Bab 33 (Bagian B)

3.8K 508 485
                                        

Jangan berakhir
Aku tak ingin berakhir
Satu jam saja
Kuingin diam berdua
Mengenang yang pernah ada

Tidur. Lagi. Pemuda itu tersenyum, menatapi figur Frisca yang kembali mendendangkan nafas teratur dalam ketidaksadaran di dekatnya.

Jangan berakhir
Karena esok takkan lagi
Satu jam saja
Hingga kurasa bahagia mengakhiri segalanya

Mungkin gadis itu tak tahu seberapa berharganya tiap tetes detik kesempatan yang ia berikan tanpa sengaja ini. Mungkin gadis itu juga tak tahu betapa takkan pernah bosan Calum memandanginya yang terlelap tenang. Paling tidak Frisca kelihatan begitu jujur, begitu tentram kala terpejam.

Calum tersenyum miris, menyadari setiap tetes detik yang terus menggumpal pun akan menghantarnya pada kenyataan. Jakarta. Realita.

Tapi kini tak mungkin lagi
Katamu semua sudah tak berarti
Satu jam saja
Itupun tak mungkin, tak mungkin lagi

Pemuda itu menarik nafas perlahan lalu memperhatikan sebelah earphone yang menjuntai longgar dari telinga Frisca. Setelah menimbang sejenak, ia akhirnya memutuskan meraih lalu memasang satu earphone itu pada alat pendengarannya sendiri. Merasa senang merasa terkoneksi dengan gadis itu walau tanpa menyentuh, walau hanya dengan cara sesederhana ini.

Lalu Calum ikut menutup mata, mendengar lantunan sayat Satu Jam Saja ditemani sayup samar sambutan kota.

Jangan berakhir
Kuingin sebentar lagi
Satu jam saja
Ijinkan aku merasa rasa itu pernah ada

**

Kereta, 18.05

Frisca mengerjap, membuka mata lalu menarik nafas semampu yang ia bisa. Ia menggeliat pelan, lalu membenahi posisi duduknya dan earphone yang terpas.... Loh. Ia membatin kaget, meraba telinga kirinya yang melompong lalu bergerak meniti kabel yang terhubung dari Mp3 player.

Gadis itu menoleh ke samping, lantas terdiam seketika saat mendapati earphone yang tak menggantung di sebelah telinganya ternyata malah menjuntai dari telinga Calum, yang kini sedang memejamkan mata.

Ia menghela nafas, lalu mengulurkan tangan dan menarik perlahan earphone dari telinga Calum, lantas merapikan benda itu beserta Mp3 playernya ke dalam tas.

Gadis itu menoleh ke kanan-kiri, menyadari pemandangan yang ia kenali. Rumah-rumah triplek, dengan 'beranda' dihiasi jemuran kain kumal, berdiri serampangan di sisi-sisi rel yang dilewati kereta.

Pasti tak berapa lama lagi, mereka akan tiba di stasiun Jakarta. Frisca sebenarnya tak berniat membangunkan Calum, namun akhirnya berfikir dan memutuskan menjatuhkan 'tak sengaja' ransel yang dipeluki pemuda itu.

Dan berhasil.

Frisca buru-buru berpura tak tahu apapun kala Calum tiba-tiba terbangun terkejut, mengerjap pelan lantas meraih ransel besarnya yang bersemayam di lantai kereta.

Sesuai perkiraan gadis itu, benar saja. Dalam hitungan menit tak seberapa -saat Calum masih berupaya mengumpulkan nyawa- kereta sudah bersiap untuk berhenti di stasiun yang dua minggu lalu Frisca tinggalkan.

Diiringi bunyi gemuruh yang memelan seiring waktu, roda-roda kereta yang mereka naiki pun mulai berhenti bergulir di atas besi. Lalu kini Frisca sudah bergerak berdiri dan berbaris di tengah antrian berantakan penumpang yang tersisa, diikuti Calum yang nampak agak kebingungan.

Pemuda itu bergegas mengekori gadis yang keluar mantap dari gerbong. Tanpa sadar, Calum meraih dan memegangi tali postman bag Frisca. Kewalahan, sekaligus takut tertinggal lalu hilang.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang