Bab 27 (Bagian D)

3.5K 523 713
                                        

Dua pesan singkat siang itu. Sinyal pemberitahuan tentang akhir waktu. Yang sesungguhnya Ia sudah tahu. Yang membuatnya sedari kemarin tersenyum meyakinkan. Tersenyum menyembunyikan (torehan dan kemunafikan). Tersenyum (sudah siap) merelakan.

From : Sifa
Please... Stay away from him. I. Beg. You.

To : Calum
Aku mau bicara sesuatu. Di rumah pohon. Sore ini. Hope will see you there =)

Setelah itu, Frisca mematikan ponselnya.

***

Detak dan detik berkejaran, tertinggal lantas menghilang. Frisca bergerak meluruskan satu kaki lantas menumpukan dagu pada lutut kaki lainnya yang menekuk. Entah ini sudah pose keberapa yang dipasangnya sedari tadi.

Gadis itu mendesah, lalu menyandarkan diri pada rangka meja kayu di belakangnya, melongok ke arah jendela yang terbuka, memperhatikan langit mulai bergradasi dari semburat jingga dan nila menuju pekat hitam kebiruan.

Frisca menggigit bibir, menarik lutut yang tadi Ia luruskan lalu memeluk keduanya dan membenamkan kepala di antara sela mereka. Ia memandangi jari kakinya, lantas membiarkan matanya menelusuri balok-balok kayu pada lantai, terus menjelajah hingga fokusnya kini tertumbuk pada sisi dinding di seberangnya. Pada galeri kotak kaca aurora itu. Yang dulu.

Gadis itu tersenyum miris.

Frisca masih ingat semuanya. Format keabuan yang tersuguhkan, perapian listrik yang terus meretih gelisah, lilin lilin pemberi jawaban itu. Disini.

Frisca masih ingat ocehan sok tahunya soal teori Light Pollution itu, tentang pilihan hatinya. Dendang tawa ejekan Calum saat Ia terlalu ketakutan akan di apa apakan. Disini. Di rumah pohon ini.

Dan kenapa segalanya harus berubah begitu cepat? Bahkan apa yang belum sempat terucap terlalu kilat terlewat. Gadis itu merogoh kantongnya, lalu menimang ponsel yang baru Ia raih. Ada alasan kenapa Ia menonaktifkan benda itu. Karena Ia tak mau mendapat balasan pesan penolakan, sebelum Ia sempat berjuang. Ia tak mau mundur, sebelum menunggu. Karena penghabisan waktu sudah mengetuk pintu, Frisca tahu itu. Dan gadis itu pun tahu, sesungguhnya Ia bukan orang yang terlalu pandai membohongi diri sendiri. Dan hanya sampai disini kapasitasnya untuk berlagak munafik dan tak tersakiti.

Akhirnya Frisca mendesah dan menghidupkan benda elektronik dalam genggamannya. Benar saja. Sebuah tanda pesan baru langsung menandak dalam layar begitu ponselnya telah merampungkan proses pengaktifan.

From : Calum
Harus menemani Mai hari ini. Maaf.

Frisca tersenyum tipis, lalu menggeleng sendiri. Tentu, tentu. Ia akan memaafkan Calum. Ia takkan pernah menyalahkan Sifa juga. Tak ada yang salah di cerita ini. Tak ada. Selain dirinya.

Gadis itu menoleh ke sekelilingnya, tersenyum sarkatis. Percaya atau tidak, Ia menghidupkan lilin-lilin itu lagi. Membentuk formasi setengah lingkaran tak beralas seperti yang pernah terjadi.

Frisca menarik nafas, kali ini tersenyum berserah. Ia berdiri dan berjingkat pelan, meniupi lilin-lilin itu hingga tinggal satu yang tersisa menyala. Gadis itu berjalan lagi, bergerak mencongkel bukaan pintu rumah pohon dan mulai menuruni tangga tali. Membiarkan lilin terakhir padam terbawa angin petang, seperti harapan naifnya bahwa semua akan baik-baik saja yang berangsur pudar.

***

The day after.

Pagi itu, Frisca masih melayang di tepian danau mimpi semunya saat tiba-tiba terdengar gedoran keras di pintu kamarnya.

Gadis itu tersentak, mengerjap cepat lalu melirik ke arah weker dan tanggalan di sebelah tempat tidurnya. Jam setengah tujuh, hari sabtu. Pantas saja! Frisca mengucek mata sambil menelan ludah. Hari ini adalah tugas gilirnya untuk berbelanja ke pasar. Pasti Bi Rahmi sedang menggerutu panjang-lebar di depan pintunya.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang