Frisca merasa waktu membekukan mereka. Saat tatapan matanya beradu dengan pencair tembaga itu, segala hal fana di dunia seakan berhenti setelahnya.
Pandangan pertama setelah dua hari begitu panjang yang telah terlewati. Membuat gadis itu ingin membekukan saat ini lalu tak apa jika Ia mati.
Calum masih memegangi sisi pintu pengemudi, karena sekilas Ia juga membeku, terdiam kaku. Tatapan nanar gadis itu memaku lalu menghantamnya berulang-ulang. Menimbulkan perasaan tertohok yang lebih memualkan ke permukaan.
Akhirnya, pemuda itulah yang memecahkan es beku waktu terlebih dulu. Ia mengerjap lalu membuang tatapan kearah setir tanpa sebab. Nafasnya mengejang sesaat. Lalu tanpa melirik Frisca, Ia masuk dan menutup pintu mobilnya. Menyisakan kesenyapan dalam mobil antara mereka dan udara. Walau Calum –lagi-lagi- bersikap gadisnya tak ada disana, entah karena alasan apa.
Calum menarik nafas, menyalakan starter mobil lalu tak lama menggerakkan setir. Sesungguhnya, Ia mati gaya. Tak tahu harus berbuat apa. Banyak hal tiba-tiba mengaduk benaknya saat ini juga. Sambar-menyambar. Frisca. Mai. Frisca. Mai.
Calum tercekat lagi saat menyadari satu hal. Kenyataannya sebelum ini, Frisca dan Mai –a.k.a Sifa- adalah sahabat karib. Lalu bagaima... Bahkan Calum tak sanggup memikirkan kelanjutan pertanyaan itu apalagi jawabannya.
Pemuda itu mencoba memutuskan dengan menyelami dasar otaknya, lupa bahwa jaringan itu tengah dikacaukan euphoria. Yang takkan dikalahkan apapun, karena ini waktu puncaknya Ia berjaya. Calum tak mengerti bahwa hal yang begitu kilat datang, secepat itu pula akan menghilang.
Maka, Ia menjawabi keresahannya sendiri dengan logika. Tanpa bertanya pada organ kecil lain yang berwenang dan sesungguhnya lebih dapat dipercaya. Ditampiknya rasa bersalah yang menyelinap dengan kegilaan yang sama. Maka antara Mai dan Frisca. Tak ada sedikitpun suara untuk nama gadis kedua tadi di benaknya.
Penantian dan ikrarnya tempo hari, lantas segala euphoria gila ini, membuatnya tak mampu mengenyahkan segala ingatan tentang Mai. Seakan kini, jika tak memikirkan gadis kecilnya itu sedetik saja, Ia lebih baik bunuh diri.
Untuk membunuh kebisuan waktu, pemuda itu memutuskan menyalakan radio. Berharap sayupan intro lagu bisa memendam otaknya yang sedang riuh.
Salahkah bila ku mendua
Salahkah bila rasa itu ada
Dan aku tak lagi merasa engkau ada
Dan cintaku seolah jenuh akan hatimu
Calum mencuri pandang kearah Frisca lewat sudut matanya, memperhatikan gadis itu menghela nafas panjang kelewat lelah sambil memainkan ujung roknya gelisah. Sesaat, sesaat saja ada deburan kecil dalam dadanya. Monster masa lalu, teman seperjuangannya saat berusaha menggapai gadis ini sempat menggeliat, lalu dipaksanya untuk mati suri lagi.
Dengan sikap seenaknya, Calum seakan baru menyadari. Mungkin benar bahwa sudah terlalu banyak pengorbanannya untuk Frisca. Terlalu lama waktu yang disia-siakannya untuk gadis ini, yang andai saja dapat dimintanya lagi lalu diberikannya untuk Mai.
Calum tak sadar, bahwa sikap egois dan sok tahunya pada diri sendiri itu terlampau menyakiti. Bagi sang gadis destinasi yang bahkan sesungguhnya tak mendengar racauan otak pemuda itu tadi.
Kasih tinggalkanlah diriku tuk selamanya
Biarkan ku sendiri
Cukup bagi diriku melukai hatimu
Kasih tinggalkanlah diriku tuk selamanya
Biarkan aku
Mungkin kau akan bahagia dengan dia, yang lain
Sementara Frisca sedari tadi menghitungi berapa banyak garis abu-abu di rok kotak-kotaknya. Ia bingung sendiri mau berbuat apa. Juga tak mengerti. Setelah itu, Frisca memutuskan menekan punggung tangan kanannya dengan telunjuk kiri, ingin memastikan apa telunjuknya lalu akan menembus udara atau tidak. Karena sepertinya, Ia telah menjadi semacam bayangan transparan tak terlihat di mata Calum.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)