As many times as I blink tonight, i just want to live in our past forever, and forget the reality. - Anonymous
***
".. kami sudah memutuskan untuk bertunangan,"
Romi masih juga menatapi dua muda-mudi di hadapannya sambil mengangkat alis. Setelah beberapa detik, ia mengerjap lalu malah mendekatkan mulut cangkir ke bibirnya, menyesap teh earl grey yang menguap hangat. Tak lama, ia menurunkan cangkir lantas mengangguk-angguk dengan ekspresi tak tertebak.
"Bukannya Ica baru mau naik kelas 3 SMA? Is it proper for her to become your fiancee? Are you sure?" tanya wanita itu, mendelik sekilas ke arah Luke, tanpa tahu sang putra bungsu menatap teramat-setuju-dan-mendukung ke arahnya.
Frisca mengalihkan pandangan dari wajah tampan Calum yang tampak kian menyebalkan. Ia menggigit bibirnya, lalu menatap pemuda dalam genggamannya yang juga tengah terkesiap.
Luke nampak sedikit panik melihat kekakuan dalam gurat profil Romi. Apakah Mamanya benar-benar takkan mengijinkan mereka bertunangan? "Eh ta.. tapi Ma .."
Tak disangka, tiba-tiba Romi tertawa kecil. Senang sekali mengetahui ternyata aktingnya sebagus itu, "Bercanda .." ia mengedip pelan, "I'm happy for you both,"
Sambil tersenyum lebar, ia melanjutkan, "Soal Frisca yang masih SMA.. Toh, kalian mau bertunangan bukannya menikah." entah kenapa, wanita itu mencibir, "Saya juga dulu begitu," ujar Romi. Tak tahu -lagi-, pemuda di sebelahnya kini sedang berganti memasang wajah terhantam untuk kedua kali.
"Jadi, kapan mau digelar pestanya?"
Kini, malah Frisca yang tersentak. Ia mengulum bibir ragu lalu bertanya, "Harus... ada pesta?"
Romi malah tertawa, lalu memutar bola mata ke arah Luke. Seakan menyalahkan sang putra sulung kenapa calon tunangannya tak mengerti hal sejelas itu.
"Masakah Luke Hemmings bertunangan tanpa perayaan?" tanya Romi, retoris, "Jadi kapan?" ulangnya.
"Sebenarnya kami sudah mempertimbangkan yang satu itu, meskipun.. tanpa singgungan pesta," Luke menarik nafas sebentar, lalu menggoyang tangannya yang masih mendekap jemari Frisca, "kamu aja yang bilang."
"Mungkin akhir bulan depan, bu." katanya pada Romi, "sampai akhir bulan ini saya masih ujian."
"Oke," ujar Romi sambil mengangguk-angguk.
"Tapi.." lanjut Frisca kemudian.
Wanita itu mengangkat alisnya, "Kenapa?"
"Minggu kedua dan ketiga bulan depan, saya mau pulang ke desa Apit. Mmm.. Boleh kan?"
"Tentu. Sama siapa?" tanya Romi.
Frisca menjawab mantap, "Sendirian,"
"Gamau diantar sama sopir?" tanya wanita itu lagi. Sengaja tak mengajukan opsi 'Luke' karena tahu putra sulungnya harus bekerja.
Frisca tersenyum dan menggeleng, "Gausah, bu. Saya juga gak ngerti gimana nunjukin jalan pulangnya. Saya naik kereta aja."
"Is it... safe?" tanya Luke tiba-tiba. Tahu gadis itu akan pulang ke desa, namun baru tahu ia akan menaiki apa.
Gadis itu memandang ke arah Luke, mengangguk yakin.
Romi tersenyum tertahan melihat kekhawatiran yang tak dibuat-buat pada wajah Luke. "Calm down, Luke. She knows best." katanya, seolah mengenal dan tahu takkan ada gunanya mengubah niatan Frisca. Karena tercetak besar-besar sifat Ratya pula dari dalam diri gadis itu. Keras kepala.
"Besok masih ujian kan? Kalian berdua?" Kali ini, Romi turut memandang ke arah Calum yang sedari tadi diacuhkannya, "Belajar dulu sana," katanya, 'mengusir' dengan halus.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)