Bab 33 (Bagian C)

3.6K 526 479
                                        

Frisca menahan tawa, kala melihat potongan chat terbaru yang muncul pada taskbar bernuansa keunguan di layar notebooknya lalu bergegas menggerakan jemari di atas keyboard, mengomentari topik mereka -ia, Tevi, Ancel dan Zetta- siang itu. Masih topik yang sama dengan kemarin, saat ia merambah salah satu pusat perbelanjaam bersama tiga orang yang sama juga.

FriscaAK : Emang kamu sama sekali gak sedih apa tev?

TeresaAvila : UDAH JANGAN BAHAS AL LAGI! SETOOOP X(

ZettaVika : Ah dia mah putus kyk gak putus, bingung gua

Ancelma : nangis aja kaga kali dia

FriscaAK : Hah? Serius? Kamu gak nangis?

ZettaVika : Siapa yg mutusin sih?

TeresaAvila : Gue gamau jawab bodo. Gak penting! Bahas yg lain deh ah.

Ancelma : COWOK KEMAREN ITU!!

TeresaAvila : COWOK GANTENG YG KMRN ITUUUU! SIAPA LO CAAA?!

Frisca tersenyum lagi kala melihat chat terakhir Tevi. Mengingat kemarin, ketiga temannya ini juga mengantarnya ke pelataran parkir pusat perbelanjaan yang sama.

Dan Tevi tetaplah Tevi yang tak tahu malu. Meski -harusnya- tengah patah hati, ia malah langsung terpana dan membelalak norak ketika -untuk pertama kalinya- melihat siapa yang menjemput Frisca. Seorang pemuda yang tampannya melebihi batas kewajaran. Al mah tak ada apa-apanya.

Tevi beberapa lama terus melongo dengan tampang komikal, dan nampak sedikit tidak rela saat melihat pemuda itu merangkul Frisca dan memohon ijin pulang. Tapi memang kelihatannya, jika dibiarkan terus menatap Luke barang semenit lagi saja, bisa dipastikan bahwa gadis ceriwis itu akan mulai meneteskan liur.

Tepat ketika Frisca berniat menekan tuts keyboard untuk menanggapi, saat itu juga terdengarlah ketukan samar di pintu kamarnya.

"Masuk," serunya tertahan, menoleh sebentar kearah pintu lalu kembali memusatkan perhatian pada layar notebook yang terus bergetar. Ternyata ketiga orang itu sedang bergantian mem-BUZZ!! akunnya.

Cklek.

"Ca?"

Jemari gadis itu seketika terhenti lagi, mendengar suara renyah yang tiba-tiba dihantar udara. Frisca membelalakkan mata, lalu menoleh tak percaya. Dia ...

"Sifa?"

Gadis berdagu tirus itu tersenyum jengah, menyadari aura kecanggungan yang tercipta. Tak heran sebenarnya, jika diingat pertemuan terakhir mereka pun bisa dikatakan tak menyenangkan.

Sifa menarik nafas, memberanikan diri memandang mata Frisca yang menatapnya penuh prasangka. Ia sadar bahwa masalah hati yang kemarin masih mengganjal tak terselesaikan pasti belum berhenti membuat gadis itu antipati padanya.

"Kenapa?" tanya Frisca pelan, sambil membuang pandangan kembali pada notebook di meja belajarnya.

Sifa meneguk ludah, menimbang sejenak dan dengan ragu memutuskan berjalan mendekati sang pemilik kamar. Ia berhenti beberapa puluh jengkal di belakang Frisca, menunduk dan memainkan jarinya.

"Gue.. mau minta maaf," ujar gadis itu akhirnya, terbata, "Soal yang kemarin itu. Soal Calum. Gue.. emang egois banget waktu itu. Ngancurin semuanya. Semua.. y-yang udah lo raih sama Calum,"

Sifa menghela nafas, lalu melanjutkan, "Gue juga minta maaf. Soal perlakuan gue ke elo belakangan. Yang gak pantes. Dan kesannya gak nyadar diri," katanya sambil menggigit bibir. "Yang ceweknya Calum itu kan elo. Bukan gue. Gue.. gue tahu gue kayak gak punya hati, gak mikirin elo.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang