Setiap tarikan nafas, adalah salah satu tarikan nafas lagi mendekati kematian - After The Funeral, August 6 2009, radityadika.com
***
Sesak itu masih juga terasa. Bicara raga maupun tentang yang tak teraba. Secara jasmani, bagian belakang tubuhnya masih berkeretak pelan. Mengingatkan tadi. Ketika embusan tajam angin malam menusuk tulang punggungnya yang terus melengkung mencari gundu-gundu itu.
Sewaktu posisi tubuhnya membungkuk, tulang rusuknya tertekan gravitasi kala susah payah berkontraksi, lantas dadanya sulit terangkat dan menyebabkan berkurangnya kuota udara yang memasuki rongga jantung hingga nafasnya menjadi tak normal terhela.
Tapi kini, saat ia menegakkan tubuh dan tak lagi berada di udara terbuka, sesak itu ternyata tetap saja ada bahkan terasa lebih nyata. Bukan lagi karena sistem pernafasannya yang secara biologis tersumbat, namun karena kini hatinya yang tercekat.
Calum menatapi sebelas gundu yang dikeruhkan sedikit percik tanah pada telapak tangannya. Ia menghela nafas lelah, bisa merasakan sebulir keringat sebesar biji jagung menuruni pelipis lalu rahang kokohnya.
Entah berapa lama ia mencari kesebelasan ini satu-persatu, mengingat matanya hampir terus berair dan terasa tersundut perih akibat terlalu lama memicing. Ia berdecak pelan, sadar dirinya sangat teramat menyedihkan. Sesaat, pemuda itu mengalihkan fokus pada kegelapan kamar yang baru ia masuki. Kamarnya, tentu saja.
Calum menarik nafas pelan. Tidak habis fikir sendiri. Kenapa ia tak bisa memandang gundu-gundu ini sebagai gundu biasa seperti anggapan Frisca? Bukankah ia bisa membeli gundu lain beserta pabrik-pabriknya?
Pemuda itu lalu memandangi butir masa lalu di genggamannya lagi. Tentu. Tentu saja otaknya takkan mau dicuci dengan persepsi tadi. Karena setiap sel tubuhnya tahu betapa berharganya gundu-gundu sederhana ini.
Bulir kaca kecil yang sempat merefleksikan tawa Frisca kala ia menggoda gadis itu di saung desa. Ia yakin, walau tak tervisualisasi secara kasatmata, bulir kaca ini masih menyimpan keping tersembunyi kebenaran hati yang ia cari dan cintai di dalamnya.
Tidak. Bahkan sekali-kali pun, Calum takkan rela menukarnya dengan butir mutiara langka.
Ia menggenggam semua gundu di tangannya erat-erat, seperti jimat. Karena ia tahu, ia belum mau menyerah. Toh, gadis itu belum benar-benar mengatakan bahwa ia tidak mencintai Calum lagi. Berarti masih ada sedikit rasa untuk pemuda itu, bukan?
Calum menoleh, kali ini mengalihkan pandangan ke arah sebuah kotak mungil cantik berwarna hitam dengan sedikit aksen keperakan yang beqtengger di meja panjangnya. Pasti tadi Romi yang menaruhnya disana, mengingat tadi sang Mama lah yang mengiriminya pesan singkat untuk mengambil cincin pertunangan dari Frisca, sementara wanita itu berjanji akan memberi kotaknya nanti. Mungkin karena tadi tak ada Calum di kamar, jadi Romi meletakkannya sembarang.
Pemuda itu berdecak kesal, lantas teringat pada cincin mahkota laknat yang dilepasnya dari leher Frisca tadi. Ia merogoh sakunya dengan sebelah tangan, akhirnya menemukan untaian rantai menggantung pada jemarinya. Perlahan, Calum menarik kalung itu keluar, mendengus saat melihat cincin mahkota itu berkilau mengejeknya.
"Lebih berharga gundu gue daripada lo tau!" serunya geram pada kalung itu, lagi-lagi setengah tak waras bermonolog dengan benda mati.
Karena tempramen sedang membakar egonya dengan suhu tinggi, Calum melangkah pelan ke arah meja panjang, lalu menjatuhkan kalung tadi tanpa perasaan kesana hingga mata cincinnya terdengar berdenting mengadu permukaan kaca.
Ia mengangkat satu ujung bibirnya kesal, dengan satu tangan membuka kotak kecil hitam disana lalu mengeluarkan busa pengganjal yang mengisi bagian dalam kotak.
![Love Command [5SOS]](https://img.wattpad.com/cover/74953019-64-k769117.jpg)