Kau mencoba tuk melihat ke atas
Dalam segala kelemahanmu
Tiba-tiba segalanya menjadi begitu jelas. Keterpanaan Sifa setiap mengantarnya pulang ke kediaman keluarga Hemmings. Ekspresi tak tertebak Sifa kala mendengar segala macam tentang Calum. Tatapan aneh gadis berwajah tirus itu saat sesekali melihat Calum sedang bersamanya. Semua itu... ternyata sarat dengan kerinduan, mungkin juga sedikit kecemburuan.
Di tepi tempat tidurnya, Frisca terpekur. Memegangi jantungnya sendiri, seakan takut organ krusial itu akan meledak lantas jatuh berserak. Setelah mengetahui sebegitu pentingnya posisi Mai, Ia tak mampu lagi menyangkali sakit hatinya lagi. Kini Ia hanya bisa berharap, perih ini akan menghilang bukannya melesak makin dalam.
Walau jelas-jelas tak mau mengerti, dalam benak Frisca semua yang terjadi hari ini sudah menyambung rantainya sendiri. Menyatukan setiap kata dalam potongan kisah. Membuatnya tak bisa bernafas, bahkan hanya untuk sekedar mendesah. Plester ketidakmau-mengertiannya tadi ternyata tidak berfungsi. Malah membuat lukanya bertambah parah, kini bernanah.
Entah kenapa, kantong dari Michael tadi menarik perhatian gadis itu. Disertai gemuruh yang tak tenang juga dalam dadanya, Frisca meraih lalu mengoyak isi kantong hingga berjatuhan di tempat tidurnya. Harusnya, Frisca tidak heran saat melihat apa yang Ia dapat.
Sepotong coklat berlabel 'Her', pasangan jepit beraksen beruang itu, selembar sapu tangan biru muda dengan sulaman inisial 'C' beberapa benda lain dan sebuah pigura. Pigura ini, pigura yang sama yang pernah dilihatnya di kamar bermain Sifa saat pertama kali berkunjung kesana. Pigura berisi foto Sifa kecil ditemani seorang pemuda dan pemudi cilik lainnya.
Frisca terperanjat, baru sadar siapa pemuda cilik di foto ini. Kelebatan bayangan itu mencambuki hatinya. Pemuda cilik yang sama dengan bocah penghuni kotak kaca yang tertempel di dinding rumah pohon halaman belakang. Calum. Tentu saja. Siapa lagi?
Kau mencoba tuk tegakkan bahumu
Dalam segala beban hatimu
Frisca membalik pigura kaca di tangannya, bersiap menghadapi muntahan peluru kenyataan lagi. Tulisan tangan acak-acakkan pudar disana –yang entah disadur penulis ciliknya dari buku orang dewasa mana- akhirnya ... menjebol apa yang dibendung Frisca sedari tadi. Setitik air mata merembes tanggulnya, karena sesak itu tak mampu lagi ditampung rongga dadanya.
Tiga karakter begitu simple. 'C❤️M' tertulis dengan huruf sambung yang pernah dilihatnya dalam sebuah gambar keluarga di dinding kotak kaca aurora terdahulu itu juga. Tulisan tangan Calum kecil. Dibawah tulisan itu, ada sebuah tulisan lain yang nampak begitu baru 'forever after'. Penulisnya adalah tak lain juga adalah pengirim kawanan kotak berpita. Sifa.
Bukankah segalanya begitu jelas? Calum mencintai Sifa, bahkan sebelum nama Frisca sempat terfikir untuk dituliskan dalam kitab hidup pemuda itu.
Menangislah jika kau ingin menangis
Namun kembalilah untuk tersenyum
Frisca mendekap pigura itu ke dadanya, entah untuk apa. Mungkin untuk memaksa sesak di jantungnya agar menghilang seketika. Dia tidak mengira ada perasaan sedalam itu anatara Calum dan Sifa. Frisca menyesali kenapa dia harus hadir sebagai selingan dan jatuh telalu jauh dalam kilatan mata pencair tembaga itu. Kini, saat kedua tokoh utama dalam cerita telah bersatu lagi. Apa yang diharapnya?
Dan lagi-lagi airmata, kelompok bening yang selalu mengekori jejak pendahulunya. Jangan begini, batin Frisca sendiri. Setetes jatuh, yang lain pasti mengikuti, jangan....
Dengan fokus pandangan mulai mengabur, Frisca menangkap sesuatu berkilat dalam keremangan kamarnya. Ternyata kilatan itu adalah cahaya yang memantul dari mata bermanik hitam milik benda berbulu putih yang sedang duduk manis di dekat kepala tempat tidur. Thomas-bearnya.
Frisca terhenyak, merasakan kenangan mulai menguburnya dalam kepahitan tak tertanggungkan. Calum yang pernah berusaha kelewat keras untuknya itu, masihkah ada disana? Masihkah ada utnuk merengkuhnya?
Frisca tidak mengerti lagi. Bukankah dia sudah mempersiapkan diri? Lalu kenapa hatinya mesti sesakit ini? Karena hati itu di luar kuasa logika, Frisca. Sesimpel itu. Dan ternyata usaha membohongi diri sendiri tadi berakibat sefatal ini. Saat Frisca dipaksa untuk mengerti, akumulasi kebenaran yang Ia lesak terlalu kuat akan menohoknya kembali hingga Ia tak mampu merasakan apa-apa lagi.
Segalanya berputar di kepala Frisca, merasuknya hingga hampir gila. Semua yang pernah terjadi, dijejalkan lagi padanya saat ini. Setiap kenangan, ejekan, rengkuhan, keharuman hingga tampikan membuat gadis itu terperosok makin dalam.
Frisca memukuli ulu hatinya sendiri. Tidak mengerti kenapa Ia harus menyayangi Calum sedalam ini. Sudah, berhenti. Berhenti. Ia mengusap sungai kecil yang menganak di pipinya, memekik dalam hati agar kelenjar air matanya lebih baik tak usah berfungsi. Ia hanya mau ada Calum disini. Mendekapnya lagi. Bukan Sifa.
Kan kupinjamkan bahuku untukmu menangis
Kan kuhapus air mata yang basahi pipimu
Mungkin Frisca sedang bermimpi, karena tiba-tiba Ia merasakan seseorang mengurung tubuhnya. Gadis itu sendiri tak tahu, dalam pelukan siapa tangisnya sedang pecah sekarang. Sayangnya wangi ini. Bukan Calum. Bukan Aigner-nya. Bukan harum maskulin alami-nya.
Calum, pemuda yang sedang menyesak hati Frisca itu, tak tahu bahwa apa yang pernah Ia pinta telah terjadi malam ini. Harapan yang pernah Calum panjatkan pada suatu malam berhujan di atas bianglala. Akhirnya, Frisca menangis untuknya. Bukan untuk Luke. Dan bahkan Ia tak berada disini untuk melihat keinginannya sendiri terwujud.
Frisca tersedak sesaat. Dengan sisa kelemahan menempel di pelupuk matanya. Gadis itu mencoba untuk diam lalu berhenti menangis. Dan apa yang didengarnya, membuat Frisca terperanjat tak menyangka.
"Dum dum dum du du na na na."
Frisca mengangkat kepala, melihat rahang Luke bergerak-gerak mengulangi senandung itu untuknya.
Luke menurunkan pandangan saat merasakan kepala Frisca tak lagi terbenam di dadanya. Ia tersenyum tipis, mengusap pelupuk mata gadis yang sedari tadi masih dalam rengkuhannya,
"Menangislah. Saya akan diam, mendengar kamu menangis. Tapi kamu juga harus mendengar senandung saya. Kata mama saya, manusia menangis kalau bersedih dan lagu tadi ditujukan untuk siapapun yang sedang bersedih."
Kata-kata itu, Frisca terperangah "Ilu?"
Luke mengerjap sekali, "Kamu tahu nama kecil saya?"
Frisca memandangi wajah malaikat di hadapannya. Cinta pertama yang lama bersembunyi itu kini ada di hadapannya, mendekapnya. Ia mengulangi nama itu sendiri. Ilu. Ilu. Ilu. Frisca mencari-cari dalam hati dan merasa ingin menangis lagi. Tak ada debaran apapun disana. Tak ada lagi. Siapapun Ilu, ternyata hatinya sudah tak peduli. Cuma ada satu nama yang meracuni setiap sel tubuh Frisca. Satu nama yang bahkan sudah tak lagi peduli padanya.
Dan kugenggam erat tanganmu takkan kulepaskan
Kan kupeluk dirimu dengan segala rasa sayangku
***
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)