Bab 34 (Bagian B)

3.7K 503 305
                                        

Siang keesokannya, Calum tengah duduk santai di ruang keluarga lantai satu, sibuk menyaksikan siaran tv kabel yang ia pasang dan sedang menayangkan sebuah film serial luar negeri, sambil sesekali mengulik komputer tablet di tangannya.

Ia menarik nafas sebentar memutuskan meraih remote dan mengecilkan suara tv, agar dapat berkonsentrasi membaca e-book lama yang baru sempat ia unduh dari blog seorang rapper nasionalis lokal ternama. Mengangkat topik tentang bagaimana menyikapi persoalan musik bajakan dari berbagai sudut pandang.

Tak lama pemuda itu mengernyit, merasa mendengar suara sahut-sahutan derap kaki samar mengadu bunyi dialog siaran tv. Ia mengangkat wajah lalu menoleh. Benar saja, ternyata dari tangga, dua orang perempuan rapi jali baru saja menuruninya. Romi dan Frisca.

Tanpa sadar, Calum menatapi kedua hawa yang akan melintasinya lekat-lekat, terutama yang lebih muda.

"Cal, Mama pergi dulu ya." ujar Romi, sambil membenahi tas besar Francesco Biasia yang tergantung di tekukan lengan atasnya, menyadari sang putra tengah menatapinya.

Sang Mama nampak begitu menawan dalam umurnya. Walau yang ia kenakan hanya kemeja dan high-waist pants bermerk polos.

Calum mengangguk, "M-mau kemana, Ma?" tanyanya, kini mengalihkan perhatian pada Frisca yang mengenakan terusan hitam dengan motif polkadot polkadot mungil yang menjuntai hingga batas atas lututnya. Pemuda itu terpana juga. Harus mengakui gadis di hadapannya ini makin lama makin elegan saja.

"Mau ambil setelan kamu, Papa sama Luke. Kenapa?" tanya Romi, sambil tersenyum lalu mengecek sekilas ponsel lebarnya yang berkedip-kedip.

"O.. oh gapapa." jawab pemuda itu, menoleh sebentar ke arah Romi, lalu mengalihkan perhatian pada Frisca lagi. Kutub bertolak yang selalu menariknya.

Seketika, saat sang Mama mengisyaratkan pada gadis, yang sedang ia hayati profil cantiknya dalam-dalam, untuk berangkat. Pemuda itu mengingat tantangan Luke malam lalu lantas bergegas merebut ide cemerlang dari udara, "Ma. Aku boleh ikut gak?"

Apa-apaan? Frisca yang sedari tadi memasang tampang -sok- cool membelalak tiba-tiba. Ia mengangkat satu ujung bibirnya kesal, menatap wajah berbinar-binar Calum yang nampak menjengkelkan sekali lalu menoleh ke arah Romi, memandang figur sahabat Bundanya itu dari samping sambil berteriak dalam hati. Berharap setengah mati agar wanita itu menampik usul mendadak putra bungsunya saja.

"Kamu gak ada acara kemana-mana?" tanya Romi, yang langsung disambut gelengan bersemangat Calum.

"Ya sudah. Ganti baju sana," ujar wanita itu, membuat sang pangeran bungsu kini melejit girang dari sofa, lalu mencari remote untuk mematikan televisi yang menyala.

Frisca masih ternganga, menatapi bagian belakang tubuh wanita yang secara tak sadar baru saja memberinya petaka dan kini malah beralih mengutak-atik ponsel tanpa dosa.

Lantas gadis itu mengerutkan hidung makin kesal saat Calum berbalik melangkah menjauhi sofa, menampilkan senyum menang menyebalkan di balik punggung Romi, lalu menyenggol bahu Frisca dengan sengaja saat berjalan ke arah tangga.

***

Untung saja kali itu bukan dirinya yang menyetir. Calum menarik nafas, memperhatikan kemacetan parah menghadang Alphard yang ia -beserta Romi dan Frisca- naiki.

"Wah. Macet banget ini mah," keluh Romi yang duduk di bangku penumpang depan, menjulurkan leher, melongok jauh melintasi kaca.

"Iya, bu. Saya salah jalan nih." sahut Pak Tarno, dengan dialek jawa yang khas, sambil mengetukkan jari ke setir.

"Di depan jalan bakti bisa macet lagi kali nih, Pak. Entar muter aja di depan taruna. Ambil jalan yang mau ke permata itu." saran Calum, tahu sang Mama mulai stress karena takut melewati -lagi- janji yang sudah disepakati dengan sang desainer.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang