Kejujuran. Kebenaran yang seringkali tak terkalahkan. Karena kenyataan kadang tak seindah yang diharapkan. Merengkuh atau melepasnya adalah pilihan. Karena saat semuanya terbungkam, tak ada lagi yang bisa dilakukan, selain mengungkap kepastian.
***
Frisca masih berusaha membaca alunan lagu dari ombak yang berkejaran di mata Calum. Dan Ia tidak menemukannya. Kini, Ia tertegun merasakan kehangatan asing yang menjalari punggung tangannya.
Calum masih dengan nyalang menatapnya. Setiap helaan nafas berat yang ditiupkannya mengisyaratkan kata yang kian tak terbaca. Frisca berusaha menyibak tirai itu, namun tak ada yang didapatinya. Apakah yang berusaha dicarinya dibalik kedua selaput jernih itu?
Calum menghela nafas dan melepaskan genggaman tangannya. Tak ada guna. Gadis di hadapannya bahkan belum tau apa yang bergemuruh di dadanya. Meskipun itu bukan salahnya juga. Karena membaca hati tak semudah kelihatannya.
Calum merasakan pening hebat kian menyerangnya. Seakan-akan ribuan jarum menusuk inci demi inci kepalanya. Rasa dingin perlahan menelusuri jejak demi jejak tubuhnya. Rasa dingin yang lebih parah dari tiupan angin selatan paling ganas saat musim dingin paling mengerikan di belahan dunia barat sana.
Suara ketukan di pintu membuat Frisca bergegas menghampiri dan membukanya. Ternyata pelayan yang membawakan pesanan Calum tadi dalam sebuah baki. Segelas air putih hangat, termos kecil, sebaskom air es, handuk kompres, sebuah thermometer dan semangkuk sup ayam yang masih mengepul.
Frisca membawa semua itu ke meja kecil di samping tempat tidur Calum, Ia menarik bangku kecil dan meletakannya pula tepat di pinggir tempat tidur.
Frisca mengukur tubuh Calum dengan thermometer. Betapa terkejutnya Ia mendapati angka 39,3 derajat celcius disana. Parah, dia saja belum pernah demam setinggi ini.
Calum bergidik pelan saat Frisca menekankan kompres dingin ke dahinya yang terasa melepuh. Ulu hatinya terasa sakit. Rasa dingin merayap dari sela-sela jari kakinya. Mau mati rasanya.
Frisca ketar ketir melihat Calum menggigil hebat. Ia merapatkan selimut ke tubuh Calum.
"D-d-di-dingin.." ucap Calum pelan, wajahnya memucat.
Frisca menghela nafas, Ia meletakkan salah satu tangannya di pipi Calum. Tanpa sadar, Frisca mengusapnya pelan. Calum terdiam sejenak. Dalam sekejap, seakan, karena usapan tangan Frisca tadi, angin dingin yang menyerangnya secara ganas mulai menjinak. Tubuh dan hatinya sedikit menghangat.
Tanpa ragu, Calum meraih tangan Frisca yang menempel di pipinya. Ia mengapit jemari gadis itu dengan kedua belah telapak tangannya yang memanas.
"Biar begini.." desahnya teramat pelan, setengah tak sadar.
Frisca membiarkan tangannya berada dalam genggaman kedua tangan kokok Calum. Secara samar, Frisca menggerakkan tangannya, menggenggam balik tangan lelaki rupawan di hadapannya.
Calum tersentak membaca gesture yang baru diberikan tangan Frisca. Sudahkah gadis ini mendapati isi hatinya? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Cukuplah. Ini sudah lebih dari cukup dari yang diperlukannya sekarang. Ia membawa jemari gadis itu tepat di dadanya.
Artikanlah tiap getaran ini lebih gamblang. Rasa berat mulai menggelayuti kedua pelupuk matanya yang kini mulai tertutup. Calum mendengkur pelan.
Frisca terkesima mendapati tangannya merasakan detak jantung Calum yang memburu. Entah pengaruh kondisi badannya atau hal lain. Seiring semakin terlelapnya Calum, genggaman tangan lelaki muda itu pun mengendur.
Frisca menarik dan tanpa sadar, mengelus tangannya sendiri. Masih ada kehangatan itu disana dan sedikit.. bertanda di hatinya. Frisca menyibak beberapa helai rambut yang jatuh menutupi kening Calum. Sebuah perasaan aneh merambatinya saat melihat Calum tertidur dengan hela nafas satu-satu.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)