Bab 32 (Bagian D)

3.9K 531 475
                                        

Ribuan kali diucap pujangga. Jutaan kali ditinta dalam prosa. Sinarnya tetap sama. Tanpa peduli kecongkakan yang bisa diraihnya akibat terus dipuja. Bintang. Ah. Klise sekali bukan?

Tapi malam ini, disinilah Calum, memandangi penerang langit favorit jutaan manusia lainnya itu, di atas tanah berumput liar yang letaknya lebih tinggi dari sisi tanah lainnya -hingga menyerupai bukit mungil-, beberapa belas meter jaraknya dari sumur di belakang rumah Bu Tami. Ia duduk berselonjor, menopang tubuhnya dengan dua tangan yang dibiarkan terulur ke belakang, menyentuh bumi untuk menahan.

Ia menghitung sendiri dalam hati. Tiga. batinnya. Tiga hari lagi sebelum jadwal mereka pulang ke Jakarta. Calum menarik nafas, mengucap syukur dalam batin sendiri bahwa Frisca tampaknya sudah membuka hati.

Paling tidak genggaman tangan itu buktinya, kecil memang. Tapi bukankah segala hal besar dimulai dari sesuatu yang tidak penting? Kisah mereka sebelumnya pun hanya dimulai dari tautan jemari, di sebuah taman bermain terkenal di Jakarta, karena satu wahana yang mati. Hal-hal sederhana yang kadang terlupakan, padahal disanalah sesungguhnya garis awal krusial yang menentukan sebuah petualangan hati.

Calum punya kepercayaan besar dalam dirinya. Satu kesempatan terakhir ini, pasti bisa direngkuhnya gadis itu lagi. Ah. Indah. Bayangan masa depan baru itu begitu indah tak terperi. Seperti pengandaian bintang-bintang klise ini.

Tiba-tiba sesuatu disodorkan di depan wajahnya. Uap hangat beraroma pedas mengasapi hidungnya. Ia mengangkat wajah, melihat Frisca menyodorkan sebuah gelas kertas berisi sesuatu berwarna kecoklatan. Teh?

"Nih," kata Frisca, menggoyang pelan gelas kertas itu.

Calum mengambil minuman yang diangsurkan gadis itu, memperhatikannya sedikit curiga, "Apaan nih?"

"Wedang jahe," sahut gadis itu pelan, mengeratkan cardigan yang dipakainya, lalu duduk di sebelah Calum, kini memegang gelas kertasnya sendiri dengan dua tangan. Ia melirik pemuda di sampingnya yang masih mengernyit juga.

"Emang kamu mau apa? Latte? Gak ada starbucks tau disini," ujar Frisca ketus.

"Yeh. Galak," ucap Calum, mengacak rambut gadis di sebelahnya gemas.

Frisca menyesap wedang jahe dalam gelasnya, menikmati usapan Calum walau merasa ada yang salah, yang tak seharusnya. Walau ia belum cukup berani untuk menggali ingatan akan apa yang sengaja ia sejenak lupakan itu.

Gadis itu menarik nafas, meletakkan gelasnya di rumput lalu memeluk lutut, mendengarkan puisi malam yang dilantunkan alam. Tentang sinar bintang dan cahaya bulan, diiringi orkestra suara jangkrik dan kukukan burung hantu dari kejauhan. Ia menyenangi suasana seperti ini. Kesenyapan yang dihadirkan membantunya merenungi banyak hal, terlarut sepi dalam pikirannya, walau nyatanya ia tak sendiri.

Pemuda tampan itu memandangi siluet manis di sebelahnya dalam diam. Frisca, sedang menatap satu bintang yang bersinar terang dengan dua mata beningnya yang bercahaya. Seakan bisa mendengar, Calum seolah juga tahu bahwa gadis itu sedang bercerita tanpa suara pada penghias malam di atas mereka. Entah mengenai kisah apa.

"Lagi cerita dalam hati ya, Ca?" tanya Calum pelan, membuat gadis itu mengerjap lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan 'kok tahu ?'.

Pemuda itu tersenyum, "Tapi bintangnya gak bisa bales curhatan lo ya? Ada manusia nih disini. Dianggurin."

Frisca balas tersenyum, lalu kembali menatap ke depan, "Aku punya banyak pikiran, Cal. Banyaaaak banget. Kadang gak penting sih. Tapi gak tau gimana bisa aja jadi beban. Kalau lagi begitu, biasanya aku pasti cari tempat sepi, cerita dalam hati di depan benda mati yang gak mungkin bocorin ke siapa-siapa."

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang