Bab 29 (Bagian B)

3.4K 537 428
                                        

Keesokan paginya.

Sebenarnya ia sudah terjaga sejak tadi, namun gadis dengan mata terpejam itu masih butuh beberapa saat untuk memberanikan diri.

Frisca menghembuskan nafas lamat-lamat, membuka sebelah matanya perlahan lalu cepat-cepat menutupnya lagi. Seolah ketakutan sendiri.

Kelebatan mimpi semalam melayang-layang dalam sepasang fokus gelapnya. Gambaran aneh yang entah kenapa terasa nyata. Seperti rekaman dèja vu yang akan terulang dalam cerita. Namun lebih mengerikan dari seharusnya.

Dalam bunga tidurnya, tiba-tiba Frisca menjadi kaya raya mendadak, -lalu yang menyeramkan- berubah pongah dan terlihat senang menindas seorang gadis lain berpakaian compang-camping yang ternyata setelah dilihat adalah Gabby.

Masih menutup mata, Frisca menekuk lengannya ke belakang, lalu mengetuk kepala ranjang yang berada di atas puncak rambutnya tiga kali. Amit-amit. Jangan sampai mim....

Tunggu. Gadis itu sontak membuka mata. Sejak kapan di kamar pelayannya ada ranjang dengan rangka kepala?

Frisca bangkit dari posisi tidurnya, meneguk ludah dalam posisi duduk. Beberapa saat, ia menyesuaikan mata dengan nuansa off white di sekelilingnya, lalu menghela nafas.

Jadi, mimpi yang kemarin itu tak sepenuhnya di angan ya. Paling tidak, yang bagian awalnya ...

Ia sendiri sampai saat ini masih dalam keadaan setengah terkejut, mengingat semalam Romi menyuruh pelayan lain memindahkan barang barangnya -yang tak seberapa- dari kamar yang lama ke kamar barunya di lantai dua ini.

Diiringi tatapan heran (plus iri) pelayan-pelayan itu, Frisca pun takjub sendiri. Karena 1) dia baru tahu ada ruang kosong yang mirip kamar boneka ini di kediaman Hemmings. Dan karena 2) dia benar-benar disadarkan bahwa hidupnya berubah hanya dalam hitungan semalam.

Gadis itu mendesah, memutar kembali memori saat semalam pula, Romi -di iringi Bi Rahmi- memperkenalkannya -lagi, dalam konteks berbeda- ke hadapan pasukan pelayan sebagai 'Nona Frisca'.

Ia menggeleng sendiri. Entah kenapa, mengingat mimpi tadi dan ingin segalanya kembali normal lagi. Karena menjadi 'Frisca' saja sudah sangat cukup untuknya.

Frisca menggigit bibir, menendang selimut tebal yang menyelubungi tubuh dan kasur besar barunya lalu turun dari sana. Berniat bersiap menuju sekolah.

Setelah sempat terdiam melongo di depan kamar mandi (miliknya sendiri), meneguk ludah memperhatikan tube-tube yang berjejer di rak dekat bathub (hei, buat apa ada banyak sekali jenis sabun, shampoo dan lulur disini?) akhirnya Frisca sukses membenahi diri.

Selesai mengenakan seragam, ia duduk di hadapan meja rias. Memperhatikan botol-botol berbagai ukuran yang berbaris rapi lalu memajukan bibirnya beberapa senti, tidak mengerti apa saja guna mereka itu. Akhirnya Frisca mengorek ngorek container disana, mengambil karet kecil dan menguncir satu rambutnya seperti biasa. Frisca yang biasa.

Gadis itu tersenyum puas sendiri. Meyakinkan diri bahwa takkan ada yang mengubahnya, bahkan setelah dikelilingi udara hedonis seperti ini.

Frisca berdiri lalu bergerak menyambar tas sekolahnya dan melangkah keluar dari kamar.

Tap, tap, tap.

Sambil menutup pintu, Frisca menoleh sekilas ke arah tangga karena mendengar suara langkah seseorang baru turun dari lantai di atasnya.

"Ica?"

Gadis itu tersenyum. Lalu karena terbiasa, ia membungkuk pelan dan menyapa segan pemuda yang baru turun itu, "Pagi, Tuan."

Luke menghampiri Frisca, lalu mengacak rambut gadis itu gemas, "Harus dilatih supaya gak bicara begitu lagi." katanya, yang hanya disahuti ringisan Frisca.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang