Luka, luka, luka. Diulangnya ribuan kali hingga kata itu tak lagi bermakna. Dan ketika rasa itu mulai bernama, mana yang harus dipilihnya? Mengungkapkannya? Atau sanggupkah Ia melepasnya?
***
Sebuah Volvo hitam merangkak pelan, seiring alur kemacetan petang kota Jakarta yang menggila. Ashton menghela nafas panjang, lalu menyentuh pedal rem di kakinya. Menyesali kebodohannya memilih jalan besar sebagai rute pulang. Padahal Ia tau beberapa jalan tikus yang bisa ditempuhnya dari tempat gadis yang baru Ia antar pulang itu, tinggal.
Ya, Frisca. Ashton hampir terkejut menyadari dampak nama itu pada kecepatan detak jantungnya belakangan ini. Menyadari dampak suasana hati yang terbawa kemana-mana hingga Mamanya bertanya ada apa dengan dirinya. Mencemaskan anaknya memakai nikotin atau barang apa hingga terus tersenyum seperti orang gila.
Ashton hampir tertawa sendiri lagi, lalu tiba-tiba menyadari bagaimana orang luar melihat dirinya. Mungkin dia memang aneh. Ashton menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menatap jok di sebelahnya. Jok yang sudah di duduki oleh gadis yang menghantui sudut pikirannya selama hampir tiga minggu terakhir.
Hampir tiga minggu setelah pesta Sifa berakhir. Hampir tiga minggu sejak pertemuan pertama itu. Hampir tiga minggu Ashton bersedia mengantar jemput Frisca. Hampir tiga minggu ada yang selalu tertawa di sampingnya.
Tapi, Ashton mulai berpikir, serenyah apapun tawa itu, Ia takkan pernah melupakan saat-saat hening yang sebenarnya jarang terjadi, namun selalu sangat mencemaskan jika berlangsung. Saat Frisca menatap keluar jendela, entah memandang apa. Tatapan yang selalu mengingatkannya pada air mata Frisca, yang jatuh pada hari yang bersamaan dengan pertemuan pertama mereka. Ashton tidak perlu penjelasan mendetil untuk tau siapa yang sedang direnungi Frisca.
Sesungguhnya pula, hampir tiga minggu sudah, Ashton menyayangi gadis itu.
Ashton memejamkan mata sejenak. Ingatannya melayang pada penjelasan-mendetil-yang-tidak-perlu-karena-Ashton-sudah-tau yang dikisahkan Frisca suatu saat. Penjelasan gadis itu tentang siapa yang mengusik perasaannya, membuat hatinya berteka teki tak pasti, teka teki yang mampu diurainya sendiri. Calum.
Entah gadis itu terlalu naïf atau sedang berusaha membohongi dirinya sendiri. Karena seharusnya orang paling bodoh pun tau apa yang sedang dirasa Frisca sebenarnya.
Ashton tidak menanggapi saat Frisca bercerita tentangnya. Ia tidak mau menjawab dan tidak berharap dimintai jawaban. Setengah dirinya seperti berteriak agar gadis bodoh yang disayanginya itu menyelesaikan teka tekinya sendiri. Namun setengah dirinya yang lain juga berbisik, berharap dalam gelap, agar gadis itu tak perlu mengurai sang teka teki dan perlahan melupakan perasaan itu karena kehadiran Ashton di harinya. Karena Ashton tau, sadar atau tidak, hanya Calum yang ada di mata gadis itu.
Ashton menghela nafas, terusik kebisuan yang terlalu mencekam, Ia memutuskan menyalakan radio di dashboard mobilnya. Hela nafasnya merileks, mendengarkan penyiar favoritnya sedang bercuap cuap mengenai gossip salah satu penyanyi muda Amerika yang sedang naik daun, Taylor Swift.
"Eniwei, daripada gua ngomongin gossip mulu ya, mendingan gua puterin salah satu lagu favorit gua dari si eneng ini. Check it out. Invisible from Taylor Swift, stay tune on one-o-one point forty five, Truk FM."
Suara bawel si penyiar mulai mengecil seiring intro lagu yang berkumandang. Ashton mengetukkan jarinya ke setir. Ia belum pernah mendengar lagu penyanyi blonde itu yang ini.
Ashton berusaha membunuh kebosanan menunggu kemacetan dengan mencoba menyerapi isi lagunya dan Ia tercekat saat mendapati bagian akhir refrain yang jika diubah gender subjeknya akan sesuai dengan keadaannya kini.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)