Stasiun kereta api Jakarta, 09.05
"Di peron mana, Ca?"
Gadis itu melongok ke arah tiket di tangannya, memindai sebentar lalu menjawab, "Empat, kak."
"Oh.." Luke mengedarkan pandangan sejenak, "Disitu tuh.." kata pemuda itu, lalu menarik tangan Frisca yang sedari tadi terus di genggamnya.
Gadis itu lagi-lagi terkesiap dengan gerakan mendadak Luke, lalu terdiam, berkonsentrasi mengikuti langkah panjang pemuda itu diiringi suara roda kopernya yang juga ditarik sosok yang sama.
Tak lama, mereka sudah berhenti di depan sebuah kereta ekonomi bernuansa biru dan oranye. Luke melepas tangan Frisca, dengan penuh selidik meneliti kereta itu dari kejauhan lalu menarik nafas dan memandang Frisca, "Kamu yakin pulang naik ini?"
Gadis itu tersenyum bingung, "Kenapa enggak?"
"Gapapa." kata Luke, masih terus mengernyit curiga ke arah kereta tadi, lalu akhirnya memandang Frisca lagi.
"Take care. Would you?" tanyanya cemas pada gadis yang kini mengangguk yakin itu.
"Di kereta : Jangan nerima apa-apa dari siapa-siapa. Perhatiin koper sama tasnya. Jangan lepas cardigan. Hati-hati sama orang yang ga dikenal. Terus ..."
Frisca mulai merasa seperti woody woodpecker, terus mengangguk-angguk selama Luke memberi wejangan panjang lebar.
"Jaga kalungnya ya, Ca." pemuda itu tersenyum, menunjuk rantai di leher Frisca, "Setelah kamu pulang cincinnya harus dilepas dulu, mau dimasukkin ke kotak."
Gadis itu mengangguk lagi.
"Titip salam sama bunda." kata Luke pelan, sambil mengusap-usap puncak kepala Frisca, "Bilang .. ada seseorang yang menunggu putri cantiknya kembali dengan selamat ke Jakarta, tanpa kurang suatu apapun. Termasuk tak kurang titipan rasa yang diserahkan padanya."
Gadis itu terdiam sendiri mendengar ucapan Luke, lalu akhirnya mengangguk lagi, tepat saat suara announcer stasiun mengumumkan bahwa kereta tujuannya akan berangkat dalam beberapa belas menit ke depan.
"There you go." kata Frisca, mendekatkan koper ke arah Frisca lalu menepuk pundak gadis itu, mengisyaratkannya untuk masuk ke kereta, "See you in two weeks,"
Frisca tersenyum, "See you." katanya, menarik koper lalu melambai ke arah Luke dan mulai berbalik badan.
"Icaa.."
Tepat ketika tubuh gadis itu berputar kembali untuk bertanya ada apa, tiba-tiba Luke menarik dan memeluknya. Beberapa saat Frisca terdiam, membiarkan pemuda itu mengusap rambutnya dan berkata pelan, "I'll miss you,"
Lalu tak lama, Luke mengendurkan pelukannya, walau masih mengurung punggung Frisca yang kini mengangkat wajah. Gadis itu tersenyum, berkata pelan, "So will I."
Pemuda itu ikut tersenyum, memeluk Frisca beberapa detik lagi, sebelum melepasnya untuk benar-benar pergi. Ia menghela nafas sebentar saat melihat sosok calon tunangannya menjauh, "Call me, if you need anything." serunya tertahan sambil terus melambaikan tangan, hingga akhirnya tubuh Frisca benar-benar menghilang, tertelan kereta dan keramaian.
***
Hampa.
Kata itu terus mengulang diri dalam kepalanya beberapa hari terakhir ini. Seperti kaset rusak, seperti manusia yang dicuci otak hingga ia tak bisa memikirkan satu nama lain sebagai penyebabnya. Frisca. Ya betul. Ia merasa hampa karena ketidakeksisan Frisca dalam pandangan matanya beberapa hari ini. Kapan gadis itu kembali?
"Cal?"
Seketika pandangan kosong matanya kembali terisi karena panggilan sengaja itu tadi. Calum mengerjap pelan, lalu menoleh melihat Sifa yang duduk bersebrangan dengannya di meja perpustakaan kediaman Hemmings.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)