Bab 24 (Bagian A)

3.1K 507 319
                                        

"It hurts. Not just in the imagination. Not just in the mind. It's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain. I hate love." – Neil Gaiman, The Sandman No. 65.

***

Sekonyong-konyong sebuah awan cumulunimbus bergerak ke arahnya. Memekakkan inderanya dengan guruh badai dan Guntur yang tak kunjung reda. Karena kedua siluet itu masih berpijar disana. Tanpa kata, tanpa suara meski gemanya begitu terasa. Bergaung terlalu kentara, mencabik hatinya.

Frisca merasa Ia serapuh kaca, yang sedang memuai dan sedikit waktu lagi saja akan pecah berkeping ketika kesadaran mengembalikan tumpuan kakinya yang kini bergetar menjadi normal. Ia tidak mengerti. Lantas, tidak menyangka bahwa kebenaran akan menyapanya secepat ini dan kenapa sosok misterius itu harus menasbihkan diri dalam wujud Sifa.

Ia tak mampu berpikir. Karena sedari tadi system otaknya kacau begitu saja, begitu tiba-tiba. Potongan kebenaran ini disodorkan terlalu cepat ke hadapannya. Dan saat Ia harus menelan pil-pil kenyataan dengan jumlah di luar kemampuan kerja tenggoroknya. Potongan-potongan itu kembali menggelegak ke permukaan, menimbulkan rasa pahit memualkan menempel di ujung lidahnya. Yang kini seakan mulai mati rasa.

Lalu, kenyataan kedua itu menghantamnya terlalu cepat dalam jeda waktu terlalu singkat. Frisca masih membidik dua manusia di dekatnya dengan sejuta ekspresi yang Ia sendiri tak tahu apa maknanya. Ekspresi yang bahkan terlalu rumit untuk dijabarkan dengan ribuan kosakata. Tiba-tiba, raut Calum terlihat panic, sebelah lengannya menopang punggung Sifa, yang nampaknya baru saja tak sadarkan diri.

Pemuda itu menepuk pipi gadis dalam rengkuhnya perlahan, menggumamkan sesuatu dengan teramat lembut. Bahkan dari kejauhan, Frisca bisa mendengar benaknya membayangkan aksen panik dalam suara baritone itu memanggil-manggil nama Sifa. Bukan Frisca. Bukan namanya.

Frisca tahu Ia takkan sanggup menarik nafas lagi. Dadanya sudah terlalu penuh oleh himpitan rasa, hingga satu helaan udara saja dipastikan akan membuat jantungnya hancur seketika. Satu helaan yang bisa membuatnya sadar bahwa Ia tak sedang bermimpi dan Frisca pun takkan sanggup berdiri lagi.

Akhirnya, saat Calum berlari melewati tempatnya berdiri sambil membopong Sifa dan memanggil-manggil tenaga medis dengan raut kelewat cemas, Frisca baru menyadari satu hal yang pasti. Yang mencabiknya sekali lagi dan tak mampu Ia pungkiri. Bahkan kehadiran raganya sudah tak terlihat oleh orang yang paling Ia sayangi.

Detik itu pun, Frisca mulai tertatih.

***

Calum tidak pernah sebegini cemas memikirkan kesadaran orang lain. Ia tak pernah begitu peduli. Dan sekarang perasaan kalut itu seakan membunuhnya perlahan. Calum tak pernah tahu bahwa menunggu seseorang untuk membuka mata bisa terkonversi menjadi penantian panjang yang seolah meledekinya namun tak kunjung datang juga.

Pemuda itu menghentikan kakinya yang sejak tadi berjalan mengitari ruangan kesana-kemari tak karu-karuan. Calum menghela nafas lalu memutuskan menarik bangku ke sebelah ranjang pasien dimana seorang gadis berwajah tirus sedang tergeletak di atasnya sekarang.

Ia beranjak duduk di bangku tadi, lalu menopangkan dagu ke kisi-kisi besi ranjang, menatapi wajah pias Sifa yang kini membuatnya ketar-ketir setangah mati. Karena Calum tadi membuka ruang rawat VIP, pemuda itu baru menyadari bahwa ruangan ini terlalu sepi. Telinganya tak mendengar bunyi apa-apa selain suara tetesan infuse dan berbagai pikiran yang berkejaran di otaknya sendiri.

Calum berdiri lagi, lalu menendang kursi yang tadi Ia duduki. Ia tak tahan tidak melakukan apa-apa selain menunggu dalam kesunyian yang mencekamnya seperti ini. Pemuda itu mulai mondar-mandir sambil berusaha menyibukkan benaknya sendiri.

Namun ternyata keresahan akan kesadaran gadis kecilnya yang dari dulu begitu mandiri membuat otak Calum tak mampu digunakan secara sempurna. Pikirannya berloncatan dari satu hal ke hal lain, yang tidak saling berkaitan. Tiba-tiba ada satu kelebatan yang menohoknya. Ia merasa seperti melupakan sesuatu, sesuatu yang harusnya begitu krusial. Tapi apa?

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang