tujuh belas

13.8K 1.7K 124
                                        

Kalo Shella ditanya dia suka apa enggak sama Chanyeol, jawabannya iya dan tidak.

Iya, jika yang dimaksudkan itu harum badannya Chanyeol. Chanyeol gitu-gitu orangnya pembersih, badannya harum, mungkin parfum yang dipake juga oke kali ya, tapi ya asalnya emang orangnya adalah pembersih. Meskipun gak ada pembantu, kalo kalian nengok ke kamarnya Chanyeol, pasti gak bakal nyangka kalo kamarnya lebih bersih daripada kamar Shella. Segalanya teratur, rapi, dan sistematis. Begitu juga kondisi mobilnya.

Tidak, jika yang dimaksudkan itu adalah suka dalam artian cinta. Chanyeol itu menyebalkan, egois, posesif, dan Shella gak suka. Ya allah ini aja mereka nikah tanpa terlibat perasaan apapun, Chanyeol udah posesif begini gara-gara Daniel yang notabenenya cuman bercanda. Apa kabar kalo emang beneran?

Shella berjarak satu meter dari cowok aja udah disuruh jauh-jauh kali.

"Chanyeol sinting," Shella menggerutu didepan layar komputernya saat mengingat hal itu, dia lupa kalo orang yang disebutnya tadi sedang berada di ruangan yang sama.

"Barusan lo bilang apa?"

"Gapapa, ada cicak mati."

Shella melanjutkan pekerjaannya seakan tadi dia tidak mengucapkan apa-apa.

Seharusnya hari ini Shella ada jadwal kuliah, tapi dia titip absen lewat Keysha karna lagi males banget buat bolak-balik kampus-kantornya Chanyeol. Keysha tadi udah marah-marah, pokoknya satu kali ini aja gue lo titipin absen! Ujar sahabatnya itu lewat telpon. Keysha bukannya anti dititipin TTD, dia gak suka aja kalo di kelas Gina atau Shella gak ada, kelas rame tapi berasa sepi katanya. Cielah. Makanya daripada satu yang TA, mending bareng aja tiga-tiganya TA.

"Udah makan lo, Shel?" tanya Chanyeol tanpa melepas pandangan dari komputer yang ada di meja kerjanya.

Shella memutar kedua matanya dengan malas, perlu banget ya itu ditanya? Shella dari pagi tadi gak ada keluar dari ruang kerjanya, terus masih ditanya udah makan apa belom?

"Belum," jawabnya singkat.

Chanyeol memerhatikan jam tangannya. Ini sudah memasuki jam makan siang, kalo mau makan sekaranglah waktunya sebelum 2 jam kedepan dimana dia harus menghadiri meeting.

"Makan yuk, Shel. Laper gue," mendengar ucapan itu Shella memberhentikan aktivitasnya dan menoleh kepada Chanyeol. Kali ini dia setuju karna perutnya juga sudah protes dan butuh asupan makanan. Chanyeol sih masih mending ya, tadi pagi dia masih sarapan energen dan omelet buatan Shella, kalo Shella kan sama sekali belum ada makan.

Dengan begitu, mereka berdua keluar dari ruangan dan memutuskan untuk makan diluar. Sepanjang jalan dari ruangan Chanyeol sampai parkiran, pandangan karyawan-karyawan di perusahaan tersebut tidak terlepas dari Shella.

Sudah seminggu ini dia menghadapi situasi seperti ini,Shella sempet denger bisik-bisik dari salah satu diantara mereka, "Ya ampun so sweet banget bu Shella nemenin Pak Chanyeol kerja setiap hari,"

"Aduh mereka ngapain aja ya di ruangannya Pak Chanyeol,"

"Istri Pak Chanyeol itu posesif banget sampe diikuti seharian, iya, yang itu,"

"Gak punya kerjaan kali ya Bu Shella nemenin Pak Chanyeol mulu,"

Shella berusaha memasang muka tebal berhadapan dengan orang-orang yang terang-terangan membicarakan dia. Bibirnya dia paksakan tersenyum dengan sopan. Ingat, dia harus ingat disini dia adalah istri dari direktur. Gak lucu kalo tiba-tiba ada gossip tersebar kalo istri direktur ngejambak karyawan gara-gara ngomongin dia.

Shella menyingkut lengan Chanyeol, seolah-olah memberitahukan ketidak nyamanannya. Tapi Chanyeol berbisik kalo omongan seperti itu gak penting, gak usah dipeduliin katanya, mereka gak tau apa yang sebenarnya terjadi.

Endline #PCYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang