H minus satu perayaan, rasanya semua orang berubah seketika. Entah karena pra-euforia, entah karena tekanan yang melanda. Pagi itu, Frisca yang sudah merasakan debaran tak tenang di dadanya sendiri akibat memimikirkan acara besok, dapat merasakan perubahan itu berdesau pula di sekeliling ruang makan.
Romi, tampak sekali gampang meledak-ledak pagi ini. Hanya karena morning coffee-nya terkecap sedikit lebih manis kali itu, ia mengomeli Bi Rahmi sepanjang sarapan. Padahal di hari-hari biasa tentulah sang Nyonya takkan membesarkan perkara remeh macam tadi.
Luke, tampak lebih ceria. Berulangkali ia melontarkan lelucon lucu untuk mencairkan ketegangan yang memang terbukti dapat mengocok perut, namun karena sayangnya satu dari mereka sedang berperasaan buruk, sisanya pun segan untuk tertawa. Akhirnya, pemuda yang menjadi salah satu pemeran dalam perayaan penting besok itu pun menyalurkan saja semangat berlebihannya untuk mencubiti pipi gadis di sebelahnya terus menerus. Cubitan penuh cinta, tentu saja.
Lalu Stefanus, yang lagi-lagi memusuhi koran berbahasa Inggrisnya pagi itu, beberapa kali -sepertinya- melirik Frisca dengan beribu arti tak terbaca. Seperti campuran sirat bingung, tak suka namun juga -seakan- ingin tahu.
Sempat ada asumsi melintas dalam pikiran Frisca tentang pria paruh baya itu, namun tidak begitu ia pikirkan. Ada hal lain yang membuat gadis itu lebih bingung.
Dari keempat orang yang coba ia telaah perubahannya, Calum -anehnya- tampak normal, tidak terlihat kesal atau menunjukan ada yang akan membuatnya terganggu, seperti yang diperkirakan. Ia memakan roti srikaya dan susu putihnya -yang memang senikmat biasa- dalam diam. Meski sesekali kedua alis tebalnya bertaut erat, seperti sedang berpikir keras.
Tak seperti hari-hari sebelumnya, pemuda itu tak banyak memandangi Frisca atau memperlihatkan gelagat kecemburuan dalam rautnya. Beberapa kali di pagi itu, ganti Frisca yang mencuri pandang ke arah Calum. Entah kenapa, kini gadis itu sendiri malah merasa ada sesuatu yang kurang, seakan menghilang. Perhatian Calum yang tanpa sadar ia rindukan kan?
Hei. Gadis itu membentak dirinya sendiri dalam hati, lalu menggeleng-geleng kecil. Ada apa dengan perasaannya ini? Mungkin cuma pengaruh ketegangan saja, sergahnya sendiri.
"Hari ini gak kerja kan, Luke?" tanya Romi tiba-tiba, nadanya masih sedikit tinggi walau tak begitu terlihat seemosi tadi.
Luke menggeleng, "Enggak sih, kan cuti sama besok. Tapi nanti jam empatan ada meeting di Kencana, Ma. Gak bisa postpone. Di agendaku high-priority."
Romi mengangguk-angguk, "Jangan pulang terlalu malam," tak lama wanita itu mengusap sudut bibirnya dengan ujung napkin, lalu berujar mantap, "Hari ini semua harus istirahat yang cukup. Mama tidak mau besok tidak berjalan seperti seharusnya. Besok acara dimulai jam delapan. Jam enam semua harus sudah rapi. Setengah tujuh tepat kita berangkat dari sini ke Brew."
"Calum," Romi kali ini menoleh pada putra bungsunya.
"Hmm?" tanya Calum singkat.
"Hari ini Mama mau ambil kotak baru. Nanti malam Mama taruh di kamar kamu sekaligus cincin yang kemarin kamu kembalikan. Mulai nanti malam itu tanggung jawab kamu. Tidak boleh hilang."
Calum mengangguk saja, lalu menarik nafas, lantas untuk pertama kalinya pagi ini, tanpa sengaja ia melirik Frisca yang berada di seberang meja. Ia tertegun ketika mendapati mata bening gadis itu ternyata tengah menatapnya juga. Entah dari kapan, nampaknya tidak sebentar.
Lalu, kala pemuda itu mengangkat alis setelah terus beradu pandang selama beberapa detik, Frisca tiba-tiba membuang muka, seakan baru sadar ia tertangkap basah.
***
Daripada meladeni perasaan tak karu karuan -yang menurut praduganya sendiri, masih- akibat nervous akan acara besok (dan bukan karena aduan tatapannya dengan Calum tadi), di kamar sepanjang siang. Frisca akhirnya menarik nafas dan memutuskan ingin pergi ke lantai empat saja, ke kamar Luke.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)