Bab 34 (Bagian E)

3.5K 506 342
                                        

Sementara Frisca masih juga terjaga. Insomnia yang biasakah? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Gadis yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang itu menarik nafas lalu meletakkan dagu di ujung guling yang sedang dipelukinya. Berjuta fikiran berpusar bagai beliung di benaknya.

Yang mendominasi paling utama : Apa tadi perkataannya terlalu jahat untuk Calum ya? Frisca berdecak, memutuskan memejamkan mata sebentar lalu menoleh ke arah jam dinding setelah kembali membuka dua mata beningnya. Hampir tengah malam, ternyata.

Sayup-sayup, ingatannya kembali menyodorkan visualisasi kejadian tadi, di kamar Luke, ketika sang empunya kamar tiba-tiba berseru "Calum?" yang mau tak mau mengundang Frisca untuk ikut menoleh juga. Sesungguhnya, gadis itu sempat terhenyak menatapi pencair tembaga menyala-nyala Calum yang berada di depan pintu. Terdengarkah perkataan lidah-namun-bukan-hati itu tadi? Batinnya.

Lalu saat Calum berbalik pergi, Frisca seketika menoleh kalut ke arah Luke, yang tak diduga hanya tersenyum tipis lalu berujar, "Yakinkan saya soal ucapanmu tadi, Chérie. Katakan padanya secara langsung apa yang kamu katakan pada saya. Mau kan?"

Dalam kebingungan, gadis itu tak bisa berpikir panjang, hingga akhirnya menurut lalu mengejar Calum. Lalu setelahnya, tampikan langsung dan gamblang pemuda yang diekorinya itu, sontak membuat Frisca mau tak mau ikut meledak lagi. Jadi biar saja ia ulangi pembantahan hatinya itu lagi. Apa Calum tak mengerti juga bahwa ia gusar akibat desakan kebimbangan berarti?

Entahlah, nampaknya kala itu lidah Frisca lancar sekali mengontradiksi hatinya sendiri. Terlalu lancar malah. Hingga gadis itu tak sadar ucapannya bisa jadi bumerang nanti. Bagian 'rongsok' itu terutama. Tekanan terlalu besar ternyata membuat Frieca tak bisa mencari kosakata lain untuk mencaci. Ah. Lagi-lagi. Terlalu jahatkah ia?

Lantas gadis itu juga baru menyadari satu hal lain. Ada apa dengan Luke? Mengisyaratkannya dengan tekanan tersembunyi dalam kalimat bersayap untuk mengonfrontasi Calum? Benarkah aura pemuda itu sempat berubah? Menjadi lebih menekan kuasa? Mmm.. Posesif?

Frisca tak tahu juga. Tapi fakta baru ini, entah kenapa membuatnya bergidik sedikit ngeri. Mungkinkah Luke memiliki dua sisi? Pikirnya berasumsi. Dan bisakah ia bertahan dengan perubahan pemuda yang mulai terasa takkan mudah terbaca lagi ke depannya ini?

Gadis itu menyibak poni lalu mengacak rambutnya pelan. Kenapa ia jadi makin ragu begini? Dalam keheningan, sebuah gemuruh tak tenang terasa jelas berarak di jantungnya. Lalu otaknya yang sok tahu mencoba mencetu satu kata deskriptif yang tepat. Hmm.. Sesal?

Apa? Menyesalkah dirinya?

Frisca menggigit bibir lalu membenamkan guling pada wajahnya. Kenapa ia tidak bisa tidur saja? Berlagak segalanya baik-baik saja? Bukankah esok adalah sebuah hari bahagia? Gadis itu pun memutuskan untuk membaringkan diri dan memejamkan mata.

Tak selang berapa lama, ternyata gadis yang sama masih bangun juga. Karena sadar ia tetap takkan bisa terlelap walau dipaksa, Frisca berfikir untuk membuat susu hangat saja. Gadis itu meletakkan guling yang dipelukinya lalu beranjak dari tempat tidur. Ia mengusap-usap lengannya yang ditiupi hawa beku mesin pendingin lalu melangkah keluar kamar.

Gadis itu pun mulai menapaki tangga ke bawah dengan langkah diiringi gaung sahutan dan kegelapan yang terasa agak menakutkan. Rumah sebesar ini, terasa sepi sekali.

Frisca tiba-tiba terhenti di salah satu anak tangga terbawah, dua pijakan lagi sebelum menyentuh lantai satu. Benarkah ia mendengar bunyi gerbang utama -yang memang selalu berisik saking berat dan besarnya itu- dibuka? Siapa yang pulang begini larut? Atau.. Adakah yang pergi?

Tak lama kemudian, gadis -yang tanpa sadar menunggu- itu mulai menapak menuruni dua undakan terakhir tadi lalu mengernyit saat -merasa- mendengar derum samar kendaraan melintasi pelataran depan.

Love Command [5SOS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang