Pada akhirnya, Frisca malah benar-benar tertidur. Begitu ia membuka mata, ia hampir saja melonjak kaget melihat siapa yang ada di samping ranjangnya. Romi.
"Sudah bangun?" Tanya wanita itu, tersenyum kecil.
Frisca hanya balas tersenyum sambil mengangguk lalu menarik diri untuk duduk, "Ada apa, Bu?" Tanyanya pelan.
Romi mengisyaratkan gadis itu untuk melihat ke arah jam dinding, "Setengah jam lagi Mas Doni datang, mau make-up sama hair-do kita. Tadi saya pesan Bi Rahmi nanti suruh Mas Doni ke kamar kamu aja, biar lebih deket."
"Oh," tanggapnya singkat, merasakan tepi jantungnya berdenyut-denyut tak nyaman akibat singgungan tak langsung acara itu.
Wanita itu menarik nafas, lalu turut duduk di tepi tempat tidur Frisca, kembali memandang gadis itu, "Bagus juga kamu tidur siang, habis ini tinggal mandi. Supaya nanti malam gak terlalu capek."
Frisca hanya mengangguk, sementara Romi beralih mendesah, "Saya tidak bisa tidur," keluhnya pelan.
"Kenapa, Bu?" Tanya Frisca, mengangkat dua alisnya.
Romi tersenyum sedih ke arah gadis itu, "Boleh saya minta sesuatu dari kamu?" Pintanya lirih.
Frisca sempat mengernyit sesaat, sebelum akhirnya mengangguk mantap.
Wanita itu tersenyum kecil, lantas beringsut makin dekat pada Frisca yang masih bertanya-tanya. Romi ternyata mengulurkan tangan lalu menarik Frisca ke pelukannya.
"Ibu.." Ucap gadis itu tercekat, lalu terdiam sendiri ketika Romi terus menarik nafas lelah. Frisca tergerak untuk menepuk punggung wanita itu pelan.
"Ibu kenapa?" Tanyanya lembut.
Romi memejamkan mata, membenahi posisi dagunya di bahu Frisca, "Maafkan aku, Ratya."
Frisca termangu, bertanya-tanya ada apa hari ini dengan masa lalu. Kenapa semua orang melihatnya sebagai -koneksi- Bunda.
"Ibu kenapa?" Tanya gadis itu lagi.
"Maaf untuk kakak," ucap Romi lirih, sambil terus mengelus rambut Frisca, "Hari ini anak-anak kita yang meneruskan jalannya, memperbaiki kesalahan kita pada masa sebelumnya. Bantu mereka menuntaskannya, Ratya."
Frisca kontan terdiam, merasa ucapan Romi sama dengan mengalihtugaskan beban masa lalu pada pundaknya, seakan ia belum punya cukup beban saja. Ia mendesah.
Romi pun tak lama melepas pelukannya lalu menatap Frisca dengan pandangan meminta maaf, "Saya tidak tahu bagaimana cara bicara pada Ratya kecuali melalui kamu," ia tersenyum perih lalu mengusap wajah gadis di hadapannya.
"Melihat kamu, darah Ratya bisa bersanding dengan putra saya, darah daging Kakak, membuat saya merasa sudah bisa menebus sedikit rasa bersalah saya. Seperti melihat mereka bersama pada akhirnya. Stefanus dan Ratya, tanpa Romilda."
Gadis itu tertegun iba, mendengar ucapan Romi yang seakan tahu ia tidak diinginkan. Sesungguhnya wanita baik hati ini pun pantas bahagia. Ah. Kejadian sekadaluwarsa itu, masih sebegini berpotensinya menyakiti semua sisikah? Kejam sekali.
Romi tersenyum malu memandangi Frisca, "Saya bodoh ya?"
Frisca menggeleng, menarik tangan Romi dari wajahnya dan menggenggamnya kuat, "Ibu gak bodoh. Tapi Bunda -aku yakin-... sudah memaafkan Ibu dan Bapak sejak jauh lama. Ibu gak boleh begitu."
Gadis itu tersenyum tipis, lebih dahulu memeluk Romi kali ini, "Ibu gak boleh begitu," ucapnya pelan, sambil memejamkan mata.
Ia seakan bisa merasakan kesakitan semua pelakon itu kini. Stefanus yang berusaha menipu diri bahwa ia bisa melupakan Ratya. Ratya yang menipu diri bahwa ia bisa mencintai orang lain selain Stefanus, lalu Romi yang menjalani hidup dengan kepura-puraan, kepercayaan kosong bahwa suatu saat Stefanus bisa membalas cintanya.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)