Bab 26 (Bagian C)

3.6K 533 623
                                        

Frisca mengelap wajahnya yang dihujani peluh, setelah mengganti seragam sekolahnya dengan seragam pelayan. Ia mengipasi dirinya sebentar dengan tangan lalu pergi ke depan cermin dan mengurai ikatan rambutnya.

Frisca terdiam saat menatapi kunciran biru yang digenggam jari-jarinya. Lagi-lagi benda dari Calum.

Gadis itu meremas kenangan dalam tangkupan telapaknya lalu memutuskan meletakkannya di dekat kaca, tak mau menyiksa diri sendiri dengan mengingat macam-macam.

Frisca melangkah ke luar kamar, melewati lorong kamar pelayan dan memasuki dapur yang terlihat agak lengang. Hanya terlihat beberapa pelayan mengelapi kitchen set dan Bi Rahmi yang sibuk memerintah.

"Ica sudah pulang?" Tanya kepala pelayan itu dengan delikan mata khasnya, yang segera disambut Frisca dengan anggukan cepat.

Beberapa saat Bi Rahmi mengacuhkan Frisca, karena sibuk memarahi seorang pelayan yang menjatuhkan toples bumbu dapur hingga berantakan. Tak lama, wanita tua itu melongok ke luar dapur lalu menoleh ke arah Frisca, "Tuan Luke barusan pulang. Sedang di ruang tamu." Katanya, "Tolong bawakan minuman dengan baki pendek saja. Pilihan minum Tuan Luke hanya berkisar antara teh, air putih dan jus apel."

Frisca mengangguk pelan. Lalu bergegas menuang air putih dan jus apel pada gelas tinggi, mengisi teapot keramik dengan air mendidih, meletakkan cangkir pasangannya dalam keadaan terbalik lalu menyambar beberapa bungkus kantong teh berlainan jenis.

Gadis itu buru-buru nebghalau pemikiran soal teh hijau dan kafein yang tiba-tiba melintas begitu saja. Ia berjalan pelan menuju ruang tamu, memperhatikan Tuan Muda baik hati itu tengah membalik majalah impor People di tangannya.

"Permisi, Tuan." Sapa Frisca pelan, lalu mulai meletakkan satu-persatu isi baki di meja kaca di antaranya dan Luke.

Pemuda itu mengangkat wajah, lalu memperhatikan wajah pelayan yang baru mengantar minumnya lekat-lekat dengan sengaja sambil mengangkat alis.

Frisca menunduk jengah saat mendapati Luke sedang memandanginya bulat-bulat. Sesekali, Ia menyisipkan jumputan rambut yang terjatuh menutupi wajahnya ke belakang telinga sambil menyusun minuman tadi di meja. Frisca terkejut sendiri saat cangkir dan tatakan kosong yang diletakkannya terbanting tak sengaja saat menyentuh permukaan meja. Ia gugup.

Luke mengulum senyum melihat dua pipi Frisca bersemu merah karena salah tingkah. Ia tertawa pelan lalu kembali mengalihkan pandangan ke majalahnya.

Frisca melirik Tuan Mudanya yang sudah tidak berulah lalu menghembuskan nafas sambil ikut tersenyum tanpa sebab "Permisi Tuan," ijinnya sambil memeluk baki.

"Hei, siapa suruh pergi?" Hardik Luke jahil, "Duduk dulu. Sekalian seduhkan ini," kata pemuda itu sambil menggoyangkan salah satu bungkus kantong the Earl Grey yang baru saja asal disambarnya.

Frisca menggembungkan pipi sebentar lalu berjalan maju lagi. Ia meletakkan baki di sisi lain meja kaca, berlutut di seberang Luke lalu menarik Teapot dan cangkir kosong ke arahnya.

"Duduk di sofa aja," ucap Luke, mengedikkan dagu ke arah sofa terpisah di dekatnya.

Frisca menggeleng pelan lalu berkonsentrasi menuang air panas dari Teapot ke cangkir di hadapannya.

"Apa kabar kafeinmu?" Tanya Tuan Muda itu seakan tak acuh, tanpe memindahkan fokus dari artikel yang dibacanya.

"Masih terasa di lidah, meski dampak debaran jantungnya bukan lagi karena sebab dan rasa yang sama," ucap Frisca, sekan tak acuh juga, tak sadar Ia baru saja berfilosofi. Tangannya berusaha menggapai kantong teh yang tergeletak di depan Luke.

Tanpa disangka, Luke ikut terdiam mendengar jawaban Frisca. Disentuhnya punggung tangan gadis yang sedang berusaha meraih bungkus kantong teh yang tadi dipilihnya.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang