Bab 28 (Bagian A)

4.2K 532 829
                                        

Kisah Klasik. Yang kembali terkulik.

*
Lima setengah dasawarsa silam, 1955, Jakarta.

Rintik pengawal musim penghujan di bulan Oktober, sore hari itu bertahan lama. Menyaput sisa-sisa terik keemasan yang sebelumnya berkuasa, mendepak jauh-jauh helaan kering angin timur laut dan menggantinya dengan embusan basah angin barat daya.

Dua pemuda duduk di bawah sebuah kedai kopi tua pinggir jalan. Menghayati dendang hujan seiring waktu yang tersia keheningan, seraya mereguk gelas kaca berembun berisi cairan sewarna jelaga yang dimaksud untuk menghangatkan.

Salah seorang pemuda dengan kemeja flannel coklat tua mengambil pisang goreng yang tersedia di meja, lalu memasukkan potongan itu dalam mulutnya. Ia melirik pelan kearah teman karibnya –seorang pemuda lain dalam balutan kemeja katun merah marun- yang kelihatan sedang bermuram durja, lalu menghela nafas. Bola mata teman di sebelahnya tak pernah sekosong itu sebelum ini. Seakan menunjukkan bahwa ia sedang menanggung cobaan seisi dunia.

"Masih memikirkan masalah itu ya?"

Pemuda dengan kemeja marun itu menoleh sekilas, lalu mengangguk samar. Ia membuang pandangan ke arah jejeran toples warna warni di depannya lalu mendesah panjang, "Bagaimana tidak? Aku tidak menyangka Ayah punya hutang sebesar itu. Hutang yang mencekiknya hingga ke kematian," Ia bergidik sebentar, "Habislah usaha ekspedisi itu. Habislah aku."

Lalu sambil menyesap kopinya, pemuda yang sama mengulangi ucapannya lagi, seperti kaset rusak, "Habislah aku, Dava."

Davara –pemuda berkemeja flanel- memperhatikan sobat karibnya sekilas. Tahu benar mengapa Hemmings –pemuda lainnya itu- begitu putus asa. Ayahnya baru saja meninggal dunia. Entah karena apa. Mungkin karena pikiran berat yang menggelayutinya.

Keluarga Hemmings adalah salah satu perintis usaha ekspedisi (pengiriman barang) di Jakarta. Keadaan mereka selalu cukup berada walau tak melimpah. Karena setahu Davara, Ayah Hemmings adalah orang baik, maka Ia tidak percaya saat Hemmings bercerita bahwa ayahnya diisapi lintah darat, hingga usaha mereka bangkrut.

Setelah kematian Ayahnya, tinggallah Hemmings, yang baru berusia 22 tahun sebagai tulang punggung keluarga. Dengan tiga saudara perempuan dan seorang ibu yang harus dihidupi. Serta dua orang pekerja yang –sesuai kebijakan Ayah Hemmings- harus disekolahkan dan tak mungkin diputuskan begitu saja.

Davara menepuk pundak pemuda di sebelahnya, "Dewasalah. Semua masalah pasti punya jalan keluar. Toh Ayahmu juga merintis dari nol bukan?"

"Maksudmu?" Hemmings mengerutkan kening.

"Belilah truk kecil dengan pembayaran berkala. Mulai usaha itu lagi, kecil pun tak apa. Toh nama Ayahmu juga sudah dipercaya beberapa organisasi dan kalangan masyarakat disini."

Hemmings menyerapi kata-kata Davara, terdiam sejenak, "Tapi aku tak punya..."

Davara tersenyum pelan, mengerti benar maksud Hemmings. Ia merogoh saku belakang celananya, mengeluarkan sebuah amplop coklat yang dilipat sedemikian rupa hingga membentuk persegi panjang. Ia meletakkan amplop itu di meja lalu mendorongnya ke arah Hemmings, "Pakailah,"

Hemmings mendorong amplop itu kembali ke arah Davara, "Tidak. Ini tabunganmu.."

Davara tersenyum, "Pakailah. Kamu lebih butuh. Kalau aku toh masih bisa jadi benalu di rumah bibiku,"

Hemmings menggeleng "Tidak,"

"Pakai uang itu atau aku akan membuangnya ke tempat sampah," gertak Davara, menjejalkan amplop itu ke tangan Hemmings.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang