Bab 31 (Bagian B)

3.5K 533 328
                                        

Frisca tak tahu bahwa persiapan pesta pertunangan saja ternyata serumit ini. Rasa-rasanya Romi begitu bersemangat ingin mengalahkan persiapan Royal Wedding antara Prince William dan Kate Middleton di kerajaan Inggris sana. Tapi, mungkin semua kerumitan ini juga pengaruh penyelenggaraan yang terkesan mendadak. Gadis itu tak tahu.

Di tengah masa ujian Romi lah yang kini kerap menjemputnya. Mengajak gadis itu ke beberapa desainer lokal ternama yang berbeda (bahkan termasuk ke Mas Dipta) bergantian tiap hari. Melihat-lihat venue (dengan akhir keputusan, pesta akan diadakan di sebuah function room berukuran sedang milik hotel ternama), memilih tema warna dekorasi, mencicipi tester makanan dari vendor catering berbeda dan akhirnya, membuat janji untuk melakukan photoshoot (semacam pre-engagement) dengan seorang fotografer langganan para socialite.

Hingga hari itu, hari pertama bulan selanjutnya, hari pertama liburan Frisca (sekaligus seminggu lagi menuju rencana kepulangan gadis itu ke desa), Romi menyuruh Frisca menemani Luke di ruang tamu kamar pemuda itu, untuk mencatat daftar nama yang akan dicetak pada undangan.

"Ms. Linda Faustina, Ca." kata Luke pelan, sambil menggerakkan panah visual pada layar untuk meng scroll-down daftar kontak pada akun emailnya.

Frisca menggumam sendiri, lalu menulis nama yang disebut Luke tadi, "Linda Faustina, darimana?"

Pemuda itu mengambil cangkir teh di meja, menyesapnya sesaat, "Mmm... Purchasing Manager of Way & Co."

Ia mengangguk-angguk lagi, lalu meneliti sebentar daftar yang sudah ditulisnya, "Ini dari perusahaan semua? Kakak gak undang dari temen sekolah atau kuliah?"

Luke membuang pandangan ke arah Frisca, mengerucutkan bibirnya, "Kebanyakan mereka masih di luar (negeri), sebagian kehilangan kontak. Nanti aja bener-bener di track, kalau buat ... undangan pernikahan."

Bahkan Frisca tersedak, bergidik sedikit ngeri mendengar ucapan tadi.

Sementara menyadari perubahan raut wajah gadis di sebelahnya membuat Luke tersenyum tertahan, ia mengacak rambut Frisca, "Bercanda, kalau iya, juga masih lama." kata pemuda itu, lalu kembali memperhatikan tampilan emailnya.

Setelah beberapa nama lagi, akhirnya Luke malah bersandar dan merentangkan tangannya ke atas kepala sofa lalu menarik nafas panjang. "Istirahat dulu, Ca."

Frisca mengangguk lagi, meletakkan pulpen ke atas kertas lalu memutuskan mengacak rak di bawah meja ruang tamu Luke. Karena tidak ada apa-apa yang menarik minatnya, ia memutuskan menyambar majalah Forbes disana saja.

"Hey, come here," ujar pemuda itu pada Frisca. Luke menepuk bahu kanannya sendiri, mengisyaratkan agar gadis itu bersandar disana daripada duduk melengkung tanpa tumpuan.

Frisca menatap Luke ragu sesaat, lalu akhirnya memandang ke depan lagi, membenahi posisi duduknya sedikit lebih ke belakang dan meletakkan kepala di bahu pemuda itu.

Ia menahan nafas sendiri ketika Luke melingkarkan tangan melewati belakang tengkuk dan pundaknya. Namun, Frisca membiarkan pemuda berkacamata itu mengusap-usap lengannya. Terasa nyaman, walau sedikit janggal entah kenapa.

Lalu setelah itu, Frisca memejamkan mata sebentar. Menangkap detak jantung Luke yang terdengar samar hingga ke telinganya lalu menarik nafas.

Bukankah ini yang dulu ia ingini? Batinnya mulai mendoktrin sendiri. Berada dalam posisi ini? Mengharap keajaiban, hingga ia cukup pantas menjadi pendamping pemuda ini, yang kini sudah terjadi? Jadi, walau sudah pernah terkontaminasi, harusnya tak sesulit itu. Untuk meminta hatinya menyayangi Luke lagi.

Gadis itu membuka mata, mengangkat kepala dan melirik sesaat pada wajah rupawan yang nampak sibuk mengulik ponsel dengan satu tangan. Lalu ia menurunkan kepala lagi dan membolak-balik majalah Forbes yang mengangkat issue 'Billionaires' di tangannya.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang