Bab 34 (Bagian D)

3.7K 485 724
                                        

".... Jujurlah,"

Kata pengakhir kalimatnya yang terkesan sedikit mendakwa. Seumpama hakim pada tersangka.

Luke bukan posesif, hingga terkesan begini bersikeras. Ia sejujurnya, hanya terlalu menyayangi gadis yang mewarnai romansa pertama dalam hidupnya itu, sampai tak ingin kehilangan hanya karena setitik ketertutupan. Ia sudah hidup selama belasan tahun, menampik banyak sekali tawaran gadis lain hanya untuk menunggu gadis ini, menunggu Frisca.

Luke bukan egois, hingga terkesan begini tak mau kalah. Tapi bukankah ia yang -secara fakta waktu- lebih dulu menemukan gadis ini sebagai pusat gravitasi bukan adiknya? Lalu mengapa gadis itu -di pradugakan- lebih senang memikirkan sang adik, yang notabene pula pernah menyakitinya? Mengendapkan luka?

Luke bukan pamrih, hingga terkesan begini menuntut. Tapi bukankah ia yang membantu membubuhkan obat dan memoles lembut sisa-sisa memar itu pada Frisca? Lantas kenapa gadis itu tak bisa membalasnya dengan sedikit kejujuran saja? Dan ketidakmengertiannya, jujur saja, kali ini sudah berada di ambang batas.

Sementara itu, Frisca sendiri masih menunduk kalut. Ia tak pernah mendengar Luke berujar dengan nada begitu sebelumnya. Sedikit menuduh, memaksa. Hatinya mulai terasa makin resah. Ini kondisi yang tidak diduga-duga. Kenapa di malam terakhir begini baru dirasakannya keraguan yang amat sangat.

Gadis itu mengangkat wajah tak berapa lama, lalu hanya terdiam kala mendapati Luke ternyata sedang bersandar di sofa sambil memejamkan mata, air mukanya masih terlihat sedikit menegang, dan beberapa kali pemuda itu terdengar menghela nafas panjang.

Frisca ikut mendesah, menggigiti bibirnya. Luke semarah itukah? Atau lebih parah, sekecewa itu kah? Kenapa dirinya ini selalu menjadi gadis penjahat sih?

Drrt .. Drrt..

Frisca menghela nafas sebentar saat tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia pun merogoh saku dengan sebelah tangan lantas mengernyit. Calum?

Gadis itu terkesiap lagi, kali ini karena merasakan genggaman hangat dalam kumpulan jemarinya yang lain. Ia mengangkat perhatian dari ponsel, lalu menahan nafas karena ternyata Luke yang -masih memejamkan mata lah, yang- menaut telapaknya. Usapan pelan pemuda itu mengusik hatinya. "Saya hanya ingin kamu bahagia bersama saya, Ica." ujarnya pelan

Masih dikadari sedikit keterpanaan, Frisca perlahan melirik kembali isi pesan yang dikirimkan pemuda lain itu. Yang hanya berisi dua kata, tak panjang pula.

'Berbahagialah, Frisca.'

Kegalauan akut yang mendadak menghimpit benak Frisca, ternyata tanpa sadar membuat gadis itu tak bisa lagi membaca apa yang tersirat, kecuali yang tersurat. Frasa 'Berbahagialah, Frisca.' Baginya kini, tak ada makna bersayap dalam pesan singkat itu.

Tak ada bentuk kegentlean atau kebesaran hati yang bisa ia tangkap dari apa yang coba Calum buat. Tak ada sedikitpun kesan yang bisa membuatnya terdorong untuk menganulir keputusan. Kali ini yang ia tahu hanya satu. Calum sudah mundur dari kancah pertempuran, sementara Luke masih bertahan.

Lalu dua ujaran, baik dalam lisan maupun gurat pesan itu mulai mendesak dan siap membuat Frisca mencelat seperti pradeteksi. Walau tak semua akan sesuai perkiraan, karena nampaknya serpih lonjakan ini nanti takkan membawa materiil yang sang penarik pelatuk harapkan.

Sesungguhnya penghabisan kali ini pun takkan langsung menyentak, tak bising lantas secara kasat meledak. Melain merayap, tetapi tetap dengan daya kejut yang sama-sama merusak.

Repetitif. Dua kalimat kontradiktif itu beradu lagi. Berkejar-kejaran. Mengacaukan pikiran. Memualkan pilihan.

"Berbahagialah, Frisca."

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang