentur pintu tingkap dengan sebelah tangan, meringis pelan lalu melayangkan tangannya kembali ke sisi tangga tali reyot yang bergoyang lemah dan mulai licin dipelumasi hujan.

Ia menarik nafas, menyerapi wangi tanah basah dan harum tanaman hydrangea yang mengusik indra penciumannya lalu mengacungkan satu tangannya lagi ke atas untuk meraba serta menggeser pelan bukaan pintu yang tadi meninju puncak kepalanya tanpa ampun.

Garis bawah matanya kini melintang sejajar dengan lantai bangunan. Ia mengerjap sekali lalu memicingkan mata, namun yang ditangkap fokusnya hanyalah guratan coklat dan semburat oranye kemerahan yang bergerak-gerak tak tenang.

Setelah meniti satu anak tangga lagi hingga kepalanya sudah tersembul semua, Ia menumpukan kedua telapak tangannya di dua sisi sebelah rongga pintu. Agak tak sabar mendorong tubuhnya, setengah melompat ke atas hingga bagian bawah tubuhnya kini menjejak salah satu sisi lantai.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang