Calum membolak-balik majalah otomotif di atas tempat tidurnya, mencari artikel BMW 520D terbaru yang menarik minatnya. Ia berfikir sebentar. BMW ini, Infiniti kemarin dulu atau dua-duanya saja ya? Hmm.
Drrt .. Drrt ..
We need to talk!
Sender : Mai
Calum berdecak pelan, lalu menyingkirkan ponselnya jauh-jauh dari pandangan. Tak lama ia mengernyit, ketika benda yang sama berkedip-kedip dan bergetar lebih heboh lagi. Kali ini menandakan panggilan masuk.
Pemuda itu menggeram pelan, lalu memutuskan menonaktifkan ponselnya, mengalihkan pandangan pada artikel majalah tadi. Hmm. 520D ini mobil diesel pertama di Indonesia? Tapi Infini....
Braaak!
Tiba-tiba pintu jati itu menjeblak terbuka, menampilkan sosok Sifa yang sedang mencari-cari si empunya kamar dengan tatapan kesal.
Calum melejit dari tempat tidur, lalu bergegas menuruni undakan dan berseru, "Lo gila ya?"
Sifa mendengus, "You're.. such a coward. You can't avoid me for ever, can you?"
"I said, we're over okay?" seru Calum kesal.
"It's not the point." sahut Sifa tak mau kalah, lalu bersedekap, "I said, I need to talk."
Calum mengangkat alis, "What if.. I don't wanna hear your talk?" tantangnya, ikut bersedekap juga.
Sifa menurunkan tangan, lalu berjalan mendekati Calum, mengganti tatapan kesalnya dan beralih menatap dua pencair tembaga itu dalam-dalam.
"I love ..." katanya sepotong, menarik nafas, masih memandang mata Calum, "you in my memoirs," lalu tersenyum geli.
Calum mengernyit, "Hah?"
Sifa ganti mengangkat ujung bibirnya kesal, "Lo gak ngerti bahasa Inggris apa gimana?" katanya, membuat Calum terkejut lagi karena pemakaian kata ganti yang tidak se'dekat' kemarin.
Gadis itu menarik nafas, "Gue ngerti, Cal. Apa yang lo alamin, gue juga. Kita ini.. sama sama naif ternyata." ia mengangkat bahu, lalu melanjutkan.
"Gue cinta sama lo, iya. Tapi.. sama lo yang ada dalam ingatan gue. Calum kecil yang memberi hatinya hanya untuk Mai." Sifa tersenyum.
"Beberapa bulan terakhir, gue -mungkin lo juga- membohongi dan memaksa diri sendiri. Gue ternyata melihat lo yang sekarang dengan bayang-bayang Calum yang masih gue cintai. Tapi toh, lo bukan dia.
"Waktu sudah merubah kita. Lo mungkin Calum, gue mungkin Mai. Tapi bagian diri kita yang pernah melengkapi satu sama lain itu udah mati, atau mungkin cuma hidup dalam kenangan."
Calum tertegun, mendapati ucapan Sifa yang terasa tepat.
"Perasaan membuncah kita belakangan ini mungkin hanya euforia. Pasca kejadian menemukan-dan-ditemukan di saat yang tepat. Tapi nyatanya euforia akan memudar juga setelah kejadian itu mulai kadaluwarsa. Jadi selama ini kita begitu hanya untuk perasaan temporary, buang-buang waktu ya?"
Gadis itu tersenyum, menepuk lengan Calum, "Kejar Frisca, Cal. Jangan sia-siain cinta. Gue .. akan melihat dan mendukung lo dari jauh. Karena memandang lo berjalan dan tertawa bersama dia, membuat ingatan gue tentang lo waktu kecil dulu tetap segar. Melihat lo yang begitu menyayangi Ica, membuat 'Calum' yang gue cintai tetap hidup disana. Mungkin waktu kemarin, itulah yang membuat gue iri dan menginginkan lo lagi.
"Setelah pulang dari US kenapa gue gak langsung ngejar lo? Karena saat itu, elo belum bersama dia, gue belum melihat 'Calum' yang gue cintai lagi di dalam diri lo. Lalu begitu elo udah milikin Ica, gue liat 'Calum' kembali di mata lo dan saat itu, ditambah tekanan masalah Papi, dorongan untuk mendapatkan lo pun makin besar. Ah. Ternyata ujungnya bagian diri lo itu memang udah buat Ica, bukan buat gue."
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)