Bab 28 (Bagian B)

4K 546 719
                                        

Ratya mulai diawangi negeri mimpi. Awan putih membawanya naik jauh-jauh tinggi ke kastil imajinasi yang tak pernah Ia kunjungi.

Romi yang baik setengah mati, berjanji menjaga rahasia Ratya rapat-rapat. Soal pekerjaannya, soal nama lengkapnya (yang tak Ia beritahu pada siapa-siapa), juga soal hubungannya dengan Stefanus Hemmings. Walau gadis itu tetap terpaksa menyembunyikan soal asal-usulnya.

Sementara tentang Stefanus. Ah. Darimana memulainya? Pemuda itu seakan membuatnya merasa menjadi putri setiap hari. Mengubur ketakutannya dulu dengan perasaan senang yang membuncah begitu hebat. Bahkan Stefanus pernah mengajaknya duduk di bawah pohon jati di taman belakang sekolah suatu hari, menunjukkan sesuatu padanya. Sebuah cincin dengan mata mahkota mungil.

"Ini cincin pertunangan turun-temurun keluarga Papa. Semua pemuda di garis keluarga inti Papa memakaikan cincin ini kepada gadis yang akan ditunanginya. Begitu juga Mama. Barulah setelah ada cincin pernikahan, cincin ini akan dilepas dan diturunkan untuk generasi selanjutnya."

Ratya ingat Stefanus memandanginya setelah itu, "Cincin ini juga nanti akan kupakaikan ke jari manismu," janji pemuda itu.

Tapi ternyata mimpi toh hanya mimpi. Yang harus buyar ketika kesadaran membangunkan, Ratya baru mengerti bahwa durasi bunga tidurnya hampir menuju akhir, malam itu. Saat itu Ia sedang berada di kamar Stefanus untuk minta diajari materi fisika yang tak Ia kuasai.

"Ini bagaimana caranya?" Tanya Ratya pelan.

"Ya ampun Ratyaaaa. Aku sudah menjelaskan materi ini berulang kali..." jawab Stefanus gemas.

Ratya menggembungkan pipinya, "Tapi aku tetap tidak mengerti."

"Ck," Stefanus berdecak pelan, lalu timbul ide jahil di kepalanya, "Tutup mata,"

Ratya mengernyit "Untuk apa?"

"Tutup mata." Kata Stefanus memaksa "Aku mau membisikimu mantra supaya cepat pintar."

"Serius?" Tanya Ratya tak yakin.

Stefanus mengangkat alis, mengiyakan. Ia tersenyum sumringah saat gadisnya benar-benar menutup mata. Pemuda itu baru saja mendekatkan wajahnya kea rah pipi Ratya saat tiba-tiba pintu menjeblak terbuka.

"STEFANUS HEMMINGS!"

Suara Ivona melengking tajam menyakitkan telinga. Matanya berapi-api melihat posisi Stefanus dan gadis pelayan itu. Ternyata kecurigaannya selama ini benar.

"KAMU SUDAH GILA ATAU APA? KAMU LUPA DIA ITU APA?"

Ratya mengerut saat melihat Ivona menatapnya tajam. Seakan tak bisa membaca suasana, Stefanus malah mengenggam tangan Ratya, lalu berdiri menantang Mamanya.

"Dia manusia, Mama. Dan aku menyayanginya."

Ivona menggeleng geram lalu berkata tajam, "Tahu apa kamu soal kasih sayang? PUTUSKAN DIA! BESOK JUGA KAMU AKAN MAMA PERTEMUKAN DENGAN ANAK TEMAN MAMA!" Ivona kembali menatap Ratya, "Pelayan tak tahu diri."

"Mama!" Stefanus menghardik Mamanya, membuat Ratya mencengkram tangan pemuda itu sambil berbisik pelan "Jangan .."

Tak lama. Pintu yang menjeblak terbuka menghadirkan sosok Hemmings yang kebingungan, "Ada apa ini? Ivona? Stefan? Kamu?"

Hemmings benar-benar tengah membutuhkan ketenangan. Perusahaan ekspor-impornya itu tengah menghadapi masalah. Ada defisit besar yang membuatnya memiliki dua pilihan. Membiarkan perusahaan itu mati perlahan atau membiarkan seorang investor asing member ¾ saham milik Hemmings (minus milik Davara) dengan catatan perusahaan harus 'dipindahkan' ke Negara asal sang investor, Paris.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang