Bab 30 (Bagian A)

4K 512 676
                                        

"...Tanpa sadar, bahwa kita tak akan pernah tahu betapa berharganya yang kita miliki sampai kita kehilangan." - Aug 9 2009, http://www.garis-bawah.com

***

Karena sesungguhnya ia tahu bahwa ia hanyalah sebilah busur penghitung debu, pengukur waktu. Dan bukankah gadis itu adalah anak panahnya? Yang tak diciptakan untuk terus tertahan di tempat, melainkan agar terlepas bebas?

Jadi, bila suatu saat tiba waktu untuk melesatnya sesaat, biarlah udara tak ikut menyesat. Namun jika takdir tergerak mengubah sang anak panah menjadi bumerang untuk berbalik kembali pada busurnya. Maka takkan diizinkannya lagi gadis itu kemana-mana.

Biar anak panah yang sama terus terjaga dalam hakikatnya, berada di sisi sang busur hingga tak terhitung lagi masa.

***

Keesokan pagi.

Setelah mandi, berpakaian dan mematut diri sebentar di depan cermin. Pemuda itu melangkah menuju pinggir ranjangnya dan duduk disana. Ia terdiam, terlihat menimbang sejenak. Turun. Tidak. Turun. Tidak. Turun. Tidak.

Tak lama, ia mendesah pelan, lalu akhirnya menyambar gagang telepon dan mengulurkan tangan untuk menekan sebuah nomor ekstension. Ia berdeham sejenak ketika nada sambung terdengar mengecil, digantikan sapaan seorang wanita.

"Bi? Ini Calum, iya.. hmm, sarapanku tolong bawa ke kamar aja ya."

Ia bungkam sebentar, mengalah pada wanita tua yang sedang berbicara cepat, terdengar sedikit khawatir.

"Gak lagi sakit kok, bi." jawabnya, "Iya, gak ikut bareng di bawah, kalo mama tanya.." Calum menggaruk tengkuknya, baru sadar belum memikirkan alasan, "bilang aja aku mau beresin tugas sekolah buat hari ini. Oke bi?" katanya bukan dengan nada tanya, namun setengah memaksa.

Pemuda itu mengiyakan saat Bi Rahmi memastikan menu sarapan yang diingininya tetap seperti biasa, lalu mengangguk-angguk sebentar sendiri dan menutup telpon.

Sesudah itu, Calum melengos dan merutuki diri sendiri. Tahu apa yang membuat sikapnya begitu pengecut. Karena rasa-rasanya ia takkan sanggup menahan diri (bukan hanya sekedar untuk menghampiri) jika harum adiksi itu kembali menebar tawa (yang bukan untuk pemuda itu) di hadapannya.

Ia betul-betul bersyukur bahwa semalam mimpi tidak berani mengganggu. Karena kalau iya, sepertinya ia tahu bayangan apa yang akan terus memburu. Masa lalu.

Calum merasa ingin menonjoki dirinya sendiri. Kesal sekali karena tidak mengerti. Ada apa sebenarnya dengan perasaan ini? Kenapa ia seakan begitu tertampar ketika benar-benar menyadari bahwa dirinya kembali berada di belakang titik nol (soal hubungannya dengan Frisca) lagi? Seperti sebelum ini.

Ia mengetuk dahinya, mencoba mengosongkan pikiran, mengalihkan fokus pada sekeliling kamar lalu akhirnya mendesah makin berat ketika tiap pantulan benda dalam mantanya ikut mengulangi memori akan apa yang pernah terjadi disini.

Bahkan, Calum menatap ranjang yang ia duduki, tersenyum sarkatis sendiri, di tempat tidur ini juga ia membiarkan gadis itu menangkap debur ombak (yang kala itu belum tertebak) dalam matanya untuk pertama kali. Lalu pemuda itu bergerak otomatis mengusap pipinya, disini juga gadis yang sama menyentuh wajahnya, -lagi lagi- untuk pertama kali.

Pertama. Memiliki kata oposisi yang kini sudah dikecapnya. Terakhir. Seaneh ini ternyata rasanya. Sedikit pahit. Terakhir itu terasa pahit.

Sial. Pikiran Calum terpecah karena suara ketukan di pintu kamar. Ia tersadar. Kenapa dirinya harus menggalau begini pagi pula? Ia terdiam lalu menghembuskan nafas lamat-lamat, lantas berdiri, menuruni undakan dan berjalan ke arah pintu yang masih berbunyi.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang