Well, cinta dan kejujuran. Harusnya adalah dua hal yang saling bertautan. Cinta tanpa kejujuran, takkan pernah terungkapkan. Terpendam tak terucapkan. Maka segalanya pun jadi runyam.
***
Perang dingin. Begitu biasa orang menyebutnya. Seperti yang terjadi antara Negara adidaya Amerika Serikat dan si Negara tirai besi, Rusia berbelas tahun lalu. Saling mendiamkan tak bertegur sapa, secara gampangnya di definisikan. Begitu pulalah yang terjadi pada kedua tokoh utama cerita ini, Calum dan Frisca.
Satu setengah bulan berlalu sejak kejadian di dalam kelas itu. Semenjak itu pula, percayalah kedua tokoh utama kita itu tak lagi bertegur sapa. Bahkan, Calum membuang muka begitu melihat Frisca yang dulu begitu membuatnya berbunga.
Frisca pun tak mau bersusah payah mengajak Calum bicara. Ia merasa tak salah. Toh, Ia mengatakan isi kepalanya kala itu. Uups, isi kepala? Lalu dimana isi hatinya? Frisca pun tak bisa jujur tentang perasaannya pada dirinya sendiri. Jadi bagaimana pula Ia mau jujur pada pembaca?
Malah, dari yang Frisca perhatikan, Calum kian dekat dengan Gabby. Ya, walaupun tindakan agresif persuasive selalu digencarkan secara sepihak oleh Gabby. Toh, Calum tampak oke-oke saja. Jadilah, sering sekali pemandangan Calum yang digelayuti oleh Gabby di pesta-pesta socialite atau sekedar di koridor sekolah, adalah hal biasa. Tak banyak orang bertanya, menurut mereka, Gabby dan Calum cocok cocok saja.
Namun terkadang, Frisca bisa menemukan tatapan kosong Calum yang agak mencemaskan. Seperti ada kehidupan yang tersedot dari tubuh tegapnya. Dan Frisca tidak pernah berani mengusiknya. Berada dalam jarak sepuluh meter di dekat Calum saja sudah membuatnya tidak nyaman. Ada aura penolakan yang begitu kental terpancar dari lelaki itu.
Maka, dengan bijaksana Frisca berusaha menghindari kontak langsung dengan Calum. Bi Rahmi pun nampaknya menyadari itu, dan membantu dengan cara tidak membiarkan Frisca bertugas di dekat Calum.
Akhir akhir ini, Frisca harus menyembunyikan dirinya baik baik. Hidupnya di kediaman keluarga Hemmings kian tak tenang. Karena, sering meningkatnya grafik pendekatan Gabby kepada Calum, intensitas kunjungan gadis itu ke rumah keluarga Hemmings semakin sering.
Tak jarang, Frisca mendengar cibiran dari para pelayan atas perilaku Gabby yang sepertinya baru menobatkan dirinya sendiri menjadi nona baru di keluarga Hemmings. Beruntung selama ini, Gabby belum pernah sekalipun mendapati Frisca.
Tidak juga hari ini. Frisca menghela nafas lega ketika melihat Honda City pink Gabby meninggalkan halaman depan keluarga Hemmings. Hari ini adalah jadwal si nona dan tuan muda belajar bersama. Ha!
Dan Dewi Fortuna hanya mengiringi Frisca sampai detik itu saja. Detik berikutnya, dewi keberuntungan itu memutuskan hengkang darinya sejenak. Para pelayan sedang sibuk menyiapkan pesta socialite yang akan dihelat di kediaman keluarga Hemmings besok, hanya Frisca yang lengang karena Ia sedang belajar untuk ujian akhir semester pertama besok.
Bi Rahmi memasuki kamar Frisca tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kepalanya tersembul dari balik pintu, "Ca, udah selesai belajarnya?"
Frisca mengangkat kepalanya, baru saja Ia menyelesaikan bab kelima yang menjadi bab penuntasan materi ulangannya besok. "Udah, Bi.."
Bi Rahmi mendesah berat "sebenernya bibi gak mau ngasih tugas ini ke kamu, tapi karena yang lain lagi sibuk.."
"Kenapa, Bi?"
"Kamu.. tolong ke kamar Den Calum ya? Tanya dia mau pake setelan yang mana besok, supaya bisa di laundry ulang."
Frisca menghela nafas pelan lalu tersenyum "gak apa apa kok, Bi, biar aku tanyain."
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)