Apa yang terjadi dengan Sifa? Sedari tadi ia tak berhenti bertanya-tanya sendiri.
Akhirnya, setelah melewati jam terakhir mata pelajaran bahasa Inggris dengan diskusi awal kelompok ("Split yourself into groups now, class. Please pick and discuss what topic that you're going to use. Note it down on the piece of paper, then give it to me." kata Sir Alex) yang alot dan -amat- kaku, Michael bisa bernafas lega.
Paling tidak ketiga orang itu tadi -Frisca, Calum dan Sifa- termasuk dirinya, cukup peka untuk merasa bahwa takkan ada faedahnya jika mereka bekerja bersama di satu tempat selama masih ada masalah yang menjegal. Jadilah, kesepakatan terakhir menyatakan bahwa tugas akan dibagi secara individual berdasarkan runutan proses. Siapa yang mencari bahan (dia sendiri), merangkum artikel (Sifa), membuat draft (Calum) dan merampungkan keseluruhan (Frisca).
Michael bingung sendiri saat mendapati tiga ekspresi berbeda yang tak pernah berubah sepanjang berlangsungnya diskusi tadi. Frisca, yang terus menghela nafas gelisah dan terlihat tak nyaman. Calum, yang tertangkap terus melirik ke arah mantan gadisnya dan menerus menahan senyum, entah kenapa.
Namun yang paling diperhatikannya hanya gadis yang -seharusnya tidak- nampak selintas kecewa. Apa yang terjadi dengan Sifa? Itulah awal dimana pertanyaannya muncul.
Kenapa gadis itu terdengar terus mendengus kesal dan seakan berusaha mendominasi pembicaraan agar Calum memberikan tanggapan (namun ternyata tidak) padanya. Michael, sejujurnya ingin sekali tahu apa ada masalah antara mereka. Karena tak ingin dilihatnya Sifa dengan raut tak bahagia lagi. Dan harusnya dengan kehadiran Calum lah akan ditemuinya lagi matahari dalam senyum Sifa.
Bahkan hingga pulang, Michael tak berhenti juga memikirkan seraut wajah itu. Ia berjalan pelan menuruni undakan depan gedung, lalu mulai melangkah memasuki lapangan parkir, menuju tempat VW klasiknya berada.
Ia mengernyit dalam ketika matanya menangkap sesuatu yang janggal.
Calum sedang berdiri di depan jaguarnya, berdiri berkacak pinggang menghadap kap mesin yang terbuka, nampak sedikit gemas dan kebingungan.
Michael memantapkan fokusnya menembus balik kaca jaguar Calum, bisa melihat samar profil wajah yang terus dipikirkannya sedang melongok cemas juga ke arah pemuda yang tengah kebingungan itu.
Ia menghela nafas, ikut cemas dan akhirnya tak mampu mengalahkan dorongan untuk melangkahkan kaki ke arah yang ia perhatikan sedari tadi.
Michael berjalan terus, hingga akhirnya berhenti di samping Calum, "Kenapa mobil lo?" tanya pemuda itu.
Calum menoleh sedikit terkejut melihat Michael, lalu mengangkat bahu, "Gak tahu. Gak mau distarter."
Michael mengangguk angguk pelan, "Oh," lalu ikut memperhatikan mesin di hadapannya, "Paling akinya soak,"
"Kayaknya iya sih. Gue belom minta setrum lagi." jawab Calum menyetujui.
Michael menoleh kesana-kemari lalu bertanya, "Terus gimana? Lo biasa setrum dimana? Rumah?" yang dijawab empunya mobil dengan anggukan.
Calum berdecak pelan, lalu mengisyaratkan Michael bergeser sedikit karena ia berniat menutup kap mesin. Tak lama, pemuda itu sudah bersandar di depan moncong mobilnya, mengeluarkan ponsel dari saku dan berkata pelan, "Gue mau minta sopir bawain mobil lagi aja. Thanks, by the way,"
Michael mengerutkan kening, "Terus mobil ini?"
"Gatau. Biar entar sopir yang ngurus. Gue pusing, mau pulang."
Michael melongo tak percaya, "Terus Sifa?"
"Oh iya," jawab Calum datar, "Lo bisa tolong anterin dia?" tanya pemuda itu enteng, mengangkat wajah sekilas ke arah Michael lalu kembali memusatkan perhatian pada ponselnya, seakan apa yang baru ia tanyakan tak begitu penting.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)