The worst part of having a problem, is you have to pretend you don't have any in front of others. Kita diharuskan tetap tersenyum, tertawa, dan berlagak bahwa semuanya baik-baik saja, seakan-akan wajah kita memiliki topeng yang bisa diganti setiap pergi ke tempat umum.
Orang sering bilang, "Udah, jangan nangis.." saat menemukan seorang yang menangis dihadapannya.
Tanpa mereka ketahui, bahwa dengan cara itulah mereka meluapkan perasaannya. Air mata yang tidak bernyawa namun berbicara, mengungkapkan kesedihan pemiliknya yang sudah tidak terbendung lagi. Mengungkapkan emosi yang terpendam.
Dan bagi segelintir orang yang seperti Shella, menangis adalah satu-satunya cara untuk meluapkan kesedihannya. Ya, sebenarnya otaknya mengatakan banyak hal, tetapi tidak ada yang sampai keluar dari mulutnya. Seakan-akan semua tertahan di dada, hingga yang terasa di tenggorokannya hanyalah sesak.
Sakit.
Sakit banget.
Di hari bahagianya ini, Chanyeol justru datang untuk mengingatkan apa yang menjadi mimpi buruknya dalam waktu belakangan. Sudah baik perasaan Shella, bahkan dia dengan sengaja mempercepat urusan skripsinya agar melupakan hal-hal yang membuat semua rasa makanan terasa pahit, namun Shella melupakan satu hal. Bahwa setelah siang ada malam, setelah terang akan datang kegelapan.
Aku mau kita cerai sekarang.
Shella terduduk di ujung ranjang, dadanya dia tepuk-tepuk, bibirnya pun dia gigit agar tak mengeluarkan suara tangis terlalu keras.
Nanti didengar Mama.
Dia gak mau siapapun mendengarnya saat ini. Dia hanya ingin sendiri.
Yeol, setelah setahun kita bareng, apakah itu gak berarti apa-apa buatmu? Apa selama ini, selama kamu mengungkapkan kata-kata yang baru kusadari sebagai cara untuk menarik perhatianku, hanyalah untuk keisengan semata?
Shella masih ingat, waktu pertama kali bertemu Vania di Gala Dinner, sepulangnya di mobil Chanyeol bilang kalo dia udah tuntas sama Vania, bahkan dia terang-terangan bilang kalau udah gak ada rasa lagi. Shella gak perlu cemburu.
Namun apa kata orang itu benar adanya ya? Kalo cowok emang gak bisa dipegang omongannya.
Shella merasa ada yang tidak beres semenjak kedua orang itu berbicara dengan asiknya di selamatan rumah Kak Yura. Tapi teringat kata-kata Chanyeol dulu, bahwa Shella gak perlu cemburu sama Vania -bahkan saat itu Shella mengelak untuk apa dia cemburu-, dia menelan apapun yang ada didalam hatinya.
Shella gak mau ada pertikaian antara dia dan Chanyeol.
Cukup sudah selama awal-awal pernikahan mereka adu mulut tanpa henti, mempermasalahkan siapa yang menghabisi makanan di meja, botol minuman di dalam kulkas yang tidak diisi lagi setelah habis, rebutan remot TV, sampai kebiasaan Chanyeol yang tidak menggulung dengan baik charger laptop yang dia pinjam dari Shella yang masih menjadi permasalahan sampai sekarang.
Pada dasarnya, mereka terlalu sering mempermasalahkan hal-hal kecil, hingga lupa ada masalah besar yang luput dari mata.
Jika diibaratkan kurva, mungkin perasaan Chanyeol dan Shella di awal pernikahan berada di titik nol. Seiring berjalannya waktu, kurva Chanyeol perlahan naik yang menandakan perasaan positif sudah muncul, Chanyeol punya rasa sama Shella. Di saat yang bersamaan, kurva Shella bertahan di tempat, di garis awal, tidak bergerak.
Chanyeol berniat untuk menjemput Shella, membimbingnya bersama-sama keatas sehingga dia memutuskan untuk turun kembali. Shella mulai melihat dia, Shella merasakan ada yang menjemputnya, dan perlahan mulai naik, namun pertemuan garis mereka tidaklah lebih dari satu detik karna kemudian Chanyeol turunnya telah keterusan, lebih turun lagi, hingga garisnya mencapai angka negatif.
KAMU SEDANG MEMBACA
Endline #PCY
FanfictionChanyeol dan Shella sebelumnya tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Mereka hanya dipaksa untuk tinggal serumah, bertatap muka setiap hari, dan memberikan keturunan. Dan keduanya tidak sanggup untuk menjalani itu seumur hidup. Sehingga pada suat...
