Part 27 (Bagian A)

3.6K 516 603
                                        

Tapi alam semesta punya rencananya sendiri. Dan nampaknya rencana itu adalah agar kita saling berpisah jalan - Raditya Dika, Rahasia Kecil Ini, June 9 2010,

***

Bahkan sebelum sayap fajar membentang, gadis itu telah terjaga dari tidurnya. Ia menurunkan selimutnya, mengerjap sekali lalu bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang. Untuk alasan yang tak kasatmata, Ia menghela udara dan tersenyum cerah dengan perasaan senang yang membuncah. Mengingat mimpi-mimpi panjangnya yang terasa (dan kini memang) nyata.

Gadis itu menyambar ponsel yang tiba tiba bergetar di bawah bantal yang disandarinya, tersenyum saat mendapati sebuah pesan singkat yang menyejukkan hati.

From : Calum :)
G' morn Mai. Sleep well? About to heading to your castle in 20 minutes, princess :)

Sifa tertawa pelan, lalu dengan cepat menggerakkan jarinya di atas keypad ponsel.

To : Calum :)
So, You'll ride a horse eh ? =P i'm waiting for you then, knight ;) *curtsystyle*

Gadis berwajah tirus itu tersenyum tanpa sebab setelah mengirim pesan yang diketiknya. Ia bergerak mengurut bagian belakang tengkuknya dengan sebelah tangan sambil menaruh ponsel pada nakas di sebelah tempat tidur.

Sifa terhenyak ketika perasaan senangnya menguap seketika. Alasannya adalah sebuah pigura berisi foto yang diambil saat perayaan hari jadi ketujuh belasnya beberapa waktu lalu. Potret dirinya bersama Michael dan .... Frisca.

Sebuah perasaan bersalah yang tak nyaman dengan cepat menyalip dadanya. Ck. Sifa berdecak dalam hati. Melepas pijitan pada tengkuknya lalu mengulum bibir sambil mengulurkan tangan untuk membalik pigura tadi hingga menghadap ke bawah dengan sengaja.

Buru buru Ia enyahkan beban pikiran yang masih bergelantungan di benaknya. Mengacuhkan tuntutan 'moral' yang terelu dan terasa terlalu mengganggu. Tak ada yang boleh membuat pagi ceria ini terkontaminasi. Ia harus belajar bersikap tak peduli.

Sifa menghembuskan nafas, lalu bangun dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju jendela besar yang terletak di sudut kamarnya. Ia menyibak tirai gading besar disana lantas tersenyum pula pada bias keemasan yang menerpa kaca dan memantul dari sepasang mata coklat tua miliknya. Ah, matahari. Bukankah setiap pagi hari adalah sebuah keajaiban baru yang patut disyukuri?

Ia menghirup udara hingga memenuhi rongga paru-parunya lalu berbalik dan bersenandung pelan sambil menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.

Selesai berbilas, gadis berwajah tirus itu mengenakan seragam Season High nya. Lalu tak lama menarik bangku dan duduk untuk mematut diri di hadapan kaca rias. Baru saja akan mengambil sisir untuk merapikan rambut, tiba-tiba Ia terpikir sesuatu.

Sifa melirik accesories box-nya lalu memutuskan menarik dan merogoh rogoh laci kecil teratas. Ia tersenyum tipis saat jemarinya mengapit sebuah jepit mungil beraksen beruang.

Gadis itu menarik poninya ke belakang lalu menyematkan jepit itu disana. Karena jepit itu terlalu kecil dan lemah untuk menahan jumputan rambutnya, Sifa menambahkan lagi sebuah jepit kawat hitam panjang sebagai bantuan. Gadis itu pun tersenyum manis pada refleksi dirinya.

Setelah sekali lagi mengecek kerapihan mansetnya, gadis itu menyambar Anya Hindmarch dan ponselnya lantas berjalan meninggalkan kamar.

Tak lama perasaan senangnya surut pula. Sifa mendesah saat mendapati keheningan bergaung keras pada lorong yang dilewatinya. Saat sisi tangga telah tampak dua meter di hadapannya, gadis itu memutuskan berbalik lagi. Dan dengan langkah ragu, Ia berjalan mendekati salah satu pintu kamar yang terletak di ujung lorong.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang