Bab 14 (Bagian B)

5K 724 337
                                        

Frisca bergegas menaiki tangga, Ia baru saja dari dapur kotor di bawah untuk mengambil Tupperware lain yang lebih kecil untuk dijadikan kotak bekal. Saat naik itulah, Frisca mendengar bunyi berderit pelan. Ia menoleh kearah pintu jati itu. Kalau kupingnya tidak salah, pasti pintu itulah yang baru saja ditutup, sehingga menimbulkan bunyi berderit tadi. Sudah bangunkah Calum? Frisca berusaha mengusir keingintahuan itu.

Frisca melangkah cepat ke pantry, menyadari waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima pagi. Sebentar lagi aktivitas di sekitarnya akan dimulai. Frisca bersenandung kecil sambil menuju meja tempatnya menaruh sandwich buatannya tadi. Dahinya mengerut mendapati sebuah bungkusan asing yang bertengger disana. Bungkusan siapa ini? Kok ada disini? Apa isinya?

Akhirnya rasa keingintahuan mengalahkan pertimbangan lain Frisca. Ia membuka bungkusan biru itu dan terkesiap mendapati benda yang ada di dalamnya. Sepasang baterai jam dan sebuah kunciran bulu biru berlabel merk salah satu toko aksesoris remaja. Entah kenapa, di otaknya hanya terlintas satu nama. Walau mungkin tidak mungkin. Pemilik pintu jati berderit tadi. Calum.

***

Kesadaran itu merayap bagai kabut. Bergerak perlahan, lalu tanpa terasa mengaburkan pandangan. Ini yang Ashton rasakan kemudian. Kesadaran yang Ia takuti namun ternyata Ia harapkan. Ia mendapati bahwa Ia sedang menggapai air. Sedetik lalu, Ia merasakannya di ujung jari, tapi sesaat kemudian gadis itu tak disana lagi.

Ashton melirik gadis di sebelahnya. Yang lagi-lagi, entah keberapa kali untuk pagi ini, menatapi langit cerah diluar dengan kegalauan yang menjadi-jadi. Kegelisahan itu seperti berkedip-kedip bak mercusuar dari setiap inchi tubuh Frisca. Pasti ada yang tidak beres.

"Ca?" kata Ashton pelan. Frisca di sebelahnya masih diam, matanya berkedip sekali menandakan kehidupan sambil tetap menatap keluar jendela. Ashton memanggil lebih keras "Ca?"

"Hah? Eh.." Frisca agak terkejut mendengar namanya dipanggil. Ia buru buru menatap Ashton dengan mata sayu, "sorry."

Ashton Cuma tersenyum, "are you really here? Or am I talking to a shadow?" Ashton menggerakan sebelah tangannya iseng ke depan wajah Frisca, seakan mau meyakinkan bahwa Frisca benar benar di sebelahnya. Ini akhirnya membuat Frisca tertawa kecil, Ashton menghela nafas lega diam diam.

Ashton menghentikan tangannya yang bergerak, Ia kemudian menatap Frisca lekat-lekat "jujur ya, elo lagi kenapa sih?"

Frisca mencubit cubit bibirnya, lalu membuang muka ke depan. Dia tidak menjawab hingga akhirnya Ia menepuk dahi dengan tangannya, seakan melupakan sesuatu lalu Ia merogoh ranselnya. "Tadaaaa!" Frisca menyodorkan sebuah Tupoperware ke depan wajah Ashton saat lampu berubah merah. Ashton mengernyit sambil menyentuh pedal rem di kakinya.

"Apaan nih?" tanyanya. Ia mengambil lalu membuka tutup kotak yang disodorkan Frisca dan mendapati sepotong sandwich dengan coretan nama ASHTON di atasnya. Ia tersenyum cerah, memutar kepalanya kearah Frisca, "thanks yaa."

"Aku bakal bikinin kamu sarapan tiap pagi loh.."

Ashton tersenyum, memutuskan menaruh kotak bekal itu di dashboard dan memakannya nanti, karena lampu sudah berubah hijau. Tak berapa lama, Ashton melirik cepat kearah Frisca dan mendapati gadis itu tengah melamun lagi.

Oke, mari kita keluar jalur sebentar. Ashton membanting setirnya kearah kanan, bukan ke kiri, kearah sekolah Frisca seharusnya.

Frisca yang sedang melamun tiba tiba tersadar "Ash? Kita mau kemana? Ini bukan jalan ke sekolahku kan?"

"Bukan, ke sekolah gue juga bukan."

"Terus?"

"Bolos sekali sekali itu menyehatkan tau."

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang