Lalu inilah. Akhir dari segala akhir.
Sesungguhnya, Frisca tak seberapa terganggu dengan tragedi pagi tadi. Karena itu yang diam diam ia tunggu. Pelatuk fatal yang harus ditarik agar keputusannya semakin siap dipentalkan.
Frisca sudah tahu bahwa segalanya memang serupa bom waktu. Yang sudah terpicu sejak awal malam itu. Dan saat-saat singkat bersama Calum hanya sela dalam detik sampah yang dipulung tak rela untuknya. Lalu pagi tadi sampailah sulutan itu pada utasan terakhir sang sumbu. Yang lantas meledak dan menghancurkan segalanya menjadi abu, termasuk sampah itu.
Pintu jati ini, lagi-lagi terdaulat menjadi saksi. Atas segala yang telah dan akan terjadi. Terkenang di benak Frisca pelatuk yang dilepas Calum pagi tadi. Dan disinilah Ia untuk mengamini ucapan itu. Masa lalu tidak berharga ini harus terputus, agar pemuda itu bisa berjalan terus.
Frisca memasuki kamar Calum tanpa mengetuk. Apapun yang terjadi, Ia sudah tak mau lagi peduli. Karena telah diterimanya cacian yang paling menyakitkan hati. Cacian penolakan yang tak sanggup lagi mementahkan keputusannya kali ini.
Frisca memegangi jantungnya sendiri. Sesuai janjinya pada Luke, tak boleh ada lagi air mata yang terkuras sehabis ini.
Dan hati mengenal kepedihannya sendiri, yang tak bisa dipungkiri penampikan. Kepedihan menguliti hati Frisca hingga berdarah, ketika mendapati punggung pemuda itu tengah berada di balkon, memunggungi pintu kaca yang terbuka dimana didekatnya Frisca berdiri.
Dan disinilah Frisca, dengan setiap inci keteguhan hati. Yang kali ini takkan dibiarkannya tergoyahkan apapun lagi.
Begitu banyak yang ditahan dalam ujung lidahnya. Semua kenangan, kenyataan bahkan angan yang belum sempat terpetakan. Segala perjuangan teramat panjang yang ternyata sebegitu singkat dipertahankan. Semuanya tersumbat dalam pangkal tenggorok gadis itu.
Frisca melangkah pelan memasuki ambang pintu, membiarkan derapnya tak terdengar. Gadis itu terdiam, merenungi tiap waktu yang tersisa seakan ini akhir hidupnya, membiarkan potongan siluet tegap itu menyihirnya, siluet yang membuatnya terperosok lebih dalam lagi.
Beberapa menit yang terlewat tanpa sedikitpun suara mulai terasa mencekam. Hingga akhirnya suara sedingin laut baltik itu terdengar, "Nyari gue?"
Pertanyaan itu menyentak Frisca, menyadarkan Frisca bahwa sesungguhnya pemuda itu tahu Ia disana. Dan cara panggilan siluet itu untuknya kali ini, membuat gadis itu mengerti pula bahwa ia memang bukan siapa-siapa lagi.
Frisca menunduk lalu mengulum bibir, tiba-tiba tak tahu bagaimana memulai penghabisan ini karena lidahnya kelu. Lantas lagi-lagi disiakannya waktu yang terus berlalu.
"Mau berdiri di situ sampai kapan?"
Frisca mengangkat wajah tepat ke ketika mendapati Calum menengok sekilas ke arahnya lewat balik bahu. Bola mata pencair tembaga itu mengeras, lalu tak lama pemuda itu membuang pandangan ke depan lagi.
Frisca menggigit bibir, memainkan jarinya lalu menghela nafas panjang sebelum melantun balasan.
"Sebentar lagi saja," jawab gadis itu telak, membuat Calum diam-diam tersentak.
Tiga ujaran penghambat keputusan Frisca kala itu. Tujuh silabel yang kini terasa hampa. Karena gadis itu menyadari bahwa 'sebentar' pun hanya kata. Kerancuan makna bisa membuatnya berarti, berlaku dan berakhir kapan saja. Mungkin esok hari, sepuluh tahun lagi atau bagi Frisca, bermakna kini. Detik berarti yang terus menetes dan tergenang mati.
Ini apa yang sebenarnya ingin Ia katakan di rumah pohon tempo hari.
"Kamu tahu? Penerima kata itu sudah mengerti sampai batas mana kekuatannya untuk bertahan. Tiga kata itu sudah membuatnya mati rasa. Dan tak bisa lagi Ia mengerti apa tujuannya,"
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)