Bab 32 (Bagian C)

3.7K 513 664
                                        

Sepulangnya dari pemakaman, Calum dan Frisca malah makin diam seribu bahasa. Entah bingung, entah salah tingkah. Hanya dua orang itu yang tahu kenapa.

Pletak pletok.

Di tengah kesenyapan, tiba-tiba Calum berhenti di satu ruas, mengerutkan kening melihat sekumpulan anak kecil asik bermain menghadap sebuah aliran air kecil di tepi jalan. Mereka mencabut sesuatu dari tumbuhan liar yang merambat di dekat sana, lalu melemparkan apapun-itu-namanya ke dalam aliran air hingga menimbulkan bunyi pletak-pletok yang menggoda.

"Itu apa?" tanya Calum, mengurai kerutan keningnya, kini terpesona.

"Oh," Frisca menoleh ke arah Calum, mengernyit mendapati pemuda itu benar-benar tampak takjub, "Itu urang-aring,"

"Hah? Yang buat rambut itu? Kok bisa begitu?" tanya pemuda itu, menoleh sekilas ke arah Frisca, lalu kembali memperhatikan permainan unik itu.

Frisca tersenyum kecil, lalu berjalan maju mendahului Calum hingga kini berhenti dan berdiri di sebelah anak-anak tadi. Lantas ia membungkuk untuk mengambil satu bagian dari tanaman urang aring lalu menoleh ke belakang, "Nih,"

Calum menghampiri Frisca ragu-ragu, sedikit malu, tapi akhirnya mengambil juga apa yang disodorkan gadis itu. Dengan lagak seolah tak acuh, pemuda itu melempar apa yang dipegangnya ke dalam aliran air, "Ih, lucu" serunya, tiba-tiba malah heboh sendiri ketika mendengar bunyi pletok keras.

"Coba, coba sini lagi." kata Calum, meminta 'amunisi' selanjutnya pada Frisca, yang patuh saja.

Lalu pemuda itu mulai ber-oh dan ah sendiri, benar-benar terlihat kesenangan, hingga gerombolan anak kecil yang lebih dulu bermain tadi memandanginya heran.

Bodo amat, batin Calum, yang kini sampai berjongkok di depan aliran air, mulai mencabut sendiri urang-aringnya. Mana pernah pemuda itu bersenang-senang dengan mainan meriah yang disediakan alam sebelum ini.

"IH! OM JELEK NORAAAAAAK!"

Calum melotot, lalu menoleh ke belakang, tercengang mendapati musuh kecilnya berdiri di sana. Tanpa seragam, namun satu tangan mungilnya menggenggam sebuah buku tipis dan pensil, tampaknya baru pulang sekolah.

"Yeh. Suka-suka." seru pemuda itu tak mau kalah lalu menghadap ke depan lagi.

"Kak Ica hayuuu balik. Omnya biarin. Hayuuuk," seru Adit, menarik-narik tangan Frisca.

"Yeh. Orang Kak Ica nya mau disini." kata Calum, tersulut kesal lalu berdiri.

"Ih. Mau balik sama aku bweeek." kata Adit, menjulurkan lidah dan menarik tangan Frisca lagi.

"Kak Ica nya mau disini." balas Calum kekanakan, lalu tanpa berpikir meraih tangan gadis itu yang satu.

Frisca terkesiap saat merasakan jemari Calum meniti miliknya, lalu entah kenapa reflek menarik tangannya sendiri.

Ia menatap wajah Calum yang nampak terluka sekilas, lalu menggigit bibir dan beralih menatap Adit. "Ayo pulang, Dit."

Adit, tidak mengerti bahwa apa yang sedang terjadi kini sudah menyangkut masalah hati, bukan lagi hanya karena perebutan perhatian kekanakan tadi, lagi-lagi menjulurkan lidah ke arah Calum. Merasa menang.

"KAK ICANYA GAMAU SAMA OM. Bweeek."

***

Tidak ada Luke, malah ada tuyul satu itu. Hhh. Kenapa banyak sekali rivalnya? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, kenapa banyak sekali yang menyayangi Frisca? Lalu kenapa pula gadis itu tadi menepis tangannya? tanya hati Calum yang berdenyut-denyut menyakitkan.

Pemuda itu menghela nafas, lalu menatapi bocah yang sedang berada di pangkuan Frisca di seberangnya, di atas sebuah sofa lapuk -yang mirip dengan yang ia duduk sendiri- di ruang tamu sempit Bu Tami.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang