Beberapa hari kemudian.
Luke menekan 'lock key' pada mercedes-benz remotenya lalu berjalan menelusuri lorong garasi yang tersambung ke dapur kotor lantai satu sambil terus berbicara dengan ponsel di telinganya.
"Both of you? Will get back home? Like seriously?" tanya pemuda itu pelan dengan nada takjub.
"Nope. Not a problem. Just still a lil' bit shocking. For what reason, actually?" tanyanya lagi sambil mengernyit.
Luke terus melangkah melewati lorong, "Hmm. Ok, then. I'll wait for that super-important 'till you touch down here. You'll arrive within three days, eh? Do you have any wishes? A homecoming tea party maybe? I have to arrange it since now, if you'd like to. Okay.. Just.."
Pemuda itu menghentikan langkahnya seketika saat menjejak ke dapur. Entah untuk alasan apa, Ia mematung sewaktu melihat dua orang yang sedang berperan dalam lakon tak jelas di hadapannya.
Luke tersentak saat suara di ujung ponsel menyalak memanggilnya, Ia segera menyahut, "J-just.. fine. We'll talk again soon, Pa. Bye." kata pemuda itu lalu menekan tombol merah untuk memutus sambungan.
Demi Tuhan, apa yang sedang terjadi sebenarnya? Luke tanpa sadar menyembunyikan diri di balik pintu sambungan, memperhatikan dua orang yang dianggapnya sakit jiwa. Yang benar saja? Untuk apa Calum disana? Bersama Frisca? Apa dunia baru membuat mereka berdua sama-sama amnesia? Gila.
Luke melongok, melihat gadis berambut panjang disana tengah mengaduk sesuatu dalam panci mendidih. Dari aroma yang menguar, tampaknya puding cokelat. Tak lama Frisca melakukan gerakan kecil khasnya. Menyusupkan jumputan rambut ke belakang telinga.
Pemuda itu mengangkat kedua alis saat melihat Frisca tersenyum jengah dengan pipi bersemburat merah ke arah Calum yang diam saja di sebelahnya.
Diam. Saja. Jadi buat apa sesungguhnya Calum disana?
Luke mengerutkan kening makin dalam saat tak lama Calum melipir pergi. Sementara Frisca terus mengaduk cairan pekat di dalam panci menggelegak sambil terus menatapi punggung pemuda yang menjauh membelakanginya dengan senyum tertahan.
Gadis itu lupa ingatan atau apa? Tak ingatkah bahwa Calum yang membuatnya menangis meraung-raung waktu itu?
Luke melangkahkan kaki mendekati Frisca lalu berdeham pelan, membuat gadis itu terlonjak kaget lantas membalik badannya sambil menepuk dada.
"Tuan," sapa Frisca pelan sambil menggangguk takzim ke arah Luke, "Emm .. Butuh sesuatu?" tanyanya
Pemuda itu mengangkat alis, tanpa kata Ia berjalan mendekati lemari pendingin, lalu mencari sekaleng teh hijau.
Luke menutup pintu lemari yang sama saat Ia menemukan apa yang dicarinya, lantas berjalan lagi menuju ke arah Frisca sambil mengorek bukaan kaleng.
"I just droppin' by," kata pemuda itu seolah tak acuh lalu menyesap isi kaleng di tangannya.
Frisca mengangguk mengerti, tersenyum sekilas lalu berbalik menghadapi pancinya yang bergeleguk lagi.
"Do you mind if I ask you something?" Ujar Luke tak bisa menahan keheranan yang sudah menggantung di ujung lidahnya.
Gadis itu menoleh lewat balik bahu lalu menggeleng ragu. Mengisyaratkan tak apa baginya jika Tuan muda baik hati itu bertanya.
Luke menarik nafas, "Ada apa Calum kesini tadi?"
Frisca tersentak sekilas, lalu mengulum bibirnya. Tak lama gadis itu menggeleng ke arah Luke, "Gak ada apa-apa, Tuan." jawaban yang membuat pemuda itu otomatis mengangkat dua alisnya.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)