Bab 32 (Bagian B)

3.3K 532 515
                                        

Plak.

Masih terpejam, Calum menampar pipinya lalu mengaduh sendiri saat bagian itu berdenyut-denyut menyakitkan. Ia membuka mata tak rela, lalu merutuk dalam hati. Nyamuk sialan.

Beberapa saat, pemuda itu mengerjap-ngerjap, lalu berguling, mengubah posisinya hingga kini terlentang. Calum menatap plafon putih pudar dengan bercak-bercak coklat di atasnya dan menguap. Pantas saja banyak nyamuk. Ia baru ingat ia tidak di Jakarta.

Pemuda itu takjub juga, menyadari ia bisa begitu pulas tidur di atas kasur tipis. Mungkin kelelahan kemarin mengalahkan segalanya. Tak lama, Calum sudah dalam posisi duduk, memijat bahunya sendiri, sakit sekali.

"Udah bangun?" ujar sebuah suara merdu tiba-tiba.

Calum membuang pandangan ke arah Frisca, mengangguk.

"Sarapan dulu sana. Tapi disini cuma ada makanan seadanya. Gak kayak di Jakarta," tukas gadis itu, entah menyindir entah tidak.

"Gue gak laper, tapi gerah. Mandinya dimana?" tanya Calum, melihat bahu Frisca yang digantungi handuk.

"Di sungai," jawab Frisca sambil menatap Calum, membuat pemuda itu membelalak dengan arti 'Serius lo?!'.

Frisca tiba-tiba tertawa, "Becanda. Ada kamar mandi kali disini."

Calum terpana. Bukan karena fakta bahwa di rumah kecil ini ada kamar mandi. Tapi karena Frisca tertawa. Entah berapa lama gadis itu tak tertawa di hadapannya. Ia pun tak tahan berujar, "Lo cantikan ketawa lagi, Ca. Daripada merengut mulu ngeliat gue."

Gadis itu langsung merubah air mukanya, ketus.

Calum mencibir, "Tuh. Baru dibilang,"

Frisca berdecak, "Udah deh. Cerewet. Kalo mau mandi, mandi sana." katanya lalu beranjak pergi.

Pemuda itu mengulum bibir sejenak. Dengan ketiadaan Luke, tampaknya lebih mudah merebut hati gadis itu lagi. Lihat saja nanti.

***

Pagi pertama itu.

Ternyata benar-benar tak semudah itu hidup di desa. Pertama kalinya Calum berjuang begitu keras hanya untuk mandi. Kalau di kediaman Hemmings, ia tinggal mengatur temperatur lalu memutar keran dan voilà! Keluarlah air untuk memenuhi bath-ub nya. Namun kini, sebelum membilas diri ia harus melewati prosesi menimba. Coba dieja. Me-nim-ba.

Memang ada kamar mandi di rumah Bu Tami. Kamar mandi yang luasnya hanya beberapa jengkal, dengan sebuah lubang pembuangan air kecil di lantai, kloset jongkok dari semen alakadarnya dan bak mungil TANPA keran. Sehingga bak itu harus diisi air dari sumur di belakang rumah, setiap siapapun akan melakukan 'acara' apa saja disana.

Calum merasa benar-benar tersiksa. Sempat dipikirnya mau mandi atau tidak. Masalahnya, ia terbiasa mandi dengan air bertemperatur sama setiap harinya, juga dengan sabun cair dari susu kambing yang sayangnya lupa ia bawa.

Walaupun akhirnya tak tahan lengket dan mandi juga, ia sempat menatapi air yang ditimbanya (diam-diam bangga juga bisa menimba sendiri) beberapa lama. Mengira-ngira ada kuman apa saja yang belum tersterilkan disana.

Lalu, sarapan pun benar-benar yang ada saja. Roti yang ia makan bertekstur kasar, dioles dengan selai strawberry buatan sendiri yang sama sekali tak bisa disetarakan dengan selai St. Dalfour yang dipasok kediaman keluarganya langsung dari Paris.

Pemuda itu berusaha menelan rotinya, lalu menatap Frisca dan Bu Tami yang duduk berturut di meja makan kecil yang sama, berbincang pelan. Kalau tuyul yang kemarin itu, dengar-dengar sudah berangkat ke TK gratis-nya yang memang belum libur sampai akhir minggu ini.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang