'... For love, is not ours to command.' - Alan Watts
***
Stefanus seakan bisa menangkap gemanya dari kejauhan. Lamat terdengar berpendar lalu memudar. Gema dentangan dari sebuah genta pengingat kecil yang begitu ia takuti dalam hatinya, yang nyatanya tak lantas berhenti lalu mati.
Ia sudah terlanjur terkonversi menjadi sesuatu. Dan sesuatu yang tak pernah sudi ia kenang lagi itu kini -seolah ia bisa merasakannya- berdenyut mengerikan dalam pembuluh darahnya. Perlahan menjalar dari ujung-ujung jarinya.
Pria itu meneguk ludah, lalu diteror sedikit horor kuno, ia memutuskan menoleh kembali ke tempat epik tadi dan tak lama membuang muka lagi.
Sebenarnya, tidak semua persis serupa. Tapi ia tahu sandi air mata itu. Sandi yang sama. Yang pernah pula terbaca, yang dulu pernah ia lihat sendiri dengan mata kepala.
Sandi kematian yang jauh lebih menyengsarakan -menghantui- daripada kematian fisik. Sesuatu yang ia tak mau terjadi lagi. Pada siapapun kecuali cukup dirinya sendiri.
Jangan. Jangan begini lagi.
"Papa?"
Sebuah sapaan mendadak membuat Stefanus terpaksa kembali dari sesat dalam lorong ingatannya sendiri. Ia perlahan menoleh, lalu hanya terdiam saat mendapati ternyata Luke yang sedang mengernyit ke arahnyalah yang baru saja memanggilnya.
Pria paruh baya itu hanya bisa menyuarakan 'a' pelan, satu-satunya reaksi yang mampu ia berikan sementara dirinya masih berusaha mencongkeli kerak-kerak kesadaran.
"Papa kenapa?" Tanya Luke lagi, terdengar sedikit hati-hati kali ini.
Stefanus mengerjap dua kali, seakan benar-benar baru sadar detik ini. Mungkin nada keheranan pada suara Luke mulai membangunkan ia sepenuhnya. Pria itu, buru-buru membenahi rautnya, lalu mengurai jemari tangannya yang -bahkan ia tak sadar sejak kapan- terkepal begitu kuat.
"Pa, k-"
"Kamu tidurlah." Ucap Stefanus dengan aksen asing yang cukup kental, memotong ucapan Luke agar tak usah bertanya lebih jauh. Pria itu tak ingin, sungguh tak ingin mengingat-ingatnya lebih jauh.
"Ta...."
"Bonne nuit." Ucap Stefanus dengan nada final, tak susah-susah menunggu balasan Luke lalu mulai berjalan mendekati tangga.
Namun tapak pria itu sedikit melambat saat melintasi pintu kamar putra bungsunya, tempat peristiwa tadi. Sebenarnya ia ingin tahu ada apa dibalik semua kejadian ini, tapi ia tak sanggup bertanya dan mengetahui lebih lagi.
Stefanus terdiam saat tangannya mulai menggenggam pegangan tangga. Dingin besi menusuknya lebih dari yang ia kira, kebasnya terasa hingga ke ulu hati. Ia menghela nafas sambil memejamkan mata sesaat. Malam ini, mimpi buruk berusia puluhan tahun itu pasti akan datang lagi.
***
Mengapa seringkali, sesuatu yang tidak kita harapkan, malah akan menjadikan diri tanpa sungkan?
Kali ini pagi, ditemani embun dan bias matahari yang mengkhianatinya. Frisca hanya bisa menghela nafas lelah ketika matanya mengintip dari balik selimut. Fajar terlalu cepat menyingsing hari ini, dikawali kilauan kelewat cerah yang seolah gembira mengejeknya.
Gadis itu menggigit bibir, menendang selimut hingga mengerut dan menumpuk di sisi ujung ranjang dekat kakinya, lalu menarik diri untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya. Ia memandang dalam kehampaan hingga selewat beberapa saat.
Frisca mengerjap dan menarik nafas berat lagi, lalu memutuskan benar-benar bangkit dan bersiap berbilas diri. Sarapan harusnya dimulai sepuluh menit lagi, sesuai jadwal sehari-hari.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)