Ain't asking you to forget the past. I'm just asking you to see the present, what's reality now, and not back then - from someone's tweet.
***
Malam yang sama.
Frisca masih terjaga. Ia menarik nafas perlahan, melipat baju terakhir di tempat tidur lalu memasukkannya ke dalam koper yang terbuka. Tak lama, ia sudah bergerak menutup risleting benda itu, lantas menggeser dan meletakkannya di dekat pintu.
Gadis itu lantas mengeratkan cardigan hitamnya kala merasakan angin malam merasuk pori-pori dinding dan tubuhnya. Dingin. Dingin sekali.
Frisca mengusap-usap lengannya sendiri lalu memejamkan mata dan mendesah lagi. Berusaha mengusir ingatan yang tiba-tiba datang, tak ingin menyadari bahwa debur ombak pada sepasang pencair tembaga yang dulu dan dekapan paksa pemiliknya tadi suka tak suka sempat membuat gadis itu menghangat juga.
Jangan begitu lagi Frisca, ucapnya pada diri sendiri. Hatimu tak lagi butuh dilema.
Gadis itu membuka mata, lalu memutuskan untuk duduk di tepi ranjang setelah menyambar tas kecilnya. Ia mengeluarkan ponsel, lalu mengetik pesan dengan sisa-sisa sinyal yang ada.
To : Iluuu
Kak, bsk keretaku jam 2 dr sini. Mungkn smpe sktar jam 6 di jkt.
Ia menatapi isi pesan yang baru ditulisnya, menilai, lalu memutuskan menambahkan 'Miss you :)' dan akhirnya menekan pilihan mengirim. Setelahnya, gadis itu menarik nafas dan masih mengutak-atik ponselnya beberapa saat. Lalu tak lama terdengar bunyi berderit pintu dan suara langkah berat yang membuatnya mendengus samar.
"Ehm,"
Gadis itu tak mengangkat wajah meski sempat terhenyak juga. Ia menghela nafas lagi, lalu seakan tak ada suara yang didengarnya, Frisca mengunci ponsel, meletakkan benda itu ke dalam tas kecil yang kini ia taruh di ujung tempat tidur lantas merangkak untuk membaringkan diri menghadap dinding. Tak peduli.
Calum mengernyit saat menyadari gadis itu tak menghiraukannya. Seolah ia kasatmata, seolah ia tak ada disana. Seperti dulu ia menganggap gadis itu ketika masih terperangkap dalam euphoria. Pemuda itu terhenyak, baru tahu ternyata rasanya seperih ini. Terluka.
Ia menghela nafas panjang, lalu melangkah menarik gulungan kasur dan menghamparkannya. Lalu bagai magnet yang tak mampu ia telah, pemuda itu kembali menatap punggung Frisca.
Apa gadis itu sedemikian membencinya ? Pikir Calum. Kenapa Frisca berubah secepat itu? Apa karena besok mereka pulang? Apa karena besok sudah ada Luke lagi?
Bagaimana, sebenarnya, ia di mata gadis itu? Hanya selingan di waktu membosankan kah? Mainan lama yang terpaksa digunakan karena kasihan?
Tiba-tiba pemuda itu terdiam sendiri. Lagi-lagi sadar begitulah ia memperlakukan Frisca dulu. Setidak penting itu. Jadi, apa ini benar karma? Tapi kenapa? Ia menatap Frisca rindu, hanya ingin merengkuh gadis itu. Kenapa genggaman kemarin terasa begitu mudah? Kenapa kecupan kemarin terasa begitu biasa? Namun kenapa kini keduanya terasa semustahil menghidupkan nebula?
Ya bagus... Terus lah berpikir, Calum. Karena kamu takkan menemukan akhir. Batinnya sendiri. Sampai mati pun, hanya Tuhan dan gadis itu yang tahu apa jawabannya.
Calum menghela nafas panjang, lalu mengulum bibir sebentar saat melihat Frisca mengusap-usap lengan dan menggesek-gesek kakinya sendiri. Kedinginan. Karena memang tak ada selimut spare disana, Calum menimbang sejenak lalu memutuskan melepas jaketnya dan melangkah menghampiri tempat gadis itu berada.
Frisca terperanjat ketika tiba-tiba harum dalam ingatan itu mengental dan menyengat hidungnya. Ia membuka mata, membelalak tajam saat mendapati wajah Calum yang sedang duduk di tepi ranjang, menatapnya dalam seraya membalutkan jaket ke tubuhnya. Jaket dengan aroma pemuda itu.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)