Bab 30 (Bagian C)

4.3K 582 1.1K
                                        

Sepeninggal dari kamar Frisca, Calum benar-benar makin berniat mencari apa yang seharusnya ada namun tak ada itu. Ia sungguh tidak menyangka, dan bingung pula. Sebetulnya, kini bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya?

Jika mengingat soal segala srikaya dan ucapan sang mama, Calum yakin bahwa gadis itu masih memelihara setitik rasa. Tapi kala menerima sendiri perlakuan -menjurus ke- sinis Frisca di depannya, membuat ia bertambah ragu saja.

Calum mulai menuruni tangga hingga ke lantai satu, bergegas melewati dapur yang nampak lengang dan berhenti tepat di depan mulut lorong kamar pelayang. Ia terdiam, menghela nafas sejenak. Seakan berusaha mengingat hari-hari yang telah lewat. Seolah bisa mendengar derap beratnya sendiri yang dimemoarkan masa lalu dan kini dipantulkan kembali oleh dinding-dinding bisu.

Ia melangkah ragu, hingga berhenti tepat di depan satu itu. Mungkin Calum sudah tidak waras, karena sekarang bisa di dengarnya tawa Frisca dari balik kayu -atau mungkin dari otaknya sendiri yang sudah mulai diasapi kabut kelabu-.

Kalau benar gadis itu tak menyimpannya lagi, berarti benda itu ... . Calum memberanikan diri melayangkan telapak tangan ke atas kenop dan memutarnya ke bawah, hingga penghalang mata kini tak lagi ada.

Ia menarik nafas perlahan, seakan masih bisa mencium harum yang tersisa di dalamnya. Dengan sedikit ragu, pemuda itu mengambil langkah pertama memasuki ruang. Derap kakinya menimbulkan gaung samar yang turut menggemakan kenangan.

Calum terdiam, dalam sekejap lupa maksud utamanya karena dibuai gaung yang sama. Ia mengangkat satu sudut bibirnya, miris lalu memutuskan untuk menarik bangku yang terletak di pojok kamar dan menaruhnya tepat di samping ranjang kosong disana.

Entah berapa lama, Calum duduk tak bergeming di kursi itu. Memandangi tiap jengkal yang ada. Menangkapi nostalgia yang melayang dalam udara, lalu tiba-tiba terhantam lagi saat menyadari ada yang tak juga ia temui. Benda yang seharusnya ia cari, yang seharusnya ada disini.

Pemuda itu sontak berdiri, lalu mengernyit. Ia menoleh bingung kesana-kemari, membentang fokus lebih lebar dan betul-betul tidak melihatnya. Jadi dimana?

Ia mendorong bangku tadi dengan kakinya, berfikir sebentar dan akhirnya melangkahkan kaki menuju lemari. Yang jika dikira, sepertinya cukup besar untuk memuat benda itu.

Calum berjengit sedikit saat menarik pegangan pintu lemari. Lalu menahan nafas saat engsel berkarat menimbulkan bunyi berderit memekakkan.

Ia terdiam, merasakan hatinya mencelos kecewa ketika benar-benar menemukan benda berbulu yang dicarinya terjejal paksa disana. Beruang putih yang ia berikan untuk gadis itu ditinggalkan sendirian dan nampak begitu ... menyedihkan.

Calum menarik boneka itu ke dalam lingkaran dua lengannya, lalu mendesah dan beralih memandangi sepasang manik mata hitam yang balas menatapnya hampa.

Ia berdecak entah kenapa, lalu bergerak untuk menghujamkan tinju ke dalam wajah beruang berbulu yang dinamai dengan namanya sendiri itu.

Tak lama, Calum tertawa sinis sendiri, "Kita sama-sama diacuhkan ya?" tanyanya pada benda mati, mulai kehilangan jalan pikiran.

Sekali lagi ia menghembuskan nafas panjang, menurunkan boneka itu dari kungkungan peluknya, lalu ganti menenteng bagian kepala sang beruang satu tangan dan beranjak keluar.

Kalaupun boneka itu tak lagi punya tempat pada pemiliknya, paling tidak ia tak juga harus menjadi berdebu dan terus kesepian disana. Karena Calum cukup tahu seperti apa rasanya itu.

Entah kehendak Tuhan atau mungkin juga tidak, pemuda itu hampir mencelat kala berada di ujung lorong, tepatnya di mulut dapur -yang masih juga nampak sepi, tanpa tanda tanda adanya pelayan-.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang