Chanyeol dan Shella sebelumnya tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Mereka hanya dipaksa untuk tinggal serumah, bertatap muka setiap hari, dan memberikan keturunan. Dan keduanya tidak sanggup untuk menjalani itu seumur hidup.
Sehingga pada suat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Barusan Faris nelpon Shella yang masih di kantor, tapi berhubung Hp Shella masih didalam tas dan gak Shella angkat-angkat, Faris justru menelpon Priska untuk menghubungkannya dengan Shella.
"Bu, maaf." Priska mengagetkan Shella yang sedang berdiri menatap jendela dan memegang gelas teh untuk menyamarkan diri bahwa sebenarnya dia sedang melamun. "Ada telpon dari Pak Faris, Bu" Priska menyerahkan Hpnya untuk Shella.
Shella mengernyit kemudian menyuruh Priska pergi, "Bilang nanti saya telpon."
Saat Priska sudah tak tampak diruangan, Shella menyambar tas dan mengambil Hpnya. Belum lagi Faris mengucapkan kata halo, Shella sudah langsung berkata, "Dapat nomor Priska dari mana?"
"Kan kamu gak angkat telpon, Shel. Makanya-"
"Yang aku tanya kakak dapat nomor Priska dari mana? Bukan alasan Priska ngasih Hpnya ke aku."
Belakangan ini, setelah pertemuan terakhir dengan Chanyeol, Shella menjadi tak karuan. Hubungannya dengan Faris pun seakan-akan.. Apa ya bahasa yang tepat? Yang jelas, dia jadi mempertanyakan semua sikap Faris, dan curiga berlebihan kepada Faris.
"Shel, ini pertama kalinya kan aku telpon kamu lewat Priska?" Faris, untungnya dengan sabar menjelaskan.
Shella mengangguk walaupun tak terlihat di telepon.
"Aku barusan telepon nomor kantormu, Shel. Minta dihubungin sama sekertarisnya bu Shella, terus karna telepon di kantor kamu gak bisa langsung dihubungin ke telepon di ruangan kamu, jadinya aku minta Priska buat telepon nomor aku. Coba liat deh nanti riwayat teleponnya."
Shella yang awalnya nampak kesal kemudian menjadi rileks. "Oh gitu."
"Kenapa sih, Shel? Lagi krisis kepercayaan ya sama aku?" Faris terkekeh. "Wajar sih kamu jadi posesif, akunya diperebutkan banyak wanita gini."
Candaan Faris membuat Shella memutar bola matanya. "Ih, apaan sih. Males. Kenapa nelpon-nelpon?"
"Justru aku yang pengen tanya Ibu Shella, Handphonenya dikemanakan sampe gak diangkat telponnya?"
"Ke mute tadi, terus didalem tas. Maaf."
"Alright then, its okay. Ngomong-ngomong, PMS nya masih berlanjut nih? Udah hari keberapa ya ini, ke 8 kayaknya, deh."
"Enggak lagi PMS, udah ah kak jangan dihitung-hitung gitu dong."
"Gimana gak ngitung kalau ini udah hari ke 8 gak ketemu kamu? Ke rumah kamu tiap hari tapi gak ketemu kamu di rumah atau dimanapun tuh, rasanya ngupas kulit salak banyak tapi gak dibolehin makan salaknya."
Shella memainkan jari-jarinya di atas meja dengan perasaan bersalah. "Sorry, sorry..."
"Masih gak mau cerita ya, Shel?" tanya Faris. "Udah 8 hari loh kamu gak bolehin kita ketemuan. Kalau aku ada salah, aku bener-bener pengen tau salah aku apa, Shel."